Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Aktivitas Wanita Dalam Masa Iddah Di Media Sosial Ditinjau Dari Kompilasi Hukum Islam Pasal 170 Dan Perspektif Maqāṣid Syarīʿah Fadil; Ahmad Zuhri Rangkuti
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.5476

Abstract

Penelitian ini mengkaji aktivitas wanita dalam masa iddah di media sosial ditinjau dari Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 170 dan perspektif Maqāṣid Syarīah, dengan fokus pada lima maqāṣid pokok: ḥifẓ al-dīn, ḥifẓ al-nafs, ḥifẓ al-aql, ḥifẓ al-nasl, dan ḥifẓ al-māl. Penelitian ini menggunakan metode library research (studi kepustakaan) dengan pendekatan yuridis-normatif, yang mengkaji dan menganalisis sumber-sumber primer berupa nash Al-Qur'an, hadis Nabi, kitab-kitab fikih klasik, peraturan perundang-undangan Indonesia, serta sumber-sumber sekunder berupa jurnal ilmiah, buku, dan fatwa ulama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KHI Pasal 170 menetapkan kewajiban masa berkabung bagi janda yang ditinggal mati suaminya dengan dua tujuan utama: penghormatan kepada almarhum dan kepastian nasab. Selain ketentuan pokok tersebut, wanita dalam masa iddah juga terikat pada pembatasan-pembatasan syariat yang bersifat komprehensif, meliputi larangan menikah, larangan menerima khitbah, larangan meninggalkan rumah kecuali karena dharurat, kewajiban ihdad (berkabung) yang mencakup larangan berhias, memakai wewangian, dan mengenakan pakaian mencolok. Dari perspektif Maqāṣid Syarīah, aktivitas media sosial yang bersifat tabarruj (berhias berlebihan secara digital), mencari perhatian lawan jenis, menggunakan aplikasi perjodohan, atau menampilkan konten yang tidak mencerminkan kondisi berkabung. Penelitian ini menyimpulkan perlunya panduan komprehensif tentang iddah digital yang mengintegrasikan ketentuan normatif syariat dengan tantangan era media sosial.
Desakralisasi Talak dalam Masyarakat Muslim Indonesia: Analisis Maqashid al-Sharī‘ah terhadap Praktik Talak Bercanda Windi Anastasya Siregar; Ahmad Zuhri Rangkuti
TAQNIN: Jurnal Syariah dan Hukum Vol 8, No 01 (2026): Januari-Juni 2026
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/taqnin.v8i01.29012

Abstract

Abstract: This study examines the phenomenon of the desacralization of ṭalāq in Indonesian Muslim society through a maqāṣid al-sharī‘ah perspective, focusing on the practice of joking divorce in Puji Mulyo Village, Sunggal District, Deli Serdang Regency, North Sumatra. In Islamic law, ṭalāq constitutes a sacred legal instrument and serves as an ultimum remedium in resolving marital conflicts. However, contemporary social practices demonstrate that ṭalāq is frequently used as a joke, emotional threat, or ordinary expression in domestic interactions, resulting in a gradual shift from a sacred legal act to a profane verbal expression. This research employs an empirical legal research method with a qualitative approach and thematic analysis. Data were collected through interviews, observation, and documentation involving ten household cases in which ṭalāq was used beyond its normative legal function. The findings reveal six stages of ṭalāq desacralization: ṭalāq as a joke, ṭalāq as an instrument of emotional pressure, repeated ṭalāq without legal awareness, ṭalāq as a relational language, the banality of ṭalāq in marital conflicts, and total desacralization. These stages indicate a gradual transformation of ṭalāq from a sacred legal institution into an ordinary verbal practice detached from its normative and ethical foundations. From the perspective of maqāṣid al-sharī‘ah, such practices undermine the protection of lineage (ḥifẓ al-nasl), human dignity (ḥifẓ al-‘irḍ), and legal and intellectual awareness (ḥifẓ al-‘aql). This study contributes to Islamic family law scholarship by proposing a conceptual model of the stages of ṭalāq desacralization and emphasizing the need to reconstruct the sacred understanding of divorce through legal literacy, family education, and a maqāṣid-oriented approach to family law. Keywords: Ṭalāq Desacralization; Joking Divorce; Islamic Family Law; Maqāṣid al-Sharī‘ah; Legal Culture.