Eva Yunitasari
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Baitul Hikmah

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Efektivitas teknik relaksasi progresif terhadap nyeri luka episiotomi pada ibu post partum Fatimah Wahab Aliun; Eva Yunitasari; Feni Elda Fitri
THE JOURNAL OF Mother and Child Health  Concerns Vol. 4 No. 1 (2024): June Edition 2024
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mchc.v4i1.456

Abstract

Background: Every woman experiences different levels of postpartum pain, with different pain thresholds. The results of an episiotomy, which is performed to prevent spontaneous perineal tears and accelerate labor, can cause postpartum pain. Purpose: To determine how progressive relaxation techniques affect maternal pain after an episiotomy at the Barokah Medika Clinic. Method: This study was conducted experimentally using a pre-experimental research method. The Barokah Medika Clinic received 56 respondents with episiotomy wounds. Total sampling was used, so the sample consisted of 56 people who answered. In this study, the instrument used was the MC Gill observation sheet used to transmit the pain response shown by mothers who experienced episiotomy wounds. Results: Data processing of the analysis test using the Wilcoxone Test, which produced a p value of 0.000 indicating that there was a difference in the pain scale between the pre-test and post-test. Conclusion: The progressive relaxation method successfully reduced pain levels and had a positive impact on multidimensional quality of life, including increased sleep quantity and quality, reduced physical restlessness, the mother's ability to be more independent in activities, social relationships, and sexual life in accordance with the postpartum phase.   Keywords: Episiotomy Pain; Post Partum; Progressive Relaxation.   Pendahuluan: Setiap wanita mengalami nyeri pasca persalinan yang berbeda tingkatnya, dengan rentang ambang nyeri yang berbeda. Hasil dari episiotomi, yang dilakukan untuk mencegah robekan spontan perineum dan mempercepat kelahiran, dapat menyebabkan nyeri postpartum. Tujuan: Untuk mengetahui bagaimana teknik relaksasi progresif berdampak pada nyeri ibu pasca episiotomi di Klinik Barokah Medika. Metode: Penelitian ini dilakukan secara eksperimental menggunakan metode penelitian pre-eksperimenal. Klinik Barokah Medika menerima 56 responden dengan luka episiotomi. Sampling total digunakan, jadi sampelnya terdiri dari 56 orang yang menjawab. Dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan menggunakan lembar observasi MC Gill digunakan untuk mengevaluasi respons nyeri yang ditunjukkan oleh ibu yang mengalami luka episiotomi. Hasil: Pengolahan data uji analisis menggunakan Uji Wilcoxone, yang menghasilkan nilai p 0.000 menunjukkan bahwa ada perbedaan dalam skala nyeri antara tes sebelum dan setelah tes. Simpulan: Metode relakasi progresif berhasil mengurangi tingkat nyeri dan berdampak positif pada kualitas hidup muldimensi, yang mencakup peningkatan kuantitas dan kualitas tidur, pengurangan pembatasan fisik, kemampuan ibu untuk lebih mandiri dalam aktivitas, hubungan sosial, dan kehidupan seksual yang sesuai dengan fase masa nifas.   Kata Kunci: Episiotomy Pain; Post Partum; Progressive Relaxation.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan penyembuhan luka post sectio caesarea Eva Yunitasari; Feni Elda Fitri
THE JOURNAL OF Mother and Child Health  Concerns Vol. 4 No. 1 (2024): June Edition 2024
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mchc.v4i1.460

Abstract

Background:  Post-cesarean section patients usually require hospitalization for around 3-5 days after surgery. Complications after surgery can also prolong the length of treatment and recovery in the hospital and one of the factors in the wound healing process in post-cesarean section patients can be influenced by nutrition, mobilization and personal hygiene. Purpose: To determine the factors related to the wound healing process in post-cesarean section patients at Bhayangkara Hospital Bandarlampung. Method: This type of research is quantitative with a cross-sectional design. The population in this study were post-cesarean section patients at Bhayangkara Hospital Bandarlampung, with an average of 62 mothers per month. The number of samples taken was fifty people. The chi-square test was used to test the bivariate. Results: Of the three factors that influence wound healing after CS at Bhayangkara Hospital Bandarlampung, these three factors have the greatest influence on wound healing. Nutrition has a significant correlation (p=0.018), mobility has a significant correlation (p=0.000), and personal hygiene has a significant correlation (p=0.000). Conclusion: There is a significant relationship between nutritional factors, mobilization, and personal hygiene with wound healing.   Keywords: Mobilization; Nutrition; Post Sectio Caesarea wound healing; Personal Hygiene.   Pendahuluan: Pasien post sectio caesarea biasanya membutuhkan waktu rawat inap sekitar 3-5 hari setelah operasi. Komplikasi setelah tindakan pembedahan, juga dapat memperpanjang lama perawatan dan pemulihan dirumah sakit dan salah satu faktor proses penyembuhan luka pada pasien post sectio caesarea dapat dipengaruhi oleh nutrisi, mobilisasi dan personal hygiene. Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan proses penyembuhan luka pada pasien post sectio caesarea di Rumah Sakit Bhayangkara Bandarlampung. Metode: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan dengan rancangan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien post Sectio Caesarea di Rumah Sakit Bhayangkara Bandarlampung terhitung dengan rata-rata perbulan 62 ibu. Jumlah sampel yang diambil adalah lima puluh orang. Uji chi square digunakan untuk menguji bivariat. Hasil: Dari tiga faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka setelah SC di Rumah Sakit Bhayangkara Bandarlampung, ketiga faktor tersebut paling banyak mempengaruhi penyembuhan luka. Nutrisi memiliki korelasi signifikan (p=0.018), mobilitas memiliki korelasi signifikan (p=0.000), dan kebersihan pribadi memiliki korelasi signifikan (p=0.000). Simpulan: Ada hubungan yang bermakna antara faktor nutrisi, mobilisasi, dan personal hygine dengan penyembuhan luka.   Kata Kunci: Mobilisasi; Nutrisi; Penyembuhan luka Post Sectio Caesarea; Personal Hygiene.
PENGARUH BUDAYA ORGANISASI DAN KOMPENSASI JASA PELAYANAN TERHADAP KINERJA PEGAWAI Cik Wanto; Doni Ramandoko; Eva Yunitasari
Damsi Health of Jurnal Vol. 2 No. 1 (2025): Jurnal Inovasi dan Pengembangan Ilmu Kesehatan (Desember 2025)
Publisher : LPPM STIKEs Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66048/g2pnyk51

Abstract

Kinerja merupakan performance atau unjuk kerja dan dapat diartikan pula sebagai prestasi kerja atau pelaksanaan kerja atau hasil unjuk kerja. Suatu perusahaan atau organisasi perlu membentuk kultur atau budaya yang mampu menjadi identitas organisasi serta acuan dalam bertindak dan berperilaku. Budaya organisasi yang benar-benar dikelola sebagai alat manajemen akan berpengaruh dan menjadi pendorong bagi karyawan untuk berperilaku positif, dedikatif, dan produktif. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan rancangan survey cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pegawai yang bekerja pada Unit Pelaksana Teknis Puskesmas Gadingrejo di Kabupaten Pringsewu yang berjumlah 47 orang. Pengambilan sampel dengan menggunakan teknik total populasi. Berdasarkan hasil penelitian ini, secara simultan budaya organisasi (X1) dan kompensasi jasa pelayanan (X2) berpengaruh terhadap kinerja pegawai pada unit pelaksana teknis daerah Puskesmas Gadingrejo (Y). Kepala dinas kesehatan Kabupaten Pringsewu disarankan untuk memperbaiki budaya organisasi dan kompensasi jasa pelayanan pada unit pelaksana teknis puskesmas yang ada di Kabupaten Pringsewu agar dapat meningkatkan kinerja pegawai puskesmas. Sementara itu, kepala puskesmas Gadingrejo disarankan untuk memperbaiki dan meningkatkan budaya organisasi agar dapat meningkatkan kinerja pegawai di lingkungan unit pelaksana teknis puskesmas yang ada di Kabupaten Pringsewu.
HUBUNGAN PENGETAHUAN MENOPAUSE DENGAN KEMAMPUAN PEREMPUAN PREMENOPAUSE DALAM MENGATASI PERUBAHAN FISIK, PSIKOLOGI DAN SEKSUAL Siti Khoiriyah; Eva Yunitasari; Anggi Kusuma; Riska Hediya
Damsi Health of Jurnal Vol. 2 No. 2 (2026): Jurnal Inovasi dan Pengembangan Ilmu Kesehatan
Publisher : LPPM STIKEs Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66048/f7mst707

Abstract

Menurut World Health Organization (WHO) jumlah wanita yang memasuki usia klimakterium di perkirakan meningkat satu miliar di tahun 2030 proporsi di asia peningkatan dari 107 juta menjadi 373 juta di tahun 2025. Bedasarkan hasil prasuervey yang dilakukan pada tanggal 28 September 2021, dimana dari 8 orang 3 diantaranya mengatakan mampu mengatasi perubahan fisik, psikologi dan seksual dan 5 orang mengatakan tidak mampu mengatasi perubahan fisik, psikologi dan seksual. Tujuan penelitian ini adalah Diketahui Hubungan Pengetahuan Menopause Dengan Kemampuan Perempuan Premenopause Dalam Mengatasi Perubahan Fisik, Psikologi Dan Seksual Didesa Tambha Rejo Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo.Jenis penelitian kuantitatif menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Dengan teknik pengambilan sampel accidental sampling. Sejumlah sampel 76 responden dengan menggunakan uji statistik gamma. Hasil penelitian diketahui bahwa dari 76 responden ibu memiliki pengetahuan kurang dengan kemampuan mengatasi masalah fisik, psikologi dan seksual baik sebesar 13 orang (59,1%), ibu yang memiliki pengetahuan cukup dengan kemampuan mengatasi masalah fisik, psikologi dan seksual baik sebesar 13 orang (86,7%) dan ibu yang memiliki pengetahuan baik dengan kemampuan mengatasi masalh fisik, psikologi dan seksual baik sebesar 36 orang (92,3%). Dengan nilai p value =0,005. Sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan menopause dengan kemampuan perempuan premenopause dalam mengatasi perubahan fisik, psikologi dan seksual diperoleh nilai p value =0,005 (<0,05). Diharapkan untuk petugas kesehatan dapat mengupdate ilmu pengetahuan kepada kader puskesmas, terutama dalam hal kesehatan perempuan, dengan cara membentuk kelompok kader kesehatan perempuan serta memberikan penyuluhan/informasi yang berfokus pada permasalahan-permasalahan usia klimakterium.
HUBUNGAN PENGETAHUAN MENOPAUSE DENGAN KEMAMPUAN PEREMPUAN PRE-MENOPAUSE DALAM MENGATASI PERUBAHAN FISIK Eva Yunitasari; Feni Elda Fitri; Sri Suharti; Nova Riana
Jurnal Ilmiah Keperawatan Indonesia (JIKI) Vol. 8 No. 2 (2026): Jurnal Ilmiah Keperawatan Indonesia
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/jiki.v8i2.14867

Abstract

Menopause is a condition in which the menstrual cycle stops completely. The diagnosis of menopause is generally given to women between the ages of 45 to 55 after their periods have not appeared for about a year. When a woman does not experience menstrual bleeding for twelve consecutive months, this is known as natural menopause. This study aims to explore the relationship between menopause knowledge and pre- menopausal women's ability to cope with physical changes in Way Gelam Village. The methodology used in this study was a quantitative approach with a cross sectional research design with a sample size of 86 respondents. The population in this study consisted of mothers who were at climacterium age. The results of the study showed a p value of 0.0025 (0.05), which indicated a relationship between menopausal knowledge and the ability of pre-menopausal women in Way Gelam Village. This study is expected to provide insight to mothers who are at the age of climacterium, so that they can learn more about how to deal with the physical changes that occur during menopause.
Akses Informasi dan Pengetahuan Stunting pada Remaja Putri Eva Yunitasari; Feni Elda Fitri; Dayana Noprida
JURNAL WACANA KESEHATAN Vol 11, No 1 (2026): Juli
Publisher : Universitas Dharma Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52822/jwk.v11i1.938

Abstract

Stunting is a growth and development disorder in children caused by chronic malnutrition and repeated infections, characterized by height below the age standard (height-for-age < -2 SD). In efforts to prevent stunting, adolescent girls need special attention because they are future mothers who will play a role in giving birth to the next generation. The purpose of this study is to determine the relationship between information exposure and knowledge of stunting among adolescent girls. This research is a quantitative study with a cross-sectional design conducted at SMA Negeri 2 Kalianda with a population of 1,521 female students. The sampling technique used was purposive sampling, resulting in 510 respondents. Data analysis was conducted univariately to describe the frequency distribution of each variable, and bivariately using the chi-square test. Out of a total of 510 respondents, in the group that had not been exposed to stunting information, there were 12 respondents (60%) with poor knowledge, while in the group that had been exposed, there were 8 respondents (40%). In the adequate knowledge category, 120 respondents (63.5%) had not been exposed to information and 69 respondents (36.5%) had been exposed. Meanwhile, in the good knowledge category, 124 respondents (41.2%) had not been exposed to information and 177 respondents (58.8%) had been exposed. The results of the chi-square test showed a p-value of 0.001 (p<0.05), indicating a significant relationship between exposure to stunting information and the respondents' level of knowledge. It is recommended that schools and healthcare workers enhance the dissemination of information and education about stunting thru engaging and sustainable media to improve the knowledge of adolescent girls.