Ichwansyah Tampubolon
UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Menimbang Maslahah dan Mudharat Fenomena Childfree di Era Modern (Analisis Maqashid Syari’ah) Kholidah Kholidah; Ichwansyah Tampubolon
Jurnal EL-QANUNIY: Jurnal Ilmu-Ilmu Kesyariahan dan Pranata Sosial Vol 12, No 1 (2026)
Publisher : Syekh Ali Hasan Ahmad Addary State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/el-qanuniy.v12i1.19595

Abstract

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap masyarakat Indonesia terhadap fenomena childfree beragam, yaitu ada yang berpandangan positif, negatif, maupun netral. Oleh karena itu, artikel ini dianggap penting untuk menjembatani kontroversi tersebut dengan menganalisis manfaat dan kemudaratan childfree menggunakan maqasid al-syariah sebagai alat analisis. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif dengan menggunakan literatur sebagai sumber data. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi, yaitu dengan membaca, menelaah, dan mencatat berbagai sumber yang relevan. Selanjutnya, data dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan maqasid al-syariah sebagai alat analisis untuk mengkaji dan menimbang manfaat serta kemudaratan childfree terhadap kehidupan. Memiliki anak dalam pernikahan bukanlah suatu kewajiban. Namun, keputusan untuk memilih childfree harus didasarkan pada alasan atau ‘illat yang dibenarkan oleh syariat. Apabila alasan yang mendorong seseorang memilih childfree berada pada tingkat daruriyah, maka childfree diperbolehkan atau berstatus mubah menurut syariat. Sebaliknya, apabila alasan memilih childfree hanya berada pada tingkat hajiyah atau tahsiniyah, maka keputusan tersebut tidak dibenarkan dan berstatus makruh tahrim. Hal tersebut disebabkan fenomena childfree juga memiliki dampak negatif terhadap kebutuhan manusia secara umum. Misalnya, mengancam keberlangsungan agama, mengancam keturunan melalui depopulasi, bahkan mengancam jiwa akibat penggunaan kontrasepsi hormonal dalam jangka panjang. Pasangan yang memilih childfree dengan alasan karier, kebebasan, keinginan untuk hidup berdua bersama pasangan, trauma, maupun alasan finansial tidak dapat menjadikan alasan tersebut sebagai pembenaran berdasarkan konsep maqasid al-syariah. Hal ini karena kemudaratan childfree yang didasarkan pada alasan-alasan tersebut dinilai jauh lebih besar daripada manfaat yang diperoleh.
Freedom of Speech and Religious Expression on Social Media Reviewed from the Perspective of Ethics and Islamic Law Ichwansyah Tampubolon; Kholidah Kholidah
Pena Justisia: Media Komunikasi dan Kajian Hukum Vol. 23 No. 2 (2024): Pena Justisia
Publisher : Faculty of Law, Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/pj.v23i2.5333

Abstract

This article aims to describe freedom of speech and religious expression on social media from the perspective of Islamic ethics and law with a normative and descriptive approach. This study is in the form of a literature review using social media accounts, such as Facebook, Youtube, websites, and other references/lliterature as data sources. Theoretically, the state guarantees freedom of speech and religious expression for everyone on social media. However, freedom of speech and expression on social media must still take into account Islamic ethical values and obey the principles of applicable legal provisions. Preachers on social media continue to maintain and respect the right to freedom, both from speech/expression, words chosen, methods, attitudes, and behavior of delivery. This is intended so that the rights of others, freedom, and sanctity of religious symbols are not disturbed so that the welfare of the people in religious life is maintained.