Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Islamic Banking In Malaysia: The Journey So Far Balarabe, Abubakar; Abdullah, Md. Faruk; Gwadabe, Uzairu Muhammad; Muhammad, Auwal Jibril
Adpebi Science Series 2022: 2nd AICMEST 2022
Publisher : ADPEBI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The study aims to review in general the historical context of Islamic banking from the beginning of the Islamic era to the establishment of Islamic banking in Malaysia. The Islamic banking system in Malaysia has gradually developed and succeeded in line with countries such as Dubai, Saudi Arabia, Indonesia, the United Kingdom, and Kuwait, which are countries that should be ahead of Malaysia. This study aims to review the Malaysian history of Islamic banking and finance. The development of Islamic banking in Malaysia successful Islamic banking and finance products and services. Also, the issues and challenges and prospects of Islamic banking. The research methodology is qualitative, and data has been collected from various sources such as libraries, documents, articles, the Internet, books, banking websites, and literature related to the history of Islamic banking. The study shows that Malaysia is among the best places in the world to practice Islamic banking, as it offers universities, institutions, sectors and seats for specialists in Islamic law and Islamic banking. The newspaper revealed that Malaysia is currently the financial technology for Islamic banking and finance. The study's results show that Islamic banking has come a long way toward becoming a profitable and globally competitive alternative to the current banking system.
SHARIAH GOVERNANCE OF CRYPTOCURRENCIES: Risks, Parameters and Regulatory Solutions Balarabe, Abubakar; Abdullah, Md. Faruk; Rahman, Md. Habibur; Daud, Mohd Zaidi
Jurisdictie: Jurnal Hukum dan Syariah Vol 16, No 2 (2025): Jurisdictie
Publisher : Fakultas Syariah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/j.v16i2.35817

Abstract

The introduction of cryptocurrencies into Islamic finance raises critical Shariah issues that require systematic evaluation through the lens of maqāṣid al-sharīʿah, specifically ḥifẓ al-māl (protection of wealth) and darʾ al-mafāsid (prevention of harm). This study conducts an empirical legal analysis by examining how risks and uncertainties prevent cryptocurrencies from functioning as Shariah-compliant money and analyses the conditions or regulations that could enable Shariah-compliant cryptocurrency transactions and develop Shariah parameters. Focusing on the Malaysian context, the study conducts qualitative interviews with 12 experts, including Shariah scholars, regulators, academics, and fintech practitioners. The methodology provides an in-depth examination of this multifaceted topic and seeks to bridge the gap between Shariah, finance, and new technologies. The findings highlight major concerns such as gharar (uncertainty), maysir (speculation), lack of intrinsic value, and potential involvement in unlawful activities. Additional challenges include decentralisation, lack of transparency, weak public awareness, and contradictory fatwas. To address these issues, the study proposes a multi-level framework including Shariah certification, stablecoin development, asset protection mechanisms, risk mitigation tools, and institutional collaboration between regulators, scholars, and fintech developers. These findings contribute to the discourse on adapting new technologies to Islamic finance while providing practical guidance for policy development in Malaysia’s dual financial system. Masuknya mata uang kripto ke dalam sistem keuangan Islam menimbulkan sejumlah persoalan syariah yang krusial dan memerlukan evaluasi sistematis melalui perspektif maqāṣid al-sharīʿah, khususnya ḥifẓ al-māl (perlindungan harta) dan darʾ al-mafāsid (pencegahan kemudaratan). Penelitian ini melakukan analisis hukum empiris dengan mengkaji bagaimana risiko dan ketidakpastian menghambat mata uang kripto untuk berfungsi sebagai alat tukar yang sesuai dengan prinsip syariah, serta menganalisis kondisi atau regulasi yang dapat memungkinkan transaksi mata uang kripto yang patuh syariah sekaligus merumuskan parameter syariah yang relevan. Dengan berfokus pada konteks Malaysia, penelitian ini melaksanakan wawancara kualitatif terhadap 12 orang ahli yang terdiri atas ulama syariah, regulator, akademisi, dan praktisi teknologi finansial (fintech). Metodologi ini memungkinkan kajian yang mendalam terhadap isu yang bersifat multidimensional serta berupaya menjembatani kesenjangan antara prinsip syariah, sistem keuangan, dan perkembangan teknologi baru. Temuan penelitian menyoroti berbagai persoalan utama, seperti gharar (ketidakpastian), maysir (spekulasi), ketiadaan nilai intrinsik, serta potensi keterlibatan dalam aktivitas yang tidak sah menurut hukum. Tantangan tambahan meliputi sifat desentralisasi, kurangnya transparansi, rendahnya tingkat literasi publik, serta adanya fatwa yang saling bertentangan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, penelitian ini mengusulkan suatu kerangka kerja bertingkat yang mencakup sertifikasi syariah, pengembangan stablecoin, mekanisme perlindungan aset, instrumen mitigasi risiko, serta kolaborasi kelembagaan antara regulator, ulama, dan pengembang fintech. Temuan ini berkontribusi pada pengembangan wacana adaptasi teknologi baru dalam keuangan Islam sekaligus memberikan panduan praktis bagi perumusan kebijakan dalam sistem keuangan ganda Malaysia.