Kasnawi Al Hadi
Program Studi Fisika, FMIPA, Universitas Mataram

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Analisis Konsentrasi Particulate Matter (PM1) di Dalam Ruangan Berpendingin Udara Menggunakan Continuous Emission Monitoring (CEM) Arif Budianto; Eca Solehatin; Kasnawi Al Hadi
Lambda: Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA dan Aplikasinya Vol. 5 No. 3 (2025): Lambda : Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA dan Aplikasinya
Publisher : Lembaga Bale Literasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/lambda.v5i3.1855

Abstract

Particulate Matter (PM?) is a micro-sized aerosol particle (
Rancangan Sistem Pengukuran Konsentrasi Emisi Gas Karbon Dioksida Berbasis IoT di Berbagai Area Sumber Emisi Udara Kasnawi Al Hadi; Arif Budianto; Ni Ketut Anggriani
Lambda: Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA dan Aplikasinya Vol. 5 No. 3 (2025): Lambda : Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA dan Aplikasinya
Publisher : Lembaga Bale Literasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/lambda.v5i3.1856

Abstract

This study aims to design an IoT (internet of things)-based CO2 concentration measurement system and to identify environmental parameters that affect it. The measurement system was designed using an MG-811 sensor, internet network, and database as a transmitter station. The measurement system was calibrated to identify static measurement characteristics, such as accuracy, selectivity, measurement range-span, and response time. The system was installed in four emission sources: (a) rice fields that were actively burning agricultural waste; (b) landfills, (c) food courts, and (d) areas around the industry. Each area was connected to the receiver station for seven consecutive days. The calibration process shows good selectivity for CO2 gas, with a response of 1500 ppm). The difference in concentration was influenced by wind direction, air humidity, and emission factors. The results of the study concluded that the concentration measurement system can be developed into an IoT-based air quality monitoring system. CO2 concentration was influenced by environmental parameters, such as air humidity, wind direction, and type of emission source.
Identifikasi Hubungan Antara Konsentrasi Gas Karbon Dioksida Terhadap Persentase Efek Plasebo di Daerah Sumber Emisi Ni Ketut Anggriani; Arif Budianto; Kasnawi Al Hadi; Alfina Taurida Alaydrus
Kappa Journal Vol 8 No 3 (2024): Kappa Journal
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/kpj.v8i3.27851

Abstract

Gas karbon dioksida adalah salah satu jenis emisi udara yang dapat berasal dari berbagai sistem pembakaran. Gas karbon dioksida juga dapat dihasilkan dari hembusan udara sisa pernapasan manusia. Hal yang menarik adalah indikasi hubungan antara perubahan metabolisme tubuh dengan konsentrasi karbon dioksida yang dihembuskan oleh sistem pernapasan manusia. Di sisi lain, terdapat limitasi perkembangan teknologi di bidang pendeteksian konsentrasi gas karbon dioksida di dalam udara pernapasan sebagai biomarker akan keberadaan kondisi psikologi tertentu, seperti pada kasus plasebo (placebo effect). Oleh sebab itu, penelitian ini memiliki tujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara tingkat atau besar konsentrasi emisi udara jenis CO2 dengan persentase kasus plasebo di masyarakat yang berada di daerah emisi. Penelitian dilakukan terhadap 90 sampel nafas di tiga sumber emisi yang berbeda, yakni E1, E2, dan E3. Kondisi plasebo diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yakni PLS(-), PLS(+)P, dan PLS(+)N dengan kondisi psikologi yang berbeda-beda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pengukuran konsentrasi gas karbon dioksida berbasis sensor MG-811 dapat digunakan untuk mengidentifikasi hubungan antara besar konsentrasi emisi terhadap persentase plasebo. Ketiga daerah sumber emisi menghasilkan emisi CO2 dengan konsentrasi yang bervariasi, yaitu berkisar 740 ppm hingga 790 ppm yang jauh lebih tinggi dibandingkan konsentrasi kontrol (< 405 ppm). Sejalan dengan hal ini diperoleh tingkat persentase plasebo yaitu PLS(+)N. Hasil tersebut meyimpulkan bahwa semakin tinggi konsentrasi emisi, maka semakin tinggi persentase kejadian plasebo (PLS(+)N). Semakin rendah tingkat konsentrasi emisi CO2, maka  semakin rendah persentase plasebo di masyarakat yang menjadi sampel.
Pengembangan E-nose Pengukuran Konsentrasi Biomarker Gas Aldehida di Dalam Udara Hembusan Pernapasan Menggunakan Sensor MS-1100 Dewi Alya Nabilla; Ni Ketut Anggriani; Arif Budianto; Kasnawi Al Hadi; Satutik Rahayu
Kappa Journal Vol 8 No 3 (2024): Kappa Journal
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/kpj.v8i3.27853

Abstract

Penderita asma menghembuskan gas sisa pernapasan yang mengandung berbagai macam gas dan senyawa, seperti gas nitrogen, gas karbon dioksida, senyawa aldehida, dan masih banyak lagi. Keberadaan gas dan senyawa dapat dijadikan sebagai biomarker dalam tahap preliminary study terkait teknologi electric nose (e-nose). Di sisi lain, pengembangan teknologi e-nose untuk identifikasi konsentrasi senyawa aldehida pada udara pernapasan secara umum dan pada asma secara khusus belum banyak dilakukan. Sejalan dengan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan teknologi e-nose berbasis sensor MS-1100 guna menganalisis konsentrasi gas senyawa aldehida (formaldehida) yang terkandung di dalam hembusan nafas manusia, secara khusus pada penderita asma dan orang sehat. Penelitian ini menggunakan e-nose berbasis sensor MS-1100. Sensor tersebut dihubungkan dengan sebuah mikrokontroller dan analog to digital converter yang memiliki resolusi sebesar 10 bit pada pin analog. E-nose dikalibrasi menggunakan udara terfilter di dalam chamber dan dikarakterisasi dengan beberapa varian gas (formaldehida, karbon monoksida, hidrogen sulfida, dan etanol). Setelah dikalibrasi, pengujian sampel nafas manusia dilakukan dengan melibatkan sampel 20 penderita asma dan 20 orang sehat. Selanjutnya, dilakukan uji Student’s t-test untuk melihat perbedaan konsentrasi gas antara penderita asma dengan orang sehat. Hasil pengujian menunjukkan bahwa e-nose terkalibrasi dan memiliki selektivitas dan sensitivitas tertinggi pada senyawa aldehida (formaldehida) dengan tingkat 0,96 Volt/ppm formaldehida dibandingkan pendeteksian ketiga gas lainnya. Terdapat perbedaan yang signifikan pada konsentrasi senyawa aldehida antar penderita asma sebesar (1,15-1,30 ppm) dan orang sehat berkisar antara (0,17-0,89 ppm) dengan nilai (p < 0,05). Tingkat akurasi e-nose dalam mendeteksi senyawa aldehida pada hembusan nafas manusia mencapai ~90%. Hasil tersebut menyimpulkan bahwa E-nose berbasis sensor MS-1100 dapat digunakan untuk mengidentifikasi konsentrasi aldehida pada pernapasan penderita asma dengan orang sehat secara akurat. E-nose ini dapat digunakan sebagai analisator biomarker senyawa aldehida non-invasif penderita asma dan orang non-asma.
Pengembangan Kit-PEKAT (Pengukur Konsentrasi Emisi Air-Udara di Area Estuari) Untuk Mengukur Tingkat Konsentrasi Emisi di Daerah Estuari Arif Budianto; Ni Ketut Anggriani; Kasnawi Al Hadi; Alfina Taurida Alaydrus; Mira Andini; Lalu Mokh Reza Anshari
Kappa Journal Vol 9 No 3 (2025): Kappa Journal
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/kpj.v9i3.32897

Abstract

Kualitas udara di sekitaran area muara diindikasikan berhubungan dengan kualitas air muara tersebut. Di sisi lain, pengukuran kedua parameter ini belum banyak dilakukan secara simultan. Sejalan dengan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah sistem pengukuran kualitas air dan udara berbasis IoT melalui desain Kit-PEKAT bagi area estuari atau muara di Kabupaten Lombok Barat, NTB. Proses integrasi pengukuran berbasis sensor analog terkalibrasi, penambahan fitur IoT, dan sistem pemantauan yang ringkas dan real-time menjadikan nilai tambah dari sistem ini. Sistem Kit-PEKAT dirancang menggunakan tiga buah sensor, yakni sensor TDS (DF-Robot), sensor gas CO2 (DF-Robot), dan sensor PM2.5 (Winsen). Sensor tersebut dihubungkan ke sebuah mikrokontroller (AT-Mega2560 dan ESP8266) dan server ThingSpeak. Sistem ini dikalibrasi dan diuji, serta diimplementasikan secara langsung di area muara. Hasil pengukuran dan pengujian menunjukkan bahwa akurasi yang dihasilkan oleh ketiga sensor sebesar 96% hingga 99%, dengan tingkat kesalahan relatif <5%. Pengujian statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pembanding dan alat yang dikembangkan (kit-PEKAT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kit-PEKAT dapat digunakan untuk mengalirkan air dan udara secara konsisten, dengan waktu pengisian dan pengosongan sebesar 14,09±0,15 s. Pengujian kualitas udara dan air di lokasi muara menunjukkan terdapat hubungan linear ekstrim antara konsentrasi TDS dalam air dengan kualitas udara. Semakin besar konsentrasi TDS, maka semakin besar pula konsentrasi CO2 dan PM2.5.