Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Pengetahuan Tenaga Administrasi Rumah Sakit Terhadap Kualitas Pelayanan di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum GMIM Bethesda Tomohon Welong S. Surya; Marieska Y. Waworuntu; Welmin M. E. Lumi; Linnie Pondaag; Audy A. Tulung; Injillie I. J. Lapod
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2610

Abstract

Kualitas pelayanan IGD tidak hanya bergantung pada peralatan dan tenaga medis, tetapi juga pada kemampuan tenaga administrasi dalam mengelola proses administratif. Observasi di RSU GMIM Bethesda Tomohon menunjukkan bahwa pengetahuan administrasi yang memadai sangat penting untuk efisiensi dan efektivitas pelayanan. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor yang memengaruhi kepuasan pasien di RSU GMIM Bethesda Tomohon, dengan metode deskriptif kualitatif melalui wawancara mendalam, yang dilaksanakan dari April sampai dengan Juni 2024. Hasil penelitian diperoleh pelatihan untuk petugas baru di IGD melibatkan pendampingan praktis dari petugas yang lebih berpengalaman, mencakup pengenalan sistem informasi dan pengembangan keterampilan komunikasi. Pelatihan ini membantu mengurangi kurva pembelajaran dan meningkatkan efektivitas kerja. Meskipun proses pendaftaran di IGD berjalan lancar, pasien dan keluarga merasa informasi yang diberikan kurang memadai, terutama dalam situasi darurat, menunjukkan perlunya peningkatan pelatihan komunikasi. Petugas administrasi menunjukkan kemampuan baik dalam manajemen data dan penggunaan komputer. Perspektif manajemen, pengetahuan yang mendalam dan pelatihan formal sangat penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan, dengan evaluasi kinerja yang rutin untuk mengidentifikasi dan memperbaiki masalah. Penekanan pada pendidikan formal dan pelatihan berkelanjutan sangat diperlukan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan di IGD. Kesimpulan penelitin ini ialah pengetahuan dan pelatihan praktis yang melibatkan pendampingan senior sangat penting untuk petugas baru di IGD agar dapat menguasai sistem informasi dan keterampilan komunikasi yang efektif. Meskipun administrasi berjalan lancar, ada kekurangan dalam penyampaian informasi yang memerlukan peningkatan pelatihan komunikasi, terutama dalam situasi darurat. Evaluasi kinerja rutin dan pelatihan berkelanjutan diperlukan untuk memastikan kualitas pelayanan dan efisiensi, dengan penekanan pada pendidikan formal yang relevan bagi petugas administrasi
Optimalisasi Khan Academy Kids sebagai Media Edukasi Bermain untuk Mengurangi Risiko Brainrot Anak TK ‘Karya’ Lahendong Rivolta A. Musak; Grace Irene Viodyta Watung; Finni F. Tumiwa; Marieska Y. Waworuntu; Welong S. Surya
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 7 No. 2 (2026): Edisi Mei - Agustus
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Paparan konten digital non-edukatif dan penggunaan gadget yang berlebihan pada anak usia dini berpotensi meningkatkan risiko brainrot, yaitu penurunan konsentrasi, fungsi kognitif, dan interaksi sosial anak akibat konsumsi konten digital berkualitas rendah secara terus-menerus. Kondisi ini menunjukkan pentingnya penguatan digital parenting bagi orang tua dalam mendampingi penggunaan media digital anak. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan literasi digital dan keterampilan orang tua dalam memanfaatkan aplikasi Khan Academy Kids sebagai media edukasi bermain untuk mengurangi risiko brainrot pada anak usia dini di TK Karya Lahendong. Metode kegiatan dilakukan melalui edukasi, sosialisasi, demonstrasi, praktik langsung, dan pendampingan penggunaan aplikasi kepada orang tua siswa. Kegiatan dilaksanakan pada Jumat, 08 Mei 2026 pukul 08.00–12.00 WITA dengan melibatkan orang tua siswa sebagai peserta utama. Hasil kegiatan menunjukkan sebanyak 88% peserta mampu menginstal dan menggunakan aplikasi secara mandiri, sedangkan 92% peserta menyatakan lebih memahami pentingnya pembatasan screen time setelah kegiatan berlangsung. Dengan demikian, penggunaan aplikasi edukatif berbasis bermain dapat menjadi alternatif positif dalam mendukung perkembangan belajar anak sekaligus mengurangi risiko brainrot pada anak usia dini.