Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Perbandingan Hasil Pemeriksaan Gula Darah Puasa Pada Serum dan Plasma Natrium Fluorida Yang Segera Diperiksa Dan Dilakukan Penundaan 6 Jam Selina Fathriska Ramadani; Previta Zeizar Rahmawati
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 1 (2025): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i1.10309

Abstract

Pemeriksaan gula darah puasa merupakan pemeriksaan laboratorium yang bertujuan untuk menunjang diagnosa penyakit diabetes mellitus. Pada pemeriksaan glukosa umumnya digunakan spesimen berupa serum dan plasma NaF. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar glukosa puasa pada sampel serum dan plasma natrium fluorida yang segera diperiksa dan yang ditunda 6 jam. Penundaan pemeriksaan dapat terjadi karena berbagai faktor, seperti terhambatnya pengiriman sampel, terjadinya kerusakan pada alat, dan kurangnya tenaga yang bertugas. Jenis penelitian yakni pra-eksperimen dengan teknik kuota sampling. Sampel penelitian berupa serum dan plasma dari 12 responden. Uji statistik yang digunakan yaitu uji normalitas Saphiro Wilk dan uji Wilcoxon. Hasil uji normalitas pada serum dan plasma yang segera dan ditunda, seluruhnya tidak terdistribusi normal. Hasil rata-rata kadar glukosa serum yang segera diperiksa yakni 188,25 mg/dl dan yang ditunda 6 jam 174,75 mg/dl. Rata-rata kadar glukosa plasma yang segera diperiksa 190,66 mg/dl dan yang ditunda 6 jam 179,41. Pada uji Wilcoxon antara serum segera dan ditunda terdapat perbedaan α < 0,05. Hasil uji Wilcoxon pada plasma yang segera dan ditunda juga terdapat perbedaan α < 0,05. Pada kelompok serum yang segera dan ditunda, didapati selisih rerata 13,5 mg/dl (7%). Pada kelompok plasma yang segera dan ditunda, didapati selisih rerata 11,25 mg/dl (6%).
Gambaran Kadar Enzim Cholinesterase Dalam Darah Petani Bawang Merah Pengguna Organofosfat Di Desa Sumberbulu-Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo. Chotimah Chusnul; Previta Zeizar Rahmawati; Erni Yohani Mahtuti
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 1 (2025): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i1.10601

Abstract

Organofosfat merupakan golongan pestisida yang biasa digunakan dalam aktivitas pertanian. Pestisida ini diketahui memiliki pengaruh toksik terhadap sistem saraf melalui penghambatan enzim cholinesterase. Bahaya paparan organofosfat menyebabkan keracunan dengan gejala mual, muntah, sakit kepala, kejang-kejang, bahkan kematian. Sehingga keracunan organofosfat dapat dinilai dengan kadar enzim cholinesetrase dalam darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar enzim cholineterase pada petani bawang merah di Desa Sumberbulu Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan 17 serum darah dari 24 petani bawang merah yang dipilih secara purposive sampling . Aktivitas enzim cholinesetrase diukur dengan instrumen fotometer biolyzer 100 menggunakan sampel serum darah dan menunjukkan hasil 2 (11,8%) dari 17 (100%) serum darah mengalami penurunan enzim cholinesetrase sedangkan 15 (88,2%) lainnya normal. Hasil analisis statistik hubungan parameter usia (p=0,016) dan kelengkapan APD (p=0,032) menunjukan hubungan signifikan terhadap cholinesetrase. Sedangkan parameter masa kerja (p=0,517) , lama penyemprotan (p=0,233), dan posisi penyemprotan (p=0,668) diketahui tidak memiliki hubungan terhadap penurunan kadar enzim cholinesetrase. Berdasarkan hasil penelitian diketahui penurunan enzim cholinesetrase terjadi pada petani yang memiliki usia 46-60 tahun dengan penggunaan APD tidak lengkap. Sehingga parameter usia dan APD diketahui memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian penurunan kadar enzim cholinesetrase.
The Description Of Sgot and Sgpt Levels In Hepatitis B Patients at Karsa Husada Hospital Batu Malang Dhini Larasati; Previta Zeizar Rahmawati
PROFESSIONAL HEALTH JOURNAL Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (PPPM) STIKES Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54832/phj.v8i1.1325

Abstract

Background: Hepatitis B is a liver infection caused by the hepatitis B virus that can lead to hepatocellular damage. Liver enzyme tests, namely Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT) and Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT), are used as important indicators in assessing the degree of liver damage. Objective: This study aimed to describe the levels of SGOT and SGPT in hepatitis B patients at Karsa Husada Hospital, Batu Malang, during the period of January–December 2024. Methods: This research employed a quantitative descriptive method using secondary data from medical records of 39 patients. Data analysis was conducted using univariate and bivariate approaches. Results: The results showed that elevated SGOT levels were found in 35 patients (89.7%), while normal levels were observed in 4 patients (10.3%). Elevated SGPT levels were observed in 27 patients (69.2%), while 12 patients (30.8%) had normal levels. Based on sex, elevated SGOT levels were more prevalent in males (23 patients, 95.8%) compared to females (12 patients, 80.0%), while elevated SGPT levels were also dominant in males (20 patients, 83.3%) compared to females (7 patients, 46.7%). Based on age groups, the highest elevated SGOT levels were found in adults (22 patients, 91.7%), followed by adolescents (7 patients, 87.5%) and elderly (6 patients, 85.7%). Correlation test results showed a coefficient value of r = 0.380 with p = 0.017 (p < 0.05). Conclusion: These findings indicate that the majority of hepatitis B patients experienced elevated SGOT and SGPT levels, with predominance among adult males, and there was a significant correlation between the two liver enzymes.