p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Borneo Nursing Journal
Dwi Agustian Faruk Ibrahim
STIKES Eka Harap

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Self Efficacy Dengan Interaksi Sosial Teman Sebaya Pada Perilaku Merokok Remaja Di SMAS Nusantara Palangka Raya Agustin Saputra; Dwi Agustian Faruk Ibrahim; Wenna Araya
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.187

Abstract

Perilaku merokok pada remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah tekanan teman sebaya dan tingkat self-efficacy yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-efficacy dan interaksi sosial teman sebaya terhadap perilaku merokok remaja di SMAS Nusantara Palangka Raya. Desain penelitian yang digunakan adalah korelasional dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 31 responden yang dipilih secara purposive. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner untuk mengukur self-efficacy dan interaksi sosial teman sebaya. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang sangat lemah antara self-efficacy dan interaksi sosial teman sebaya terhadap perilaku merokok, dengan koefisien korelasi -0,179 dan nilai signifikansi 0,335 (p > 0,05), yang berarti tidak ada hubungan signifikan antara kedua variabel tersebut. Temuan ini mengindikasikan bahwa self-efficacy yang tinggi tidak selalu cukup untuk melawan pengaruh lingkungan sosial yang kuat. Oleh karena itu, penting bagi pihak sekolah untuk memperhatikan dinamika sosial siswa, baik di dalam maupun di luar sekolah, sebagai bagian dari upaya pencegahan perilaku merokok pada remaja.
Analisis Faktor Individu Yang Mempengaruhi Kejadian Infeksi Saluran Nafas Pada Balita Di UPTD Puskesmas Menteng Palangka Raya Friski Pratama; Dwi Agustian Faruk Ibrahim; Wenna Araya
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.235

Abstract

Latar belakang: Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyakit yang umum terjadi pada balita dan menjadi salah satu penyebab utama angka kesakitan dan kematian anak di Indonesia. Faktor individu seperti status gizi, status imunisasi, dan berat badan lahir diduga berkontribusi terhadap kejadian ISPA. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor individu yang memengaruhi kejadian ISPA pada balita. Tujuan: ini adalah untuk mengetahui pengaruh faktor individu yang terdiri dari status gizi, status imunisasi, dan berat badan lahir terhadap kejadian ISPA pada balita di UPTD Puskesmas Menteng Palangka Raya. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 77 responden ibu yang memiliki balita, yang diambil menggunakan teknik total sampling. Instrumen berupa kuesioner dan analisis data dilakukan dengan uji regresi linier berganda. Hasil: Sebagian besar balita mengalami ISPA sebanyak dua kali dalam enam bulan terakhir. Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel status gizi, status imunisasi, dan berat badan lahir tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kejadian ISPA. Hal ini ditunjukkan oleh nilai signifikansi masing-masing variabel yang lebih besar dari 0,05, yaitu status gizi sebesar 0,429 > 0,05, status imunisasi sebesar 0,402 > 0,05, dan berat badan lahir (BBL) sebesar 0,491 > 0,05. Meskipun demikian, secara deskriptif terlihat bahwa balita dengan status gizi buruk, imunisasi yang tidak lengkap, serta berat badan lahir rendah cenderung lebih rentan mengalami ISPA. Kesimpulan: Meskipun tidak signifikan secara statistik, faktor-faktor individu tetap memiliki peran dalam kejadian ISPA pada balita. Diperlukan upaya pencegahan berbasis rumah tangga dan intervensi promotif oleh tenaga kesehatan untuk menurunkan risiko ISPA.