Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kemampuan dan hambatan dalam menerapkan kurikulum merdeka pada pembelajaran IPA di SMPN Banyudono. Pendekatan penelitian ini campuran atau kombinasi dengan model kombinasi strategi tertanam bersamaan. Teknik pengumpulan data kualitatif yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik pengumpulan data kuantitatif yaitu angket. Teknik analisis data kualitatif menggunakan model Miles dan Huberman. Teknik analisis data kuantitaif menggunakan statistik deskriptif, kemudian dibandingkan untuk membuat kesimpulan data yang diperoleh. Hasil penelitian disimpulkan bahwa Guru IPA kelas VII di SMP Negeri Banyudono telah menerapkan pembelajaran IPA berbasis kurikulum merdeka. Guru telah melaksanakan asemen diagnostik, tetapi hasil yang diperoleh belum sepenuhnya digunakan untuk mengelompokkan peserta didik berdasarakan kompetensi dan karakter, sehingga program tindak lanjut yang diberikan belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan setiap individu peserta didik. Pada tahap perencanaan, guru membuat modul ajar secara mandiri atau menggunakan modul ajar yang telah tersedia, kemudian dimodifikai sesuai dengan kondisi sekolah. Komponen minimum yang harus tercantum dalam modul terbuka belum sepenuhnya tercantum berdasarkan buku panduan pembelajaran dan asesmen. Pada tahap pembelajaran, guru telah melaksanakan kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup secara runtut serta melakukan asesmen formatif dan sumatif, namun masih terdapat komponen pada tahapan tersebut yang belum tersampaikan. Pada pembelajaran berdiferensiasi, guru belum melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi.The objective of this study was to describe the implementation and obstacles of independent curriculum in science learning at Banyudono Middle School. This research used mixed method with the concurrent embedded strategy combination model. The qualitative data collection techniques used observation, interviews, and documentation. The quantitative data collection techniques used questionnaire. The qualitative data analysis used Miles and Huberman model. The quantitative data analysis used descriptive statistics, are then compared to make conclusions. The results of the study showed that grade VII science teachers at Banyudono State Middle School implemented the independent curriculum. The teacher has done a diagnostic assessment, but the results obtained have not been fully used to gradeify students based on competence and character so the follow-up programs provided are not fully to the needs of student. At the planning, the teacher makes teaching modules independently or uses available teaching modules, then modifies them according to school conditions. The minimum components that have included in the teaching module have not been fully listed based on the learning guidebook and assessment. At the learning stage, the teacher has done the preliminary, core, and closing activities in a coherent manner with formative and summative assessments, but there are still components at these stages that have not been conveyed. In differentiated learning, the teacher have not implemented differentiation learning. The obstacles happened in diagnostic assessment, differentiation learning, and projects to strengthen Pancasila student’s projects.