Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERSEPSI GURU TERHADAP PENGGUNAAN MEDIA DIGITAL DALAM KURIKULUM MERDEKA Subhan Widiansyah; Siti Rahmah Indriyani; Safhira Azzahra; Rafi Putra Hartono; Lailatu Ro’ihah; Intan Nuraini
Sindoro: Cendikia Pendidikan Vol. 9 No. 12 (2024): Sindoro Cendikia Pendidikan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9644/sindoro.v9i12.8789

Abstract

Pendidikan di Indonesia telah mengalami perkembangan yang signifikan sejak kemerdekaan, dengan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan mengatasi ketidaksetaraan akses. Setelah era kolonial, pemerintah Indonesia fokus pada pemerataan pendidikan untuk seluruh lapisan masyarakat, meskipun masih terdapat kesenjangan, terutama antara daerah perkotaan dan pedesaan. Di era modern, pendidikan di Indonesia mengalami transformasi melalui kebijakan seperti Kurikulum Merdeka, yang menekankan fleksibilitas dan relevansi pembelajaran dengan kebutuhan global serta keberagaman budaya. Teknologi digital berperan penting dalam memperluas akses pendidikan, namun tantangan berupa kurangnya infrastruktur dan literasi digital di daerah terpencil masih harus diatasi. Pendidikan berbasis digital membuka peluang bagi guru dan siswa untuk mengakses berbagai sumber belajar, namun membutuhkan kesiapan dari guru dalam mengadaptasi metode pembelajaran baru. Kurikulum Merdeka, yang mengintegrasikan pembelajaran berbasis proyek dan penguatan nilai Pancasila, harus didukung dengan penguasaan teknologi oleh guru. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi untuk mengungkap persepsi guru terhadap implementasi teknologi dalam pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka di era digital, dengan fokus pada pengembangan sumber daya manusia yang kreatif dan berbasis karakter. Dalam konteks ini, pemanfaatan media pembelajaran digital seperti video dan animasi dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, khususnya dalam mata pelajaran sosiologi. Namun, keberhasilan implementasi ini sangat bergantung pada kesiapan dan kreativitas guru dalam memanfaatkan teknologi dengan cara yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
FENOMENA STANDAR KECANTIKAN DI TIKTOK SERTA RESPONS KRITIS MAHASISWA PENDIDIKAN SOSIOLOGI UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA Siti Rahmah Indriyani; Stevany Afrizal
SABANA: Jurnal Sosiologi, Antropologi, dan Budaya Nusantara Vol. 5 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/sabana.v5i1.7812

Abstract

The phenomenon of beauty standards on TikTok, such as fair skin, smooth faces, and ideal bodies, cannot be separated from the role of algorithms that continuously display content with certain beauty images. This study aims to describe how Sociology Education students at Sultan Ageng Tirtayasa University, class of 2023, assess these beauty standards and how they respond to them whether by accepting, rejecting, or criticizing them from a sociological perspective. This study uses a descriptive qualitative method with data collection techniques through in-depth interviews with five students, supplemented by observation and documentation. The results show that most students view beauty standards on TikTok as a social construct that is not entirely realistic and tends to be shaped by digital media. The students' responses to this phenomenon also varied, ranging from selective acceptance, rejection of the pressure of beauty standards, to being critical in shaping their identity. This phenomenon can be understood through Berger and Luckmann's social construction theory, which explains the processes of externalization, objectification, and internalization in the formation of social meaning.