Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Inovasi Pemanfaatan Ekstrak Buah Belimbing Wuluh Sebagai Bahan Baku Pembuatan Sabun Cuci Piring Ramah Lingkungan Romadona, Siska; Andiarini, Mia; Lahfah, Fitria Jazilah; Widodo, Rahmat Slamet Adi; Warsito, Ahmad Nur Aziz Ronggo; Islakhiyah, Dina Dalilatul; Nafisah, Faridatun; Putri, Salma Aulia
Scientica: Jurnal Ilmiah Sains dan Teknologi Vol. 3 No. 2 (2024): Scientica: Jurnal Ilmiah Sains dan Teknologi
Publisher : Komunitas Menulis dan Meneliti (Kolibi)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sabun adalah bahan yang digunakan untuk mencuci pakaian, mencuci piring, membersihkan badan, dan lain-lain. Sabun cuci piring merupakan salah satu kebutuhan penting yang berfungsi sebagai penghilang kotoran dan lemak pada peralatan makan dan masak. Konsumsi sabun cuci piring terus menerus meningkat pada setiap harinya, Kehadiran sabun pencuci piring menjadikannya lebih berharga dibandingkan sabun dan krim oles lainnya karena mudah larut dalam air, lembut di tangan, memberikan aroma segar, dan ramah lingkungan. Penelitian ini dilakukan untuk membuat sabun cuci piring dengan menggunakan bahan alami belimbing wuluh (Avverhoa Bilimbi). Pemanfaatan bahan alami ini banyak didukung oleh beberapa faktor, seperti banyaknya ketersediaan bahan baku utama yaitu belimbing wuluh dan kandungan dari buah belimbing wuluh yang membuat buah ini dapat diolah kembali menjadi produk yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Hasil pembuatan sabun dengan bahan alami belimbing wuluh (Avverhoa Bilimbi) dapat dikatakan efektif karena melihat dari hasil analisa fisik sabun yaitu warna kuning sesuai dengan pewarna yang diberikan dan bentuk sabun cuci piring memiliki wujud yang cair dan kental. Berdasarkan beberapa kandungan belimbing wuluh, dapat dikatakan bahwa buah ini sangat efektif untuk digunakan sebagai sabun cuci yang berfungsi sebagai pengikat lemak, antioksidan, desinfektan, membunuh kuman dan bakteri.
Transformasi Generasi Z: Dari Rasa Minder Menuju Kepemimpinan Bermakna Berbasis Budi Pekerti Farodillah, Rufkah Ayu; Mujiwati, Yuniar; Nafisah, Faridatun; Rossa, Salafiyah; Wati, Sifa Rahma; Mauludin, Muhammad; Zamroni, Abdul Qodir
Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan Indonesia Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jpion.v5i1.989

Abstract

Di tengah dinamika era digital yang serba cepat, Generasi Z dihadapkan pada berbagai tantangan sosial yang memengaruhi pembentukan kepercayaan diri dan karakter kepemimpinan, salah satunya berupa rasa minder dan keraguan dalam mengambil peran di lingkungan masyarakat. Kepemimpinan masa kini tidak hanya menuntut kecakapan teknis, tetapi juga kekuatan karakter dan budi pekerti sebagai fondasi moral. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses dan hasil kegiatan pengabdian masyarakat yang berfokus pada transformasi Generasi Z dari rasa minder menuju kepemimpinan bermakna (meaningful leadership) berbasis nilai budi pekerti. Kegiatan ini dilaksanakan oleh mahasiswa Universitas PGRI Wiranegara Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Angkatan 2024 sebagai implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Landasan teoretis bertumpu pada konsep pendidikan karakter dan kepemimpinan bermakna dalam perspektif PPKn. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif melalui penyuluhan, diskusi kelompok terarah, fun games edukatif, dan refleksi bersama yang melibatkan anggota Karang Taruna Dusun Jatisari, Desa Sumberdawesari, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman, keberanian berpendapat, kerja sama, serta kesadaran akan pentingnya budi pekerti sebagai dasar kepemimpinan.
Dari Teologi Normatif ke Teologi Integratif-Transformatif: Rekonstruksi Epistemologis Islam sebagai Kritik dan Praksis Pembebasan Sosial Karim, Isnaini Ajrin; Zandra, Salwa Ariella Belle; Nafisah, Faridatun; Siswanto, Ali Hasan
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 3 (2026): MEI 2026
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/rm294w04

Abstract

This article begins with the epistemological crisis in contemporary Islamic theology, which is still dominated by a normative-textual paradigm, making it less responsive to the complexity of social problems such as structural inequality, the ecological crisis, and digital disruption. The research gap lies in the absence of a theological framework that systematically integrates the dimensions of revelation, social reality, and technological development into a coherent epistemological framework. Previous studies on transformative theology tend to be partial, do not offer operational conceptual models, and have not yet made theology a tool for critical analysis of contemporary structures of injustice. This article uses an integrative theoretical approach that combines critical hermeneutics, practical philosophy, and critical sociology to reconstruct Islamic theology in a more contextual and emancipatory direction. The research method used is qualitative-conceptual with critical discourse analysis techniques and theoretical synthesis of classical and contemporary literature. The main argument of this article is that Islamic theology needs to be reconstructed from a theocentric-normative paradigm to an integrative-transformative model based on theo-anthropo-centric dialectics, which positions theology as both social critique and a practice of liberation. Within this framework, theology functions not only as normative legitimation but also as an instrument of emancipation capable of critically responding to social and digital realities. This article's scholarly contribution lies in the formulation of an Integrative-Transformative Islamic Theology model that integrates revelation, social reality, and technology as a new epistemological basis for theological studies, and expands the function of theology as a critical social theory in the context of contemporary Islam.