Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

POLA KUMAN DAN FAKTOR RISIKO KEJADIAN RESISTENSI PADA PASIEN INFEKSI SALURAN KEMIH Raden, Mustopa .; Rezekiyah, Sholeha; Armizan, Ekawira
Journal of Medical Laboratory and Science Vol 4 No 2 (2024): JMLS: Journal of Medical Laboratory and Science
Publisher : Jurusan Teknologi Laboratorium Medis, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/medlabscience.v4i2.2571

Abstract

Background: Urinary tract infections are still a health problem because the morbidity and mortality rates are still quite high. Urinary tract infections (UTIs) are the second most common infectious disease after respiratory infections. UTI can also occur in all ages, from children to adults. UTI can be caused by gram-negative or gram-positive bacteria as well as fungi. This research aims to identify the germs that cause UTI and find out which types of antibiotics are sensitive and resistant through examining urine cultures of UTI sufferers and to find out the factors that cause resistance. Method: This research design is analytical descriptive. The research was conducted in the Bacteriology laboratory, medical laboratory technology department, Health Polytechnic, Ministry of Health, Jambi. Results: Based on gender, there were 20 male respondents (33%) while there were more female respondents, namely 40 (67%). The age range of respondents was 1 to 67 years with an average of 19 years, with the highest number of UTI cases aged 1-15 years, namely 63%. The most common germ pattern that causes UTI is E. Coli bacteria 29 (48%) followed by Staphylococcus epidermidis bacteria 18%. Of the bacterial forms, 28% are cocci and 72% are rods. Conclusion: The germ pattern that causes urinary tract infections is caused by 9 species of bacteria, the most common being E. Coli bacteria at 48% and the second being Staphylococcus epidermidis (18%). UTIs often occur in women and based on age, most occur in children 1-15 years.
SIGNIFIKANSI KEJADIAN ANEMIA BERDASARKAN INTERPRESTASI NILAI INDEKS ERITROSIT PADA PASIENTUBERKULOSIS PARU Raden, Mustopa .; Syarthibi, Ahmad; Tamrin, Tamrin
Journal of Medical Laboratory and Science Vol 3 No 2 (2023): JMLS: Journal of Medical Laboratory and Science
Publisher : Jurusan Teknologi Laboratorium Medis, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/medlabscience.v3i2.1994

Abstract

Latar Belakang: Penyakit TB sudah menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang semakin mengkhawatirkan diseluruh dunia pada saat ini karena memiliki angka morbiditas dan mortalitas yang cendrung meningkat. Saat ini Penyakit TB merupakan penyebab kematian utama di dunia untuk penyakit infeksi. Tuberkulosis diketahui dapat menyebabkan gangguan hematologi yang yang kompleks, salah satunya anemia. Anemia secara fungsional didefinisikan sebagai defisiensi massa eritrosit untuk mengantarkan oksigen ke jaringan perifer. Anemia adalah komorbid umum pada TB serta dikaitkan dengan prognosis buruk yaitu risiko kematian yang lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan hubungan indeks eritrosit MCV (Mean Corpuscular Volume), MCH (Mean Corpuscular Hemoglobin) dan MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration) padapasien TB berdasarkan jenis kelamin, usia dan jenis pekerjaan. Metode: Jenis penelitan deskriptif analitik Penelitian dilakukan pada bulan januari sampai Juli 2023 di laboratorium kimia klinik jurusan teknologi laboratorium medik Poltekkes Kemenkes Jambi. Sampel penelitian Sebanyak 70 pasien TB yang berada di wilayah Kota Jambi. Hasil: Pada penelitian ini menemukan bahwa ada 54,5% responden mengalami anemia. Kejadian anemia pada pasien TB berdasarkan nilai indeks eritrosit anemia mikrocitik hipokrom sama banyak dengan anemia mikrocitik hipokrom. Responden laki-laki lebih dominan mengalami jenis anemia normocitik normocrom dan sebaliknya perempuan mikrocitik hipocrom. Menurut usia untuk usia ≤ 20 tahun jenis anemia mikrocitik hipokrom lebih dominan namun pada usia diatas ≥ 55 tahun semuanya mengalami anemia normocitik normokrom. Dari uji statistic chisquare tidak adanya hubungan kejadian anemia dgn jenis kelamin (p-value : 0.104), Adanya hubungan antara kejadian anemia dgn usia (p-value : 0.027) dan Adanya hubungan antara kejadian anemia dgn pekerjaan (p-value : 0.003) Kesimpulan: Tidak adanya hubungan kejadian anemia dgn jenis kelamin, Adanya hubungan antara kejadian anemia dgn usia dan pekerjaan.