Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kiai Ageng H. Abdurrahman Tegalrejo: Islamisasi dan Penyebaran Tarekat Syattariyah Di Tegalrejo, Magetan Pra-Pasca Perang Jawa (1820-1875 M) Susan Diqrul Illahiyah; Nurul Baiti Rohmah
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 5 No. 02 (2024): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v5i02.9547

Abstract

Kajian ini membahas peran Kiai Ageng H. Abdurrahman dalam proses islamisasi dan penyebaran Tarekat Syattariyah di Magetan pada periode 1820-1875 M. Penelitian ini berfokus pada dua rumusan masalah utama: pertama, bagaimana proses islamisasi yang dilakukan oleh Kiai Ageng H. Abdurrahman, dan kedua, bagaimana penyebaran Tarekat Syattariyah di Magetan melalui peran beliau. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan empat tahapan utama: heuristik untuk pengumpulan data, verifikasi untuk menilai keabsahan sumber, interpretasi untuk menganalisis makna data, dan historiografi untuk menyusun hasil penelitian secara naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kiai Ageng H. Abdurrahman memainkan peran penting dalam islamisasi melalui berbagai langkah strategis. Beliau mendirikan desa sebagai basis sosial, membangun masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan, serta mendirikan pesantren yang berfungsi sebagai institusi pembelajaran ajaran Islam. Sebagai seorang mursyid Tarekat Syattariyah, beliau membimbing sejumlah murid yang kemudian menjadi guru washitah. Para murid ini berkontribusi dalam menyebarkan ajaran tarekat di Magetan dan wilayah sekitarnya. Penelitian ini mengungkap bahwa melalui kombinasi ajaran tasawuf dan aktivitas berbasis komunitas, Kiai Ageng H. Abdurrahman berhasil membentuk identitas keislaman yang kuat di Magetan, menjadikan tarekat sebagai elemen penting dalam kehidupan keagamaan masyarakat setempat. Kata Kunci: Islamisasi; Kiai Ageng H. Abdurrahman; Tarekat Syattariyah.
PERAN KH. DAHLAN ABDUL QOHHAR SEBAGAI PENGGERAK PARTAI NAHDLATUL ULAMA (NU) DI NGANJUK 1952-1975 Sabella Firdausi; Nurul Baiti Rohmah; Firdausi, Sabella; Baiti Rohmah, Nurul
JURNAL TAPIS Vol 19 No 1 (2023): Jurnal Tapis : Jurnal Teropong Aspirasi Politik Islam
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/tps.v19i1.16245

Abstract

Artikel ini membahas tentang peran KH. Dahlan Abdul Qohhar sebagai penggerak Partai Nahdlatul Ulama (NU) di Nganjuk pada tahun 1952-1975. Perannya sangat penting dalam Nahdlatul Ulama khususnya dalam bidang agama dan politik. Dalam bidang agama yakni berdakwah atas nama Nahdlatul Ulama, dan dalam bidang agama yaitu menjadi tanfidziah dan anggota konstituante. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui biografi dan peran KH. Dahlan Abdul Qohhar dalam partai Nahdlatul Ulama. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang dirumuskan oleh Kuntowijoyo. Adapun metode penelitian menurut Kuntowijoyo yaitu pengumpulan data, pengecekan data, penafsiran data, dan penulisan hasil penelitian. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa KH. Dahlan Abdul Qohhar berperan penting pada partai Nahdlatul Ulama. Dalam bidang agama, peran KH. Dahlan Abdul Qohhar yaitu membawa Partai Nahdlatul Ulama di Nganjuk mengalami kemajuan  pesat, seperti semakin banyak masyarakat Nganjuk yang memegang paham Ahlussunah Wal Jama’ah dengan melalui dakwahnya, dimana pada awalnya Kabupaten Nganjuk didominasi oleh kaum abangan yang menunjang PKI. Kemudian dalam bidang politik, KH. Dahlan terpilih menjadi tanfidziah yang selalu aktif dalam kegiatan, selanjutnya pada pemilu 1955 KH. Dahlan terpilih menjadi anggota Dewan Konstituante. Dengan penuh semangat nasionalismenya, KH. Dahlan Abdul Qohhar dikenal tetap mengabdikan seluruh hidupnya untuk organisasi Nahdlatul Ulama di Kabupaten Nganjuk sampai menghembuskan nafas terakhir.
PERKEMBANGAN AJARAN SAPTA DARMA DI MASYARAKAT MUSLIM KEDIRI 1952-1960 Ayu Zanuar Agum Nur Damayanti; Nurul Baiti Rohmah
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 25 No 2 (2025): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/fatdse65

Abstract

Keberagaman keyakinan di Indonesia merupakan bagian dari kekayaan budaya yang terus berkembang. Salah satu bentuk kepercayaan lokal yang muncul adalah ajaran Sapta Darma. Penelitian ini membahas tiga hal utama: awal kemunculan ajaran Sapta Darma di Kediri, perkembangan ajarannya, dan stigma masyarakat Muslim terhadap penganutnya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan kemunculan ajaran Sapta Darma, peran Harjoesapoero sebagai tokoh penyebarnya pada tahun 1952–1960, dan mengkaji stigma masyarakat Muslim terhadap ajaran ini. Menggunakan metode sejarah, penelitian dilakukan melalui tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ajaran Sapta Darma pertama kali lahir di Kecamatan Pare, Kediri, pada 27 Desember 1952. Ajaran Sapta Darma merupakan bentuk kejawen yang menekankan hubungan spiritual dengan Tuhan melalui dua metode utama: Sabda Waras (penyembuhan spiritual) dan Peruwatan (pensucian tempat). Ajaran ini kerap mendapat stigma negatif dari masyarakat Muslim, seperti dianggap sesat, sehingga para penganutnya sering mengalami diskriminasi. Meski demikian, mereka tetap berusaha membangun pemahaman dan toleransi. Ajaran Sapta Darma mencerminkan pentingnya penghormatan terhadap keragaman spiritual dalam masyarakat Indonesia.