Keberagaman keyakinan di Indonesia merupakan bagian dari kekayaan budaya yang terus berkembang. Salah satu bentuk kepercayaan lokal yang muncul adalah ajaran Sapta Darma. Penelitian ini membahas tiga hal utama: awal kemunculan ajaran Sapta Darma di Kediri, perkembangan ajarannya, dan stigma masyarakat Muslim terhadap penganutnya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan kemunculan ajaran Sapta Darma, peran Harjoesapoero sebagai tokoh penyebarnya pada tahun 1952–1960, dan mengkaji stigma masyarakat Muslim terhadap ajaran ini. Menggunakan metode sejarah, penelitian dilakukan melalui tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ajaran Sapta Darma pertama kali lahir di Kecamatan Pare, Kediri, pada 27 Desember 1952. Ajaran Sapta Darma merupakan bentuk kejawen yang menekankan hubungan spiritual dengan Tuhan melalui dua metode utama: Sabda Waras (penyembuhan spiritual) dan Peruwatan (pensucian tempat). Ajaran ini kerap mendapat stigma negatif dari masyarakat Muslim, seperti dianggap sesat, sehingga para penganutnya sering mengalami diskriminasi. Meski demikian, mereka tetap berusaha membangun pemahaman dan toleransi. Ajaran Sapta Darma mencerminkan pentingnya penghormatan terhadap keragaman spiritual dalam masyarakat Indonesia.
Copyrights © 2025