Binsar Pandapotan Silalahi
Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Yogyakarta

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Jejak Liturgis Awal dalam Surat 1 Petrus: Doxologi dan Identitas Jemaat sebagai Basis Teologi Ibadah Binsar Pandapotan Silalahi
LAMPO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 2 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI STAR RIAU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63832/5nz28s63

Abstract

Surat 1 Petrus menampilkan dimensi liturgis yang penting bagi pembentukan identitas dan ketahanan iman jemaat mula-mula yang hidup dalam konteks penderitaan dan marginalisasi. Kajian akademis terhadap surat ini umumnya menitikberatkan pada dimensi soteriologis, etis, dan misiologis, sedangkan peran liturgi dalam membentuk kehidupan jemaat belum banyak dieksplorasi secara mendalam. Penelitian ini mengarahkan fokus pada elemen-elemen liturgis yang menonjol, yaitu doxologi (1 Ptr. 1:3; 4:11; 5:11), formula pengakuan iman (1 Ptr. 3:18-22), dan metafora ”rumah rohani” (1 Ptr. 2:5), yang mengungkap fungsi ibadah dalam dinamika komunitas. Melalui metode kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan penggalian historis-gramatikal dan analisis literer terhadap teks Yunani NA28, penelitian ini menemukan bahwa bahasa liturgis dalam 1 Petrus berfungsi sebagai sarana formasi iman yang bersifat performatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa liturgi meneguhkan identitas jemaat sebagai umat pilihan Allah, menanamkan pola etis yang berakar pada penderitaan Kristus, serta memperkuat iman dengan mengarahkan mereka pada pengharapan eskatologis. Berdasarkan hal tersebut, liturgi dalam 1 Petrus dapat dipahami sebagai medium integral yang menyatukan dimensi teologis, etis, dan pastoral, sekaligus menjadi instrumen strategis bagi pemeliharaan jemaat mula-mula.
SALIB KRISTUS DAN DEKONSTRUKSI KOSMOS: SUATU STUDI EKSEGESIS LEKSIKAL-TEOLOGIS BERDASARKAN SURAT GALATIA 6:14 Binsar Pandapotan Silalahi; Zefanya Mamahani; Joshua Johanis
Jurnal Penggerak Vol. 7 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62042/jtp.v7i2.125

Abstract

Salib Kristus dalam Galatia 6:14 menampilkan puncak argumentasi Paulus yang bersifat kosmik, di mana dunia lama yang ditandai oleh dosa, hukum, dan daging diputuskan relasinya, dan identitas baru dibangun dalam Kristus. Kajian terdahulu banyak menekankan aspek sosial-historis, retoris, pastoral, dan resepsi, namun belum secara khusus menyoroti fungsi salib sebagai pusat kosmik dalam surat Galatia, sehingga terjadi kesenjangan interpretatif terkait dimensi transformasional teks ini. Penelitian ini menawarkan pendekatan eksegesis leksikal-teologis yang menempatkan Galatia 6:14 sebagai locus teologis, menyingkap mekanisme dekonstruksi kosmos lama dan konstruksi identitas baru melalui analisis kata kunci, sintaksis, dan konteks historis-komunitarian. Metode penelitian dilakukan secara deskriptif-analitis, dengan pembacaan kritis teks Yunani NA28, analisis semantik, serta penafsiran teologis dalam kerangka argumentasi surat Galatia itu sendiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa salib berfungsi sebagai poros yang mengubah orientasi identitas dan praktik komunitas, menata ulang nilai dan status, serta menyediakan dasar etis dan epistemik bagi kehidupan jemaat. Jadi dapat disimpulkan bahwa surat Galatia 6:14 bukan sekadar penutup retoris, tetapi pusat teologis yang menghubungkan transformasi kosmik, identitas baru, dan tanggung jawab etis-komunitarian, sehingga menawarkan relevansi praktis dan konseptual bagi pemahaman iman Kristen kontemporer.
Otoritas Firman dalam Kesaksian Tertulis: Analisis Teologis Penutup Injil Yohanes 21:24-25 Binsar Pandapotan Silalahi; Aily Vilia Iroth; Veren Leoni Gabriela Dumais; Girlline Trivena D. Paath
YADA : Jurnal Teologi Biblika dan Reformasi Vol. 3 No. 2 (2025): YADA: Jurnal Teologi Biblika dan Reformasi
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Providensia Adonay

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Artikel ini mengkaji Yohanes 21:24-25 sebagai penutup Injil yang menegaskan manifestasi otoritas Firman melalui kesaksian yang diungkapkan dalam bentuk tulisan, bukan sekadar epilog literer. Kajian sebelumnya umumnya berfokus pada aspek retoris, tekstual, dan historis, sehingga dimensi teologis dari klaim bahwa karya Yesus tidak terbatas untuk diungkapkan secara penuh oleh tulisan manusiawi, namun telah diwahyukan secara cukup melalui kesaksian tertulis Yohanes, belum mendapat perhatian memadai. Penelitian ini bertujuan menyingkap fungsi klaim kesaksian sebagai kunci hermeneutik yang menentukan cara komunitas memahami relasi antara kesaksian hidup dan teks tertulis. Sekalipun penelitian terdahulu menekankan sisi literer dan kritik naskah, penelitian ini menegaskan bahwa otoritas iman terletak pada integrasi antara saksi, teks, dan komunitas. Metode yang digunakan adalah eksegesis teologis dengan analisis teks Yunani (NA28), leksikon, struktur literer, dan sintesis intratekstual melalui kajian pustaka. Hasil penelitian menunjukkan oposisi ὁ μαρτυρῶν dan ὁ γράψας, penguatan kolektif melalui οἴδαμεν, serta hiperbola κόσμον χωρήσειν, yang menampilkan kesaksian sebagai realitas performatif yang terintegrasi dalam tulisan dan meneguhkan identitas komunitas.
Teologi Ambivalensi Monarki Awal: Dialektika Otoritas Ilahi dan Inisiatif Manusia dalam 1 Samuel 8-12 Binsar Pandapotan Silalahi; Kezia Sharon Kurniawan
Logia Vol 7, No 1 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v7i1.319

Abstract

This article analyzes the ambivalence of monarchy in 1 Samuel 8-12 by emphasizing the dynamic relationship between YHWH and Saul as the first king of Israel. This narrative presents the monarchy as an institution born of tension: on the one hand, it was requested by the people as a rejection of divine rule, but on the other hand, it was facilitated through Saul's anointing by the prophet Samuel. Previous studies have focused more on historical, literary, or ethical dimensions, thus not paying particular attention to the theological-ambivalent aspects of the early monarchy. The novelty of this research lies in placing 1 Samuel 8-12 as the main locus for examining the dialectic between divine authority and human initiative. This study uses the method of narrative exegesis of the Masoretic text to examine the literary structure, repetition of key diction, and patterns of relationships in the narrative. The results of the analysis show that the early monarchy is narratively positioned as an ambivalent institution, which is both legitimized and criticized, thus forming a theological strategy that affirms the limitations of human power within the framework of its relationship with divine authority.
KERAJAAN SERIBU TAHUN DALAM WAHYU 20:1-6: SEBUAH ANALISIS TEMATIS DALAM KERANGKA TEOLOGI BIBLIKA Binsar Pandapotan Silalahi
Voice of HAMI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 8, No 1 (2025): Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Hagiasmos Mission

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59830/voh.v8i1.136

Abstract

Revelation 20:1-6 is one of the central passages in New Testament eschatological discourse because it contains the only explicit mention of the thousand-year kingdom. Most previous studies have interpreted this passage based on specific eschatological systems, such as premillennialism or amillennialism, without exploring the internal narrative and thematic structure that progressively shapes the theological meaning of the text. This study offers a thematic approach within the framework of biblical theology to examine the connection between the binding of Satan, the first resurrection, and the co-reign with Christ as a single, coherent theological unity. Using qualitative methods and literature review, the analysis was conducted through three stages: structural description, thematic identification, and narrative-theological synthesis based on the Greek text (NA28). The results of the study show that Revelation 20:1-6 presents a narrative configuration that is literal and factual, which not only expresses symbolic hope but also affirms the participation of God's people in the fulfillment of the divine plan through Christ's concrete actions in the future as a response to a world marked by ethical crisis and historical disorientation.