Utomo, Bimo Setyo
Sekolah Tinggi Teologi Injili Efrata Sidoarjo

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

MENELAAH TRADISI FOOLA JIMATE DALAM MASYARAKAT NIAS: SEBUAH TINJAUAN TEOLOGIS-KRITIS Popi Yanser Iman Jaya Ndruru; Bimo Setyo Utomo; Suparman
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 5 No. 1 (2024): DA'AT Jurnal Teologi Kristen
Publisher : Program Studi Teologi, Fakultas Teologi, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/djtk.v5i1.1528

Abstract

Foola Jimate merupakan salah satu tradisi yang sudah dipraktikan secara turun temurun oleh sebagian besar masyarakat Nias. Tradisi ini tidak terlepas dari kepercayaan kepada roh nenek moyang dan pemujaan kepada roh leluhur dan bertujuan untuk memutus hubungan antara orang yang telah meninggal dengan keluarganya yang masih hidup supaya tidak ada gangguan dari roh orang yang sudah meninggal kepada orang yang masih hidup. Foola Jimate melibatkan serangkaian acara yang dilakukan tiga hari setelah jenazah telah dikuburkan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan penelitian deskriptif dengan melibatkan wawancara kepada para tokoh adat setempat. Tujuan penelitian ini adalah untuk meneliti esensi dari praktik foola jimate, kemudian melakukan tinjauan teologis kritis supaya pembaca memiliki pemahaman yang benar berdas arkan prinsip iman Kristen. Dari hasil penelitian, maka dihasilkan tiga hal yang menjadi hasil , yakni: Alkitab melarang spiritisme, Alkitab melarang sinkretisme, dan perlu pemahaman yang benar mengenai kematian dalam perspektif kristen.
Model Pembinaan yang Holistik di Asrama bagi Mahasiswa Teologi Setyo Utomo, Bimo; Tjondro, Eddy
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 8, No 2: Juni 2022
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/.v8i2.61

Abstract

Dormitories in a theological education institution not only function to be a shelter for students, but also a place for students to learn from each other's respective regional cultures, learn to socialize, learn to train sensitivity or care, learn to obey and submit to the coaches, and become personal who has the character of Christ. In the field, it is undeniable that there are many problems, such as problems due to diverse student backgrounds, student discipline, student social interactions with the outside world, student adaptation patterns in various dormitories, and many other things. The methodology used in this research is descriptive and qualitative. Support from the Bible and several biblical sources are also presented in a systematic description according to the framework of thinking. From the results of the study, it was found that there were six formulations of student development models in theological institutions in dormitories that were holistic and ideal, namely (1) a spiritual-centered coaching model, (2) a transformative coaching model, (3) an integrative and holistic coaching model, (4) structured discipline model, (5) projective and anticipatory coaching model, and (6) teamwork coaching model.  AbstrakAsrama dalam sebuah institusi pendidikan teologi tidak hanya berfungsi untuk menjadi tempat penampungan mahasiswa saja, tetapi juga merupakan wadah mahasiswa saling belajar budaya daerah masing-masing, belajar bersosialisasi, belajar untuk melatih kepekaan atau kepedulian, belajar untuk taat dan tunduk pada pembina, serta menjadi pribadi yang memiliki karakter Kristus. Di dalam lapangan tidak dipungkiri terdapat banyak masalah, seperti misalnya permasalahan karena latar belakang mahasiswa yang beragam, kedisiplinan mahasiswa, interaksi sosial mahasiswa dengan dunia luar, pola adaptasi mahasiswa di asrama yang beragam, dan masih banyak hal lainnya. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif diskriptif. Dukungan dari Alkitab dan beberapa sumber pustaka juga dipaparkan dalam sebuah uraian sistematis sesuai dengan kerangka berpikir. Dari hasil penelitian, didapatkan enam rumusan model pembinaan mahasiswa di institusi teologi berasrama yang holistik dan ideal, yaitu (1) model pembinaan yang berpusat pada hal rohani, (2) model pembinaan transformatif, (3) model pembinaan integratif dan holistik, (4) model disiplin terstruktur, (5) model pembinaan proyektif dan antisipatif, serta (6) model pembinaan teamwork.
Ulangan 31:9-13 Sebagai Landasan Strategi Guru Sekolah Minggu Dalam Mengajarkan "Takut akan Tuhan" Bimo Setyo Utomo; Eddy Tjondro
SIKIP: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol 2, No 1: Pebruari 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52220/sikip.v2i1.64

Abstract

A well-organized Sunday School can be the right means for the church to educate children in their spiritual growth so that one day they become a beautiful future for the church and the nation. Church participation through Sunday School teachers is an important part of the spiritual formation of children to instill fear of God. Researchers used Deuteronomy 31: 9-13 which is considered to be one of the important biblical foundations to be studied with the aim of being able to develop as a strategic foundation by Sunday School teachers in teaching the fear of God to children. The method used in this study is a literature review of the biblical text in Deuteronomy 31: 9-13 which is elaborated using lexical and grammatical analysis. From the analysis of the text of Deuteronomy 31: 9-13, three main parts can be found, namely: facing God's presence; listening to God's Word; and learning to fear God which will be the basic strategy(conceptual) of the Sunday School teachers when teaching the fear of the Lord.AbstrakSekolah Minggu yang terselenggara dan terorganisir dengan efektif dan baik dapat menjadi sarana yang tepat bagi gereja untuk mendidik anak-anak dalam pertumbuhan rohaninya sehingga kelak mereka menjadi masa depan yang indah bagi gereja dan bangsa. Partisipasi gereja melalui para guru Sekolah Minggu merupakan bagian yang penting dalam pembentukan kerohanian anak untuk dapat menanamkan takut akan Tuhan. Peneliti menggunakan Ulangan 31:9-13 yang dianggap merupakan salah satu landasan biblika yang penting untuk diteliti dengan tujuan dapat dikembangkan sebagai sebuah landasan strategi oleh para guru Sekolah Minggu dalam mengajarkan takut akan Tuhan pada anak-anak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian pustaka dari teks Alkitab dalam Ulangan 31:9-13 yang dielaborasi menggunakan analisa leksikal dan gramatikal. Dari hasil analisis teks Ulangan 31:9-13, dapat ditemukan tiga bagian utama, yakni: menghadap hadirat Tuhan; mendengarkan Firman Tuhan; belajar takut akan Tuhan, yang akan dijadikan landasan (konseptual) strategi guru Sekolah Minggu dalam mengajarkan takut akan Tuhan.
Prinsip Integritas Guru Pendidikan Agama Kristen Menurut 1 Timotius 4:16 Bimo Setyo Utomo
Skenoo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 3 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tabernakel Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55649/skenoo.v3i1.52

Abstract

Guru pendidikan agama Kristen yang memiliki integritas tinggi akan memperlihatkan karakteristik seperti jujur, adil, bertanggung jawab, disiplin, rendah hati, dan sabar dalam mentransformasi hidup siswa. Dalam perkembangannya perlu diakui bahwa integritas guru pendidikan agama Kristen dapat terpengaruh oleh beberapa faktor seperti ketidakjujuran, pengabaian tugas, kurangnya komitmen pada ajaran agama Kristen, serta tindakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai spiritual dan moral yang diajarkan. Oleh sebab itu penelitian ini bertujuan untuk menemukan prinsip integritas guru pendidikan agama Kristen menurut 1 Timotius 4:16. Penelitian ini merupakan kajian pustaka dari teks 1 Timotius 4:16 dengan pendekatan leksikal dan gramatikal yang dielaborasi untuk dijadikan sebuah prinsip integritas yang harus dimiliki oleh guru pendidikan agama Kristen. Hasil penelitian ini mencakup tiga prinsip, yaitu: integritas dalam memperhatikan cara hidup, integritas dalam memperhatikan ajaran, dan integritas dalam mengerjakan keselamatan bagi orang lain.
Tinjauan Teologis Mengenai Konsep Purgatory dan Implikasinya Terhadap Soteriologi [Theological Review of the Concept of Purgatory and Its Implications for Soteriology] Suparman, Suparman; Setyo Utomo, Bimo; Zebua, Dahlia Juliadil Veronica
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 6 No. 1 (2024): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v6i1.7685

Abstract

The concept of purgatory or what is known as purification is one of the concepts that the Catholic Church believes as a truth for those who during their lifetime had a close relationship with God, but were still not pure enough to enter heaven, so a purification process is needed. The Catholic Church provides the basis of Bible verses and Deuterocanonics to support its teachings and the process will take place according to the sins that have been committed while living in this world. This research uses qualitative methods with a library approach. Using the literature method, the researcher will explain the concept of purgatory in the teachings of the Catholic Church from accurate sources, originating from Catholic circles themselves which will be reviewed theologically-critically to find that the concept of purgatory is contrary to the redemptive work of Jesus Christ on the cross. In the end, the concept of purgatory is not in accordance with what God has stated in His Word and has implications for soteriology, namely: Jesus is the only way of salvation, salvation is a grace, and praying for the dead is not Biblical.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Konsep api penyucian atau yang dikenal dengan istilah purifikasi merupakan salah satu konsep yang diyakini Gereja Katolik sebagai sebuah kebenaran bagi mereka yang semasa hidupnya memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan, namun masih belum cukup murni untuk masuk surga, sehingga diperlukan proses pemurnian. Gereja Katolik memberikan dasar ayat-ayat Alkitab dan Deuterokanonika untuk mendukung ajarannya dan prosesnya akan berlangsung sesuai dengan dosa yang telah dilakukan selama hidup di dunia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan. Dengan menggunakan metode kepustakaan, peneliti akan menjelaskan konsep api penyucian dalam ajaran Gereja Katolik dari sumber-sumber yang akurat, yang berasal dari kalangan Katolik sendiri yang kemudian akan ditinjau secara teologis-kritis untuk menemukan bahwa konsep api penyucian bertentangan dengan karya penebusan Yesus Kristus di kayu salib. Pada akhirnya, konsep api penyucian tidak sesuai dengan apa yang telah Tuhan nyatakan dalam Firman-Nya dan berimplikasi pada soteriologi, yaitu: Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan, keselamatan adalah anugerah, dan mendoakan orang mati tidak Alkitabiah.