Bimo Setyo Utomo
Sekolah Tinggi Teologi Injili Efrata Sidoarjo

Published : 24 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

MENELAAH TRADISI FOOLA JIMATE DALAM MASYARAKAT NIAS: SEBUAH TINJAUAN TEOLOGIS-KRITIS Popi Yanser Iman Jaya Ndruru; Bimo Setyo Utomo; Suparman
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 5 No. 1 (2024): DA'AT Jurnal Teologi Kristen
Publisher : Program Studi Teologi, Fakultas Teologi, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/djtk.v5i1.1528

Abstract

Foola Jimate merupakan salah satu tradisi yang sudah dipraktikan secara turun temurun oleh sebagian besar masyarakat Nias. Tradisi ini tidak terlepas dari kepercayaan kepada roh nenek moyang dan pemujaan kepada roh leluhur dan bertujuan untuk memutus hubungan antara orang yang telah meninggal dengan keluarganya yang masih hidup supaya tidak ada gangguan dari roh orang yang sudah meninggal kepada orang yang masih hidup. Foola Jimate melibatkan serangkaian acara yang dilakukan tiga hari setelah jenazah telah dikuburkan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan penelitian deskriptif dengan melibatkan wawancara kepada para tokoh adat setempat. Tujuan penelitian ini adalah untuk meneliti esensi dari praktik foola jimate, kemudian melakukan tinjauan teologis kritis supaya pembaca memiliki pemahaman yang benar berdas arkan prinsip iman Kristen. Dari hasil penelitian, maka dihasilkan tiga hal yang menjadi hasil , yakni: Alkitab melarang spiritisme, Alkitab melarang sinkretisme, dan perlu pemahaman yang benar mengenai kematian dalam perspektif kristen.
Model Pembinaan yang Holistik di Asrama bagi Mahasiswa Teologi Setyo Utomo, Bimo; Tjondro, Eddy
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 8, No 2: Juni 2022
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/.v8i2.61

Abstract

Dormitories in a theological education institution not only function to be a shelter for students, but also a place for students to learn from each other's respective regional cultures, learn to socialize, learn to train sensitivity or care, learn to obey and submit to the coaches, and become personal who has the character of Christ. In the field, it is undeniable that there are many problems, such as problems due to diverse student backgrounds, student discipline, student social interactions with the outside world, student adaptation patterns in various dormitories, and many other things. The methodology used in this research is descriptive and qualitative. Support from the Bible and several biblical sources are also presented in a systematic description according to the framework of thinking. From the results of the study, it was found that there were six formulations of student development models in theological institutions in dormitories that were holistic and ideal, namely (1) a spiritual-centered coaching model, (2) a transformative coaching model, (3) an integrative and holistic coaching model, (4) structured discipline model, (5) projective and anticipatory coaching model, and (6) teamwork coaching model.  AbstrakAsrama dalam sebuah institusi pendidikan teologi tidak hanya berfungsi untuk menjadi tempat penampungan mahasiswa saja, tetapi juga merupakan wadah mahasiswa saling belajar budaya daerah masing-masing, belajar bersosialisasi, belajar untuk melatih kepekaan atau kepedulian, belajar untuk taat dan tunduk pada pembina, serta menjadi pribadi yang memiliki karakter Kristus. Di dalam lapangan tidak dipungkiri terdapat banyak masalah, seperti misalnya permasalahan karena latar belakang mahasiswa yang beragam, kedisiplinan mahasiswa, interaksi sosial mahasiswa dengan dunia luar, pola adaptasi mahasiswa di asrama yang beragam, dan masih banyak hal lainnya. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif diskriptif. Dukungan dari Alkitab dan beberapa sumber pustaka juga dipaparkan dalam sebuah uraian sistematis sesuai dengan kerangka berpikir. Dari hasil penelitian, didapatkan enam rumusan model pembinaan mahasiswa di institusi teologi berasrama yang holistik dan ideal, yaitu (1) model pembinaan yang berpusat pada hal rohani, (2) model pembinaan transformatif, (3) model pembinaan integratif dan holistik, (4) model disiplin terstruktur, (5) model pembinaan proyektif dan antisipatif, serta (6) model pembinaan teamwork.
Ulangan 31:9-13 Sebagai Landasan Strategi Guru Sekolah Minggu Dalam Mengajarkan "Takut akan Tuhan" Bimo Setyo Utomo; Eddy Tjondro
SIKIP: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol 2, No 1: Pebruari 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52220/sikip.v2i1.64

Abstract

A well-organized Sunday School can be the right means for the church to educate children in their spiritual growth so that one day they become a beautiful future for the church and the nation. Church participation through Sunday School teachers is an important part of the spiritual formation of children to instill fear of God. Researchers used Deuteronomy 31: 9-13 which is considered to be one of the important biblical foundations to be studied with the aim of being able to develop as a strategic foundation by Sunday School teachers in teaching the fear of God to children. The method used in this study is a literature review of the biblical text in Deuteronomy 31: 9-13 which is elaborated using lexical and grammatical analysis. From the analysis of the text of Deuteronomy 31: 9-13, three main parts can be found, namely: facing God's presence; listening to God's Word; and learning to fear God which will be the basic strategy(conceptual) of the Sunday School teachers when teaching the fear of the Lord.AbstrakSekolah Minggu yang terselenggara dan terorganisir dengan efektif dan baik dapat menjadi sarana yang tepat bagi gereja untuk mendidik anak-anak dalam pertumbuhan rohaninya sehingga kelak mereka menjadi masa depan yang indah bagi gereja dan bangsa. Partisipasi gereja melalui para guru Sekolah Minggu merupakan bagian yang penting dalam pembentukan kerohanian anak untuk dapat menanamkan takut akan Tuhan. Peneliti menggunakan Ulangan 31:9-13 yang dianggap merupakan salah satu landasan biblika yang penting untuk diteliti dengan tujuan dapat dikembangkan sebagai sebuah landasan strategi oleh para guru Sekolah Minggu dalam mengajarkan takut akan Tuhan pada anak-anak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian pustaka dari teks Alkitab dalam Ulangan 31:9-13 yang dielaborasi menggunakan analisa leksikal dan gramatikal. Dari hasil analisis teks Ulangan 31:9-13, dapat ditemukan tiga bagian utama, yakni: menghadap hadirat Tuhan; mendengarkan Firman Tuhan; belajar takut akan Tuhan, yang akan dijadikan landasan (konseptual) strategi guru Sekolah Minggu dalam mengajarkan takut akan Tuhan.
Tinjauan Teologis Mengenai Konsep Purgatory dan Implikasinya Terhadap Soteriologi [Theological Review of the Concept of Purgatory and Its Implications for Soteriology] Suparman, Suparman; Setyo Utomo, Bimo; Zebua, Dahlia Juliadil Veronica
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 6 No. 1 (2024): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v6i1.7685

Abstract

The concept of purgatory or what is known as purification is one of the concepts that the Catholic Church believes as a truth for those who during their lifetime had a close relationship with God, but were still not pure enough to enter heaven, so a purification process is needed. The Catholic Church provides the basis of Bible verses and Deuterocanonics to support its teachings and the process will take place according to the sins that have been committed while living in this world. This research uses qualitative methods with a library approach. Using the literature method, the researcher will explain the concept of purgatory in the teachings of the Catholic Church from accurate sources, originating from Catholic circles themselves which will be reviewed theologically-critically to find that the concept of purgatory is contrary to the redemptive work of Jesus Christ on the cross. In the end, the concept of purgatory is not in accordance with what God has stated in His Word and has implications for soteriology, namely: Jesus is the only way of salvation, salvation is a grace, and praying for the dead is not Biblical.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Konsep api penyucian atau yang dikenal dengan istilah purifikasi merupakan salah satu konsep yang diyakini Gereja Katolik sebagai sebuah kebenaran bagi mereka yang semasa hidupnya memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan, namun masih belum cukup murni untuk masuk surga, sehingga diperlukan proses pemurnian. Gereja Katolik memberikan dasar ayat-ayat Alkitab dan Deuterokanonika untuk mendukung ajarannya dan prosesnya akan berlangsung sesuai dengan dosa yang telah dilakukan selama hidup di dunia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan. Dengan menggunakan metode kepustakaan, peneliti akan menjelaskan konsep api penyucian dalam ajaran Gereja Katolik dari sumber-sumber yang akurat, yang berasal dari kalangan Katolik sendiri yang kemudian akan ditinjau secara teologis-kritis untuk menemukan bahwa konsep api penyucian bertentangan dengan karya penebusan Yesus Kristus di kayu salib. Pada akhirnya, konsep api penyucian tidak sesuai dengan apa yang telah Tuhan nyatakan dalam Firman-Nya dan berimplikasi pada soteriologi, yaitu: Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan, keselamatan adalah anugerah, dan mendoakan orang mati tidak Alkitabiah.
Prinsip Integritas Guru Pendidikan Agama Kristen Menurut 1 Timotius 4:16 Bimo Setyo Utomo
Skenoo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 3 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tabernakel Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55649/skenoo.v3i1.52

Abstract

Guru pendidikan agama Kristen yang memiliki integritas tinggi akan memperlihatkan karakteristik seperti jujur, adil, bertanggung jawab, disiplin, rendah hati, dan sabar dalam mentransformasi hidup siswa. Dalam perkembangannya perlu diakui bahwa integritas guru pendidikan agama Kristen dapat terpengaruh oleh beberapa faktor seperti ketidakjujuran, pengabaian tugas, kurangnya komitmen pada ajaran agama Kristen, serta tindakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai spiritual dan moral yang diajarkan. Oleh sebab itu penelitian ini bertujuan untuk menemukan prinsip integritas guru pendidikan agama Kristen menurut 1 Timotius 4:16. Penelitian ini merupakan kajian pustaka dari teks 1 Timotius 4:16 dengan pendekatan leksikal dan gramatikal yang dielaborasi untuk dijadikan sebuah prinsip integritas yang harus dimiliki oleh guru pendidikan agama Kristen. Hasil penelitian ini mencakup tiga prinsip, yaitu: integritas dalam memperhatikan cara hidup, integritas dalam memperhatikan ajaran, dan integritas dalam mengerjakan keselamatan bagi orang lain.
Guru sebagai Formator Spiritual dalam Perspektif Perjanjian Lama dan Implikasinya bagi Pendidikan Agama Kristen Bimo Setyo Utomo
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 8 No. 2 (2026): May
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v8i2.11254

Abstract

This study examines the concept of the teacher as a spiritual formator within the perspective of the Old Testament and its implications for Christian Religious Education. Using a qualitative library research approach with theological-hermeneutical analysis, the study explores how teaching in the Old Testament is intrinsically connected to the transmission of faith, the preservation of collective memory, and the mediation of the relationship between God and His people. The findings indicate that the teacher is not merely an instructor but a formative agent who embodies values, builds relational learning, and facilitates transformational change in learners. This perspective challenges the reduction of teaching to cognitive and technical functions in modern education. Consequently, Christian Religious Education must be reoriented toward holistic formation that integrates knowledge, character, and spirituality. The study contributes to a deeper theological understanding of the teacher’s role and offers practical insights for developing transformative Christian education.
Hospitalitas sebagai Imajinasi Etis: Kontribusi Perjanjian Lama bagi Filsafat Pendidikan Anak Usia Dini Bimo Setyo Utomo
Real Kiddos: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 4 No. 2: March 2026
Publisher : Institut Kristen Teologi REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/9w05qv41

Abstract

The instrumentalist tendency in early childhood education which positions academic achievement as the primary goal, has displaced the relational dimension as the foundational basis of human formation. The absence of a philosophical framework capable of restoring education to its relational orientation represents a pressing concern, particularly at the most critical phase of child development. This study aims to reconstruct hospitality as an ethical imagination in the Old Testament and to articulate its contribution to the philosophy of early childhood education. A qualitative approach with a library research design was employed, utilizing philosophical-theological analysis of selected biblical texts (Genesis 18; Exodus 22:21; Leviticus 19:33–34; Deuteronomy 10:18–19) and normative conceptual reconstruction. The findings reveal that hospitality in the Old Testament is not merely a social virtue but an ethical imagination that shapes the moral orientation of the community through three core structures: openness to alterity, an ethics grounded in collective memory, and solidarity that transcends group boundaries. The philosophical reconstruction affirms that hospitality constitutes an educational foundation in which pedagogical action begins with receiving the child as a subject of alterity, education is understood as a practice of welcoming, and relationality is positioned as the pedagogical basis. This study contributes to the development of a relationally grounded philosophy of education by bringing Old Testament biblical ethics into dialogue with contemporary pedagogical reflection, while simultaneously offering a critique of performance-oriented educational paradigms. Keywords: biblical ethics; early childhood education; ethical imagination; hospitality; relationality Abstrak Kecenderungan instrumentalisme dalam pendidikan anak usia dini yang menempatkan capaian akademik sebagai tujuan utama telah menggeser dimensi relasional sebagai fondasi pembentukan manusia. Kekosongan kerangka filosofis yang mampu mengembalikan pendidikan pada orientasi relasionalnya menjadi persoalan mendesak, khususnya pada fase perkembangan anak yang paling krusial. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi hospitalitas sebagai imajinasi etis dalam Perjanjian Lama serta merumuskan kontribusinya bagi filsafat pendidikan anak usia dini. Pendekatan kualitatif dengan desain studi kepustakaan digunakan, melalui analisis filosofis-teologis terhadap teks-teks biblika (Kejadian 18; Keluaran 22:21; Imamat 19:33-34; Ulangan 10:18-19) dan rekonstruksi konseptual normatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hospitalitas dalam Perjanjian Lama bukan sekadar kebajikan sosial, melainkan imajinasi etis yang membentuk orientasi moral komunitas melalui tiga struktur utama: keterbukaan terhadap alteritas, etika berbasis memori kolektif, dan solidaritas melampaui batas kelompok. Rekonstruksi filosofis menegaskan bahwa hospitalitas merupakan landasan konstitutif pendidikan, di mana tindakan pedagogis dimulai dari penerimaan anak sebagai subjek alteritas, pendidikan dipahami sebagai praktik menyambut, dan rasionalitas ditempatkan sebagai fondasi pedagogis. Studi ini berkontribusi pada pengembangan filsafat pendidikan berbasis relasional dengan mempertemukan etika biblika Perjanjian Lama dan refleksi pedagogis kontemporer, sekaligus menawarkan kritik terhadap paradigma pendidikan yang terlalu berorientasi pada peforma. Kata Kunci: etika biblika, hospitalitas; imajinasi etis; pendidikan anak usia dini; relasionalitas
Tinjauan Teologis Terhadap Tradisi Paper Dalam Pernikahan Adat Dayak Benuaq Ladi Prawati; Bimo Setyo Utomo
SAINT PAUL'S REVIEW Vol. 5 No. 2 (2025): December
Publisher : STT Saint Paul Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56194/spr.v5i2.123

Abstract

Suku Dayak Benuaq memiliki tradisi yang diwariskan dari leluhur mereka dan masih dilaksanakan hingga saat ini dalam upacara pernikahan, yaitu tradisi paper. Tradisi ini merupakan ritual yang wajib dilakukan oleh pasangan yang akan menikah untuk memperoleh restu dari roh leluhur, sehingga mereka dapat memperoleh hal-hal baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan kajian teologis terhadap tradisi paper agar masyarakat memiliki pemahaman tentang prinsip pernikahan yang benar berdasarkan iman Kristen. Firman Tuhan harus menjadi pedoman bagi setiap orang percaya untuk mengevaluasi, menentukan dan menyikapi apa yang benar mengenai pernikahan berdasarkan iman Kristen. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian ini akan menghasilkan tiga prinsip dalam pernikahan: Alkitab melarang untuk menduakan Tuhan, Alkitab melarang pemujaan terhadap roh leluhur, dan Alkitab mengajarkan bahwa Allah adalah sumber berkat dalam pernikahan.
Dialektika Harapan Mesianik dalam Perjanjian Lama: Antara Tradisi Israel dan Ekspektasi Eskatologis Andre Vernandes Zega; Mariam Etman; Bimo Setyo Utomo
Pietas: Jurnal Studi Agama dan Lintas Budaya Vol. 3 No. 2 (2026): June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Publikasi Ilmiah, Yayasan Yuta Pendidikan Cerdas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62282/pj.v3i2.128-145

Abstract

Penelitian ini berangkat dari kegelisahan teologis terhadap kecenderungan dalam kajian Perjanjian Lama yang sering memisahkan dimensi historis dan eskatologis dalam memahami harapan mesianik. Akibatnya, konsep Mesias kerap direduksi menjadi figur historis atau sebaliknya dipahami secara eskatologis tanpa akar historis yang memadai. Penelitian ini bertujuan mengkaji dialektika harapan mesianik dalam Perjanjian Lama melalui relasi antara tradisi historis Israel dan ekspektasi eskatologis dalam konteks krisis. Menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan, penelitian ini menelusuri perkembangan konsep Mesias dari figur raja yang diurapi menuju figur eskatologis yang bersifat transenden. Hasil kajian menunjukkan bahwa pengalaman kehancuran nasional, khususnya pembuangan, menjadi katalis utama yang mentransformasikan harapan mesianik dari realitas historis menuju visi teologis yang lebih luas. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan pendekatan dialektis yang mengintegrasikan dimensi historis dan eskatologis secara simultan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa Mesias dipahami sebagai figur yang menjembatani sejarah dan masa depan, sekaligus memperluas cakupan keselamatan dari Israel menuju bangsa-bangsa. Dengan demikian, konsep mesianik bersifat dinamis dan tetap relevan sebagai sumber refleksi teologis dalam konteks kontemporer.
Paradigma Hikmat dalam Perjanjian Lama sebagai Dasar Teologis Kehidupan yang Holistis Juliyan Prabowo; Yoslan Rido Milla; Bimo Setyo Utomo
Fidelitas: Jurnal Teologi dan Pemikiran Kristen Vol 1 No 1 (2026): Fidelitas: Jurnal Teologi dan Pemikiran Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Doulos Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teologi hikmat dalam Perjanjian Lama umumnya dipahami sebagai kumpulan ajaran moral atau sastra kebijaksanaan sehingga belum banyak dikaji sebagai paradigma teologis yang membangun kehidupan secara holistis. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi paradigma hikmat dalam Perjanjian Lama sebagai dasar teologi kehidupan yang holistis serta menjelaskan relevansinya bagi kehidupan Kristen kontemporer. Penelitian menggunakan metode library research dengan pendekatan teologi biblika.Hasil penelitian menunjukkan bahwa hikmat merupakan prinsip teologis yang berpusat pada Allah, membentuk karakter dan etika, serta mengintegrasikan seluruh dimensi kehidupan dalam satu kerangka yang utuh. Rekonstruksi ini memperlihatkan bahwa teologi hikmat tidak hanya memberikan landasan konseptual bagi pengembangan teologi Perjanjian Lama, tetapi juga menawarkan paradigma yang relevan bagi gereja dalam merespons berbagai tantangan kehidupan kontemporer.