Pendekatan antropologi dalam studi Islam menawarkan perspektif unik dalam memahami agama sebagai fenomena sosial dan budaya yang dinamis. Antropologi mengkaji bagaimana ajaran Islam dipraktikkan secara berbeda oleh komunitas Muslim di seluruh dunia, dipengaruhi oleh konteks budaya, sosial, ekonomi, dan politik. Perspektif holistik ini membantu mengungkap keberagaman praktik keagamaan, seperti yang ditunjukkan oleh Clifford Geertz melalui konsep "santri," "abangan," dan "priyayi" dalam masyarakat Jawa. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka untuk mengeksplorasi pengertian antropologi, perannya dalam studi agama, serta urgensi pendekatan ini dalam memahami Islam. Antropologi agama berfokus pada interaksi antara ajaran agama dan institusi sosial yang mendukungnya. Pendekatan ini relevan di era globalisasi, di mana interaksi lintas budaya memperkaya dan menambah kompleksitas praktik keagamaan. Meskipun pendekatan antropologi memiliki kekurangan, seperti tantangan dalam memisahkan agama dan budaya, serta menjaga objektivitas, kelebihannya terletak pada kemampuannya untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang keberagaman dan adaptasi Islam dalam berbagai konteks. Dengan demikian, pendekatan antropologi penting untuk memperluas wawasan, mendukung inklusivitas, serta mengapresiasi keberagaman praktik keagamaan umat Islam di berbagai komunitas. Studi ini menegaskan bahwa Islam yang telah terlembaga dalam kehidupan sosial, budaya, dan politik masyarakat memerlukan pendekatan holistik untuk memahami kompleksitas interaksi agama dan budaya dalam kehidupan nyata.