ABSTRAK Anemia pada remaja putri masih menjadi masalah kesehatan yang berdampak pada konsentrasi belajar, kebugaran, dan kualitas kesehatan di masa mendatang. Upaya pencegahan yang efektif perlu dilakukan melalui deteksi dini dan edukasi kesehatan yang terstruktur di lingkungan sekolah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk melakukan skrining kadar hemoglobin (Hb) serta meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja putri mengenai pencegahan anemia di SMP 04 di wilayah kerja Puskesmas Jalan Gedang, Kota Bengkulu. Kegiatan dilaksanakan pada bulan Januari 2026 dengan sasaran remaja putri usia 11–15 tahun. Metode kegiatan meliputi tahap persiapan, pelaksanaan skrining Hb pada tanggal 14–15 Januari 2026, serta edukasi selama dua hari pada tanggal 19–20 Januari 2026 yang mencakup materi proses terjadinya anemia, dampak menstruasi lebih dari tujuh hari, personal hygiene, pola makan gizi seimbang tinggi zat besi, konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD), Gerakan Cegah Anemia (GECA), dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Hasil kegiatan menunjukkan sebanyak 56% remaja putri mengalami anema ringan, 10,8% anemia sedang, dan 7% mengalami anemia berat. Serta adanya peningkatan pengetahuan peserta setelah diberikan edukasi, ditandai dengan partisipasi aktif dalam diskusi dan demonstrasi dan peningkatan skor pre test-post test (84.95-93.95). Kegiatan ini menunjukkan bahwa kombinasi skrining dan edukasi interaktif berbasis sekolah dapat menjadi model pengabdian masyarakat yang efektif dalam mendukung pencegahan anemia pada remaja putri secara berkelanjutan. Kata Kunci: Anemia, Remaja Putri, Skrining Hemoglobin, Edukasi Kesehatan, Pencegahan Anemia. ABSTRACT Anemia among adolescent girls remains a significant public health problem that affects learning concentration, physical fitness, and future health outcomes. Effective prevention efforts are needed through early detection and structured health education in school settings. This community service activity aimed to conduct hemoglobin (Hb) screening and to improve the knowledge and awareness of adolescent girls regarding anemia prevention at SMP 04 in the working area of Puskesmas Jalan Gedang, Bengkulu City. The activity was carried out in January 2026 targeting adolescent girls aged 11–15 years. The method consisted of preparation, implementation of Hb screening on January 14–15, 2026, and a two-day educational intervention conducted on January 19–20, 2026. The educational materials covered the pathophysiology of anemia, the impact of menstruation lasting more than seven days, personal hygiene, balanced nutrition with high iron intake, iron supplementation (iron tablets), the Anemia Prevention Movement (GECA), and hygiene and healthy lifestyle practices. The results showed that 56% of participants had mild anemia, 10.8% moderate anemia, and 7% severe anemia. There was also an improvement in participants’ knowledge after the intervention, indicated by active participation during discussions and demonstrations, as well as an increase in pre-test and post-test scores (84.95 to 93.95). This activity demonstrates that the combination of screening and interactive school-based education can serve as an effective community service model in supporting sustainable anemia prevention among adolescent girls. Keywords: Anemia, Adolescent Girls, Hemoglobin Screening, Health Education, Anemia Prevention.