Atik Qurrota A Yunin Al Isyrofi
Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pendidikan Kesehatan Pada Lansia Untuk Meningkatkan Pengetahuan Tentang Penanggulangan Diabetes Melitus Arum Dewi Purwitasari; Atik Qurrota A Yunin Al Isyrofi
Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. 1 No. 5 (2024): Juni
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jpmi.v1i5.1775

Abstract

Diabetes melitus merupakan kondisi tubuh tidak bisa menggunakan atau mengeluarkan hormon insulin secara cukup dan kadar gula darah lebih tinggi dari normal. Penyakit diabetes melitus merupakan penyakit yang tidak menular dan dapat menyerang segala kelompok umur mulai dari remaja hingga lansia namun kebanyakan penderita penyakit diabetes melitus dari kalangan lansia, perlu adanya penanganan khusus untuk menangani penyakit ini. Penyakit diabetes melitus sudah lama menjadi permasalahan kesehatan dan juga menjadi penyebab kematian utama di dunia, selain itu kasus diabetes melitus terus meningkat tiap tahun nya. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan lansia tentang penanggulangan penyakit diabetes melitus. Metode kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan dalam bentuk pemberian Pendidikan kesehatan tentang penanggulangan penyakit diabetes melitus dengan cara ceramah dan tanya jawab. Tahapan kegiatan diawali dengan pengukuran pengetahuan warga tentang penyakit diabetes militus, sebagai data pre tes, selanjutnya pemberian edukasi tentang penyakit diabetes militus dengan cara ceramah dan sesi selanjutnya diskusi tentang materi edukasi yang belum jelas, dan tahapan terakhir adalah mengukur Kembali pengetahuan warga tentang penyakit diabetes militus sebagai data post tes. Hasil pengabdian masyarakat ini adalah sosialisasi mengenai penanggulangan penyakit diabetes melitus berdampak positif terhadap pengetahuan lansia tentang penyakit diabetes melitus. Kegiatan-kegiatan seperti ini kedepanya harus tetap di laksanakan agar dapat meningkatkan kualitas hidup penderita penyakit diabetes melitus khususnya pada usia lansia.
MENINGKATKAN SELF-CONFIDENCE SANTRI SEBAGAI PEER EDUCATOR KESEHATAN REPRODUKSI Wiwik Afridah; Atik Qurrota A Yunin Al Isyrofi; Agus Aan Andriansyah; M. Dwinanda Junaedi
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 6 (2024): Vol. 5 No. 6 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i6.37406

Abstract

Pondok pesantren Burhanul Hidayah yang berada di desa Jenggot Kecamatan Krembung Kabupaten Sidoarjo memiliki 380 santri mukim dengan jumlah perempuan lebih banyak daripada laki-laki. Rentang usia santri antara 13-18 tahun. Melatih santri menjadi kader santri husada menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kegiatan utama bina pesantren yang menjadi program prodi Kesehatan Masyarakat yang bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Profinsi Jawa Timur. Bertujuan untuk menyiapkan santri menjadi peer educator yang terintegrasi dengan kader santri husada melalui tahapan sebagai berikut: (1) Meningkatkan pengetahuan santri mengenai kesehatan reproduksi, (2) Memberikan pemahaman pada santri tentang peran peer educator, (3) Meningkatkan kualitas intrapersonal (benefit, self-efficacy dan self-awareness) guna meningkatkan self-confidence santri, melalui tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Hasil dari seluruh tahapan adalah 1) Meningkatkan pengetahuan santri mengenai kesehatan reproduksi, 2) Memberikan pemahaman pada santri tentang peer educator, dan 3) Meningkatkan kualitas intrapersonal (benefit, self-efficacy dan self-awareness). untuk meningkatkan self-confidence santri. Simpulan dan saran yang didapatkan adalah sebagai peer educator, santri akan memiliki kesempatan untuk memberikan edukasi awal tentang kesehatan reproduksi, serta membangun rasa percaya diri dalam mengimplementasikan keterampilan berkomunikasi antar santri. Tentu, hal ini membutuhkan enrichment secara keberlanjutan bagi kader santri untuk terus memberikan edukasi yang optimal.