p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Historica
Putra, Farhan Anshori
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

The Rise of The Cambodian Muslim Community After the End of The Khmer Rouge Regime in 1979-1980 Ariyanti, Novia Dwi; Putra, Farhan Anshori; Dwi Pratama, Muhammad Wildan
JURNAL HISTORICA Vol. 8 No. 2 (2024): December 2024
Publisher : History Education, University of Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jh.v8i2.39957

Abstract

Masyarakat muslim di Kamboja memiliki catatan sejarah yang kelam. Setelah pemerintahan Sihanouk berakhir, kekuasaan Kamboja diambil alih oleh rezim Khmer Merah yang memiliki ideologi komunis. Keberlangsungan kehidupan masyarakat muslim di Kamboja mulai terancam setelah adanya kebijakan-kebijakan baru yang diterapkan oleh pemerintah Khmer Merah. Mereka membuat kebijakan baru yang menyudutkan masyarakat muslim Kamboja saat itu. Tindakan tindakan yang dilakukan rezim Khmer Merah mendapat respon dari muslim Kamboja. Tindakan Khmer Merah yang memberatkan muslim yang ada di Kamboja ini akhirnya menimbulkan pembangkangan atau gerakan sosial. Pada tahun 1975 umat isla Kamboja telah melakukan pemberontakan untuk menolak merealisasikan kebijakan pemerintah Khmer Merah yang seakan memaksa umat islam. Namun pemberontakan tersebut dengan cepat di padamkan karena tidak mendapat simpati dari masyarakat lainya. Kemudia Khmer Merah menghancurkan desa-desa muslim yang ada dan menganggap muslim Kamboja sebagai musuh internal mereka. Segala gerak gerik muslim di Kaboja di pantau oleh Khmer Merah sehingga membuat mereka semakin tertekan. Hingga pada tertengahan juli 1978 terjadi pemberontakan besar-besaran menentang pemerintahan Khmer Merah. Pemberontakan yang sebagian besar di pelopori oleh rakyat dan tentara Kamboja terjadi hapir di seluruh wilayah. Akhirnya pada 9 Januari 1979 Khmer Merah harus merelakan kekuasaanya di rebut oleh Front Pembebasan Nasional Kamboja.