Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Perdagangan Bilateral Filipina-Amerika: Dinamika, Hambatan dan Prospek Masa Depan Periode 2022-2024 Rizky, Ramadhan Bagas; Alya, Haura Inas; Rahmatulummah, Alia
Business Economic, Communication, and Social Sciences Journal (BECOSS) Vol. 6 No. 3 (2024): BECOSS
Publisher : Bina Nusantara University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21512/becossjournal.v6i3.12111

Abstract

This study examines the dynamics of trade relations between the Philippines and the United States during the leadership of President Bongbong Marcos, the 17th President of the Philippines. The primary objective of this research is to identify obstacles, challenges, and opportunities in the bilateral relations of the two nations, with a particular focus on political, economic, and security aspects. Employing the theories of liberalism and complex interdependence, the study explores how economic cooperation and mutual dependence influence trade policy relations between the Philippines and the United States. The research uses a qualitative descriptive method, involving an in-depth analysis of data and information related to trade policies, bilateral agreements, and external factors that may affect relations during President Bongbong Marcos's administration. The findings reveal that, despite progress in trade cooperation, obstacles such as protectionist policies and global economic instability remain significant challenges. Future prospects indicate substantial growth potential if both nations can overcome these barriers through constructive dialogue and mutually beneficial policy reforms. A limitation of this study lies in the uncertainty of Philippine-U.S. relations due to frequent political dynamics. However, the impact of this research lies in its ability to anticipate the continuation of Philippine-U.S. relations through insights derived from field data.
IRAN DAN KONFLIK PALESTINA: ANTARA DUKUNGAN RETORIS DAN KETERBATASAN TINDAKAN MILITER Munawwarah, Siti Ruyatul; Rahmatulummah, Alia
Mumtaz: Jurnal Studi Al-Quran dan Keislaman Vol 9, No 1 (2025): Mumtaz: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Keislaman
Publisher : Institut PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36671/mumtaz.v9i1.1010

Abstract

The Palestinian conflict is a central issue in Iran’s foreign policy, with Tehran consistently voicing support for the Palestinian struggle, primarily through anti-Israel rhetoric. From a realist perspective, Iran's policy on this conflict is driven by its national interest in expanding influence in the Middle East and challenging the dominance of Israel and its allies. However, despite providing financial, logistical, and military support to groups such as Hamas and Islamic Jihad, Iran’s direct military involvement remains limited. Factors within the concept of regional security, such as the balance of power, international pressure, and the risk of conflict escalation with Israel and its Western allies, restrict Iran's direct military actions. This study finds that Iran's policy toward Palestine is more symbolic and strategic in the context of domestic politics and regional alliances rather than direct military engagement. Thus, Iran relies more on an asymmetric approach by supporting non-state actors rather than engaging in open confrontation.
IRAN DAN KONFLIK PALESTINA: ANTARA DUKUNGAN RETORIS DAN KETERBATASAN TINDAKAN MILITER Munawwarah, Siti Ruyatul; Rahmatulummah, Alia
Mumtaz: Jurnal Studi Al-Quran dan Keislaman Vol. 9 No. 1 (2025): Mumtaz: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Keislaman
Publisher : Pascasarjana Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konflik Palestina merupakan isu sentral dalam kebijakan luar negeri Iran, yang secara konsisten menyuarakan dukungan terhadap perjuangan Palestina, terutama melalui retorika anti-Israel. Dalam perspektif realisme, kebijakan Iran terhadap konflik ini didorong oleh kepentingan nasionalnya untuk memperluas pengaruh di Timur Tengah serta menantang dominasi Israel dan sekutunya. Namun, meskipun Iran memberikan dukungan finansial, logistik, dan persenjataan kepada kelompok-kelompok seperti Hamas dan Jihad Islam, keterlibatan militernya tetap terbatas. Faktor-faktor dalam konsep keamanan regional, seperti keseimbangan kekuatan, tekanan internasional, dan ancaman eskalasi konflik dengan Israel dan sekutu Baratnya, membatasi tindakan militer Iran secara langsung. Studi ini menunjukkan bahwa kebijakan Iran terhadap Palestina lebih bersifat simbolik dan strategis dalam konteks politik domestik dan aliansi kawasan dibandingkan dengan keterlibatan militer langsung. Dengan demikian, Iran lebih mengandalkan pendekatan asimetris melalui dukungan terhadap aktor non-negara dibandingkan dengan konfrontasi terbuka.
FROM KITCHEN TO DIPLOMACY: KOREAN CUISINE AS SOFT POWER Rose, Gadis Hilmi Nabiilah; Rahmatulummah, Alia; Mardanita, Siti
Budi Luhur Journal of Strategic & Global Studies Vol. 3 No. 2 (2025): July
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/jsgs.v3i2.58

Abstract

Abstract: The rise of digital technology has reshaped the global communication landscape, shifting public diplomacy from traditional physical spaces to more interactive virtual platforms. Within this context, gastrodiplomacy—the use of food as a medium for cultural exchange has become a strategic tool for nation branding and soft power. South Korea  stands out as a success case, integrating its culinary traditions with the Korean Wave (Hallyu) to promote national identity and foster positive international perceptions. Through digital platforms like YouTube, Instagram, and Netflix, various Korean cuisines is not only introduced to global audiences but also emotionally engages, particularly in countries like Indonesia. Despite its growing relevance, the specific role of Korean gastrodiplomacy in shaping cultural identity in Indonesia remains underexplored. This study addresses that gap by examining how South Korea leverages culinary diplomacy within digital ecosystems to construct a favorable cultural image. The research employs a qualitative approach, analyzing digital content, media campaigns, and audience reception in Indonesia to understand the dynamics between food, culture, and perception. Findings suggest that the synergy between Korean cuisine and digital media creates dynamic cross-cultural spaces where emotional connections are built through shared experiences. Food, in this context not just as a consumable item but as a narrative tool that conveys values, traditions, and identity. Consequently, Korean gastrodiplomacy emerges as a powerful instrument of soft power, enhancing South Korea’s cultural presence and influence in Indonesia. This study concludes that culinary diplomacy, when effectively mediated through digital platforms, plays a significant role in contemporary cultural diplomacy. Abstrak: Kemajuan teknologi digital telah membentuk ulang lanskap komunikasi global, menggeser diplomasi publik dari ruang fisik tradisional ke platform virtual yang lebih interaktif. Dalam konteks ini, gastrodiplomasi—penggunaan makanan sebagai media pertukaran budaya—telah menjadi alat strategis untuk membangun citra bangsa dan kekuatan lunak (soft power). Korea Selatan menonjol sebagai contoh keberhasilan, dengan mengintegrasikan tradisi kulinernya ke dalam Gelombang Korea (Hallyu) guna mempromosikan identitas nasional dan membentuk persepsi internasional yang positif. Melalui platform digital seperti YouTube, Instagram, dan Netflix, berbagai jenis kuliner Korea tidak hanya diperkenalkan kepada audiens global, tetapi juga membangun keterikatan emosional, terutama di negara-negara seperti Indonesia. Meskipun semakin relevan, peran spesifik gastrodiplomasi Korea dalam membentuk identitas budaya di Indonesia masih belum banyak diteliti. Studi ini berupaya mengisi kekosongan tersebut dengan meneliti bagaimana Korea Selatan memanfaatkan diplomasi kuliner dalam ekosistem digital untuk membangun citra budaya yang menguntungkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan menganalisis konten digital, kampanye media, dan respons audiens di Indonesia guna memahami dinamika antara makanan, budaya, dan persepsi. Temuan menunjukkan bahwa sinergi antara kuliner Korea dan media digital menciptakan ruang lintas budaya yang dinamis, di mana keterikatan emosional terbentuk melalui pengalaman bersama. Dalam konteks ini, makanan tidak hanya menjadi barang konsumsi, tetapi juga alat naratif yang menyampaikan nilai, tradisi, dan identitas. Dengan demikian, gastrodiplomasi Korea muncul sebagai instrumen soft power yang kuat, yang memperkuat kehadiran dan pengaruh budaya Korea Selatan di Indonesia. Studi ini menyimpulkan bahwa diplomasi kuliner, ketika dimediasi secara efektif melalui platform digital, memainkan peran penting dalam diplomasi budaya kontemporer.
OPPORTUNITIES TO ADVANCE INDONESIA'S ECONOMY THROUGH THE OECD AND BRICS Rahmatulummah, Alia; Rizky Ramadhan, Bagas; Alya Naura, Inas
Budi Luhur Journal of Strategic & Global Studies Vol. 3 No. 1 (2025): January
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/jsgs.v3i1.49

Abstract

Abstract: Indonesia's membership in the Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) and BRICS (Brazil, Russia, India, China, South Africa) is a strategic step to strengthen itse conomic and political position on the global stage. In facing globalc hallenges such as the COVID-19 pandemic and commodity pricef luctuations, involvement in these two organizations is expected to provide significant benefits for economic growth and national development. Joining the OECD provides access to best practicesand international standards, which can enhance the quality of public policies and Indonesia's economic reputation. Meanwhile, membership in BRICS offers opportunities to expand export markets and increase cooperation with other developing countries. Despite challenges, such as economic disparities among BRICS members and the need to improve the competitiveness of national products, this move reflects a pragmatic approach in Indonesia's foreign policy. By leveraging opportunities from both organizations, Indonesia can accelerate its economic transformation and achieve the status of a developed nation in line with the vision of Indonesia Gold 2045.  Abstrak: Keanggotaan Indonesia dalam Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dan BRICS (Brazil, Rusia, India, China, Afrika Selatan) merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi ekonomi dan politik di kancah global. Dalam menghadapi tantangan global seperti pandemi COVID-19 dan fluktuasi harga komoditas, keterlibatan dalam kedua organisasi ini diharapkan dapat memberikan manfaat signifikan bagi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan nasional. Bergabung dengan OECD memberikan akses ke praktik terbaik dan standar internasional, yang dapat meningkatkan kualitas kebijakan publik dan reputasi ekonomi Indonesia. Sementara itu, keanggotaan dalam menawarkan peluang untuk memperluas pasar ekspor dan meningkatkan kerjasama dengan negara-negara berkembang lainnya. Meskipun terdapat tantangan, seperti ketimpangan ekonomi antar anggota BRICS dan kebutuhan untuk meningkatkan daya saing produk nasional, langkah ini mencerminkan pendekatan pragmatis dalam politik luar negeri Indonesia. Dengan memanfaatkan peluang dari kedua organisasi ini, Indonesia dapat mempercepat transformasi ekonomi dan mencapai status negara maju sesuai dengan visi Indonesia Emas 2045.