David, Andre Vinsensius
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Komparasi Konsep El-Shadday dan Jubata Panange Sebagai Konstruksi Teologi Feminis Bagi Suku Dayak Kanayatn David, Andre Vinsensius
Jurnal Teologi (Journal of Theology) Vol 13, No 02 (2024)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/jt.v13i02.6765

Abstract

Women's struggles due to patriarchal domination do not only occur in the Bible. This has also been felt by women throughout the ages, including in the Kanayatn Dayak culture. The interpretation and implementation of the sacred texts of the Bible are dominated by men, so that the space for women to reflect on themselves as imago-dei and the image of God in women is very narrow. Not infrequently women who are already rooted in patriarchal culture consider this to be normal and without needing improvement. By historcal-critisizm approach for understanding concept of El-Shadday and Ethnography-Thick Description for the concept of Jubata Panange as God with a female face, which is read cross-textually as an effort to present feminist theology with a new nuance, namely the cultural context of Dayak Kanayatn. Abstrak Pergumulan perempuan akibat dominasi patriarki tidak hanya terjadi di dalam Alkitab. Hal ini juga dirasakan oleh perempuan sepanjang zaman, termasuk dalam budaya Dayak Kanayatn. Penafsiran dan implementasi teks suci Kitab Suci didominasi oleh laki-laki, sehingga ruang bagi perempuan untuk merefleksikan dirinya sebagai imago-dei dan citra Tuhan dalam diri perempuan sangat sempit. Tak jarang perempuan yang sudah mengakar dalam budaya patriarki menganggap hal tersebut sebagai hal yang wajar dan tanpa perlu perbaikan. Dengan pendekatan kritik-historis untuk memahami konsep El-Shadday dan Deskripsi Tebal Etnografi terhadap konsep Jubata Panange hadirlah sebuah gambaran mengenai Allah sebagai Tuhan berwajah perempuan, yang dibaca secara lintas tekstual sebagai upaya menghadirkan teologi feminis dengan nuansa baru, yaitu konteks budaya Dayak Kanayatn.
SEMBOYAN ADIL KA TALINO BACURAMIN KA SARUGA, BASENGAT KA JUBATA" SEBAGAI DASAR PELAYANAN GEREJAWI BAGI SUKU DAYAK KANAYATN David, Andre Vinsensius; Stevanus, Kalis
Jurnal Amanat Agung Vol 21 No 1 (2025): Jurnal Amanat Agung Vol. 21 No. 1 Juni 2025
Publisher : STT Amanat Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47754/jaa.v21i1.672

Abstract

Misi merupakan gagasan Allah sebagaimana diungkapkan Alkitab. Misi Allah adalah mengasihi dunia. Misi Allah tersebut dimandatkan kepada gereja, umat tebusan-Nya. Karena itu, gereja dipanggil terlibat aktif mewujudnyatakan misi Allah tersebut. Untuk mengimplementasikan misi Allah, dibutuhkan upaya kontekstualisasi ke dalam budaya penerima. Salah satu falsafah budaya local di Indonesia khususnya suku Dayak Kanayatn adalah “adil ka’ talino, bacuramin ka’ saruga, basengat ka’ Jubata”. Maksud penulis di sini adalah memaparkan keunikan budaya suku Dayak Kanayatn. Melalui pendekatan crosstextual, kajian ini menunjukkan bahwa semboyan tersebut dapat dijadikan pijakan untuk mewujudkan misi Allah yang lebih humanis melalui pelayanan gereja di tengah komunitas suku Dayak Kanayatn sehingga mereka dapat dimenangkan bagi Kerajaan Allah.