p-Index From 2021 - 2026
8.303
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Kurios Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Jurnal Teologi Berita Hidup Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Jurnal Gamaliel Teologi Praktika PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi Jurnal Amanat Agung JURNAL TERUNA BHAKTI EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Jurnal Teologi Praktika Shift Key: Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi LOGIA : Jurnal Teologi Pentakosta Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Kinaa: Jurnal Kepemimpinan Kristen dan Pemberdayaan Jemaat SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Transformasi Fondasi Iman Kristen dalam Pelayanan Pastoral di Era Society 5.0 Ra'ah KAMASEAN: Jurnal Teologi Kristen DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen THRONOS: Jurnal Teologi Kristen CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Magenang: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Harvester: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Jurnal Efata: Jurnal Teologi dan Pelayanan HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen GRAFTA: Journal of Christian Religion Education and Biblical Studies
Claim Missing Document
Check
Articles

Tujuh Kebajikan Utama Untuk Membangun Karakter Kristiani Anak Stevanus, Kalis
BIA Vol 1, No 1 (2018): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.976 KB) | DOI: 10.34307/b.v1i1.21

Abstract

Character is something that is very important for human progress, both individually and in a nation. This article motivated by the decline of the character of society that appears in the rampant crime, anarchism, vigilante, radicalism, hatred, intolerance, disrespect, terrorism, injustice which is causing violence in various human relationships. Individual and social clashes occurred which are always based on the society background, such as ethnicity, religion and social condition. It cannot be denied if it is said that the root of all this is caused by character problem. Character influences ethical and moral judgment and decision making. By this context, Christian families are called to participate in building the nation through education in family. Christian families become character educators for their children. This article aims to describe seven virtues main, namely compassion, empathy, self-mastery, respect, tolerance, fairness, and patriotism to build child Christian character.  AbstrakKarakter adalah suatu hal yang sangat penting bagi kemajuan manusia, baik secara individual maupun suatu bangsa. Tulisan ini dimotivasi oleh merosotnya karakter masyarakat yang nampak dalam maraknya tindakan kejahatan, anarkhis, main hakim sendiri, radikalisme, kebencian, intoleransi, rasa tidak hormat, terorisme, ketidakadilan, sehingga menyebabkan membudayanya kekerasan dalam berbagai relasi. Terjadi perbenturan-perbenturan  individual dan social yang masih selalu terkait dengan latar  belakang masyarakat, seperti etnis, agama dan keadaan social. Tidak dapat disanggah bila dikatakan akar penyebab semua itu disebabkan oleh problem karakter. Karakter memengaruhi pertimbangan dan pengambilan keputusan etis dan moral. Dalam konteks inilah keluarga Kristen dipanggil untuk turut serta membangun bangsa melalui pendidikan di keluarga. Keluarga Kristen menjadi pendidik karakter bagi anak-anaknya. Tulisan ini bertujuan mendiskripsikan tujuh kebajikan utama, yaitu belas kasih, empati, penguasaan diri, rasa hormat, toleransi, adil, dan cinta tanah air, untuk membangun karakter Kristiani anak.
Kristus dan Krisna: Upaya Menemukan Point of Contact Dalam Mendialogkan Injil Purwoto, Paulus; Setiawan, David Eko; Stevanus, Kalis
Jurnal Teologi Praktika Vol 1, No 2 (2020): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tenggarong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51465/jtp.v1i2.17

Abstract

AbstractThe religious comparative dialogue is one of the effective means of carrying out the mission of the church, in the midst of a pluralistic society, especially for followers of the Hindu religion. An interesting concept in Christianity and Hinduism that can be compared is about Krishna and Christ. This study aims to make a comparison about the person of Christ and Krishna, and to interpret the concept of salvation they offer as an effort to find a point of contac in the dialogue of the Gospel to Hindu people in Indonesia. This study uses a library research method where the researcher tries to answer the research problem by looking for literature sources that correlate with the research problem, both textbooks and journals. The conclusion of this study is that there is a meeting point in the concept of salvation between Christ and Krishna which is useful in dialoguing the gospel to Hindu adherents in Indonesia. AbstrakDialog komparasi keagamaan merupakan salah satu sarana yang efektif bagi pelaksanaan misi gereja, ditengah masyarakat mejemuk khususnya terhadap penganut agama Hindu. Konsep yang menarik dalam agama Kristen dan Hindu yang dapat  dilakukan komparasi adalah tentang Krisna dan kristus. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan komparasi tentang pribadi Kristus dan Krishna, serta memaknai konsep keselamatan yang mereka tawarkan sebagai sebuah upaya untuk menemukan point of contac dalam mendialogkan Injil kepada umat Hindu di Indonesia. Penelitian  ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dimana peneliti berusaha menjawab permasalahan penelitian dengan mencari sumber-sumber literatur yang berkorelasi dengan masalah penelitian baik buku teks, maupun  jurnal. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat titik temu di dalam konsep keselamatan  antara Kristus dan Krishna yang berguna dalam mendialogkan Injil kepada penganut Hindu di Indonesia.  
Kepastian Keselamatan dalam Kisah Para Rasul 4:12 sebagai Pendorong Pekabaran Injil Arifianto, Yonatan Alex; Stevanus, Kalis
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 3, No 1: Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.44 KB) | DOI: 10.52220/magnum.v3i1.136

Abstract

The salvation received by believers as a gift from God, is sometimes only accepted selfishly without prioritizing other people who have not accepted and know the truth of this salvation. believers think that mission is the job of church leaders and ministers only so there is no motivation in preaching the gospel of salvation. The author describes the study of the certainty of salvation as an incentive for believers to continue to preach the news of salvation for all mankind. Using descriptive qualitative methods with a literature study approach, it can be concluded that the certainty of salvation in Acts 4:12 is the driving force for evangelism. It is part of the actualization of the Great Commission of the Lord Jesus which will continue to be carried out until His second coming. By doing and understanding, first, understand that in the theological study and exegesis of Acts 4:12 found the value of salvation which is only found in the Name of Jesus Christ. Second, it leads believers to believe that Salvation is exclusive in Jesus Christ as part of the believer's faith and spirituality. The three believers can understand the nature and essence of evangelism which plays a very important role in educating believers to keep the spirit of preaching the gospel. The four believers are required to actualize the Great Commission as an indicator of believers in the role of evangelism. This is done as part of God's plan to make believers God's co-workers who bring good news to those who do not know the truth in Acts 4:12. AbstrakKeselamatan yang diterima oleh orang percaya sebagai anugrah Tuhan, terkadang hanya diterima secara egois tanpa mementingkan orang lain yang belum menerima dan mengenal kebenaran keselamtan tersebut. orang percaya mengangap bahwa misi adalah tugas para pemimpin dan pelayan gereja saja sehingga tidak adanya motivasi dalam memberitakan injil keselamatan. Penulis mendeskripsikan kajian kepastian keselamatan sebagai pendorong orang percaya untuk terus memberitakan kabar keselamatan bagi seluruh manusia. Menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature maka dapat disimpulkan bahwa kepastian keselamatan dalam Kisah Para Rasul 4:12 sebagai pendorong pekabaran Injil. Merupakan sebagai bagian dari aktualisasi Amanat Agung Tuhan Yesus yang terus dikerjakan sampai kedatanganNya kedua kali. Dengan mengerjakan dan memahami, yang pertama, menegerti bahwa dalam kajian teologis dan eksegese Kisah Para Rasul 4:12 ditemukan nilai keselamatan yang hanya ditemukan di dalam Nama Yesus Kristus.  Kedua, Hal tersebut membawa orang percaya untuk mengimani bahwa Keselamatan eksklusif dalam Yesus Kristus sebagai bagian dari iman dan kerohanian orang percaya. Ketiga ornag percaya dapat memahami adanya hakikat dan esensi penginjilan yang sangat berperan mengedukasi orang percaya untuk tetap semangat memberitakan Injil. Keempat orang percaya diwajibkan mengaktualisasi Amanat Agung sebagai indikator orang percaya dalam peran penginjilan. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari rencan Tuhan menjadikan orang percaya kawan sekerja Allah yang membawa kabar baik bagi mereka yang belum mengenal kebenaran dalam Kisah para Rasul 4: 12. 
Kristus dan Krisna: Upaya Menemukan Point of Contact Dalam Mendialogkan Injil Paulus Purwoto; David Eko Setiawan; Kalis Stevanus
Jurnal Teologi Praktika Vol 1, No 2 (2020): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tenggarong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51465/jtp.v1i2.17

Abstract

AbstractThe religious comparative dialogue is one of the effective means of carrying out the mission of the church, in the midst of a pluralistic society, especially for followers of the Hindu religion. An interesting concept in Christianity and Hinduism that can be compared is about Krishna and Christ. This study aims to make a comparison about the person of Christ and Krishna, and to interpret the concept of salvation they offer as an effort to find a point of contac in the dialogue of the Gospel to Hindu people in Indonesia. This study uses a library research method where the researcher tries to answer the research problem by looking for literature sources that correlate with the research problem, both textbooks and journals. The conclusion of this study is that there is a meeting point in the concept of salvation between Christ and Krishna which is useful in dialoguing the gospel to Hindu adherents in Indonesia. AbstrakDialog komparasi keagamaan merupakan salah satu sarana yang efektif bagi pelaksanaan misi gereja, ditengah masyarakat mejemuk khususnya terhadap penganut agama Hindu. Konsep yang menarik dalam agama Kristen dan Hindu yang dapat  dilakukan komparasi adalah tentang Krisna dan kristus. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan komparasi tentang pribadi Kristus dan Krishna, serta memaknai konsep keselamatan yang mereka tawarkan sebagai sebuah upaya untuk menemukan point of contac dalam mendialogkan Injil kepada umat Hindu di Indonesia. Penelitian  ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dimana peneliti berusaha menjawab permasalahan penelitian dengan mencari sumber-sumber literatur yang berkorelasi dengan masalah penelitian baik buku teks, maupun  jurnal. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat titik temu di dalam konsep keselamatan  antara Kristus dan Krishna yang berguna dalam mendialogkan Injil kepada penganut Hindu di Indonesia.  
Kepemimpinan Gembala Jemaat Menurut 2 Timotius 4:1-5 KALIS STEVANUS
KINAA: Jurnal Kepemimpinan Kristen dan Pemberdayaan Jemaat Vol. 2 No. 2 (2021): Kinaa: Jurnal Kepemimpinan Kristen dan Pemberdayaan Jemaat. Vol 2, No 2, Desemb
Publisher : IAKN TORAJA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/kinaa.v2i2.31

Abstract

Abstract: In today's increasingly complex culture, every institution undergoes changes, and spiritual institutions such as churches are not immune to these changes. The church undergoes a change in its role and context. There is confusion about what a church leader, the pastor of the congregation, should do. There is confusion about how a pastor of the church administers his leadership. This paper aims to describe how leadership in the church should be viewed from a biblical perspective, especially according to 2 Timothy 4:1-5. The author uses a library approach and presents it descriptively. To analyze the text of 2 Timothy 4:1-5, the writer uses the critical historical interpretation method to find the concept of leadership of a church pastor. It was found that the leadership concept of a church pastor is, first: the pastor is a divine appointment and favor; second is that the shepherd must obey in preaching the word; the third is that the pastor of the church must have the courage to state his faults; fourth is the courage to rebuke and advise; fifth is the pastor of the church must be able to control himself in all things; the sixth is that the pastor of the church is required to suffer patiently for the sake of preaching the gospel; the seventh is to be faithful in preaching the gospel; Finally, the pastor of the church needs to complete the ministry task completely. This leadership model is expected to be a material for reflection and learning for leaders in the local church regardless of the church organization.  Keywords: Historical Critical, Local Church, Leadership, Pastor.   Abstrak: Dalam budaya zaman sekarang yang semakin kompleks, setiap lembaga mengalami perubahan, dan lembaga rohani seperti gereja pun tidak kebal terhadap perubahan tersebut. Gereja mengalami perubahan dalam peran dan konteksnya. Ada kebingungan tentang apa yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin gereja, yaitu gembala jemaat. Ada kebingungan tentang bagaimana seorang gembala jemaat menyelenggarakan kepemimpinannya. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana semestinya kepemimpinan di gereja  dipandang dari perspektif Alkitab khususnya menurut 2 Timotius 4:1-5. Penulis menggunakan pendekatan kepustakaan dan menyajikannya secara deskriptif. Untuk menganalisis teks 2 Timotius 4:1-5, penulis menggunakan metode tafsir historis kritis guna menemukan konsep kepemimpinan seorang gembala jemaat. Ditemukan konsep kepemimpinan seorang gembala jemaat adalah, pertama: gembala jemaat adalah penunjukan dan perkenanan ilahi; kedua adalah gembala harus taat memberitakan firman; ketiga adalah gembala jemaat harus berani menyatakan kesalahan; keempat adalah berani menegur dan menasihati; kelima adalah gembala jemaat harus dapat menguasai diri dalam segala hal; keenam adalah gembala jemaat dituntut sabar menderita demi pemberitaan Injil; ketujuh adalah harus setia memberitakan Injil; terakhir adalah gembala jemaat perlu menyelesaikan tugas pelayanan secara tuntas. Model kepemimpinan ini diharapkan menjadi bahan refleksi dan pembelajaran bagi para pemimpin di gereja lokal apa pun organisasi gerejanya.. Kata-kata Kunci: Gembala jemaat, Gereja Lokal, Historis Kritis, Kepemimpinan
Ekualitas antara Laki-laki dan Perempuan: Upaya Mereduksi Kekerasan secara Domestik Firman Panjaitan; Kalis Stevanus
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 1, No 2 (2020): Juni 2020
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.638 KB) | DOI: 10.55884/thron.v1i2.3

Abstract

The phenomenon of violence against wives in the household is often seen in the unbalanced application of the problem of sexual division of labor. In eastern societies, this has been seen as common and normal; but if we want to look deeper, it turns out this actually creates an imbalance in the duties and roles of husband and wife in the household. This paper aims to highlight the above, while at the same time to criticizing it etically-theologically. To support this research, the method used is Literary Research especially by examining the various views that support every effort to solve problems related to domestic violence. Through sufficient critical and analytical discussion, it was finally found that violence against wives within the household sphere needs to be eliminated and replaced with a correct understanding of the position alignment between husband and wife. There is no longer a pattern of ordination-subordination relations, because the two are the same and parallel. Thus, the terminology that needs to be developed in building relationships in the family is alignment, in order to eliminate acts of violence in the family.Abstrak: Fenomena kekerasan terhadap istri dalam rumah tangga seringkali terlihat dalam pemberlakuan yang tidak seimbang dalam masalah pembagian kerja secara seksual. Dalam masyarakat timur, hal ini sudah dipandang biasa dan lumrah; namun jika mau meninjau lebih dalam lagi ternyata hal ini justru menimbulkan ketidakseimbangan tugas dan peran suami-istri dalam rumah tangga. Tulisan ini hendak menyoroti hal tersebut di atas, sekaligus mengkritisinya secara etis-teologis. Untuk menunjang penelitian tersebut, maka metode yang digunakan adalah studi kepustakaan khususnya dengan meneliti berbagai macam pandangan yang menunjang setiap upaya untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan kekerasan domestik. Melalui pembahasan yang cukup kritis dan analitis, akhirnya dijumpai bahwa kekerasan terhadap istri dalam lingkup rumah tangga perlu dihapuskan dan digantikan dengan pemahaman yang benar mengenai kesejajaran posisi antara suami dan istri. Tidak ada lagi pola hubungan ordinasi-subordinasi, karena keduanya adalah sama dan sejajar. Dengan demikian terminologi yang perlu untuk ditumbuhkembangkan dalam membangun hubungan dalam keluarga adalah kesejajaran, agar bisa menghilangkan tindakan kekerasan dalam keluarga.
Pentingnya Menekankan Bukti Internal Ketaksalahan Alkitab Kalis Stevanus; Yunianto Yunianto
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 2, No 1 (2020): Desember 2020
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (547.652 KB) | DOI: 10.55884/thron.v2i1.18

Abstract

Not a few Christians secretly question the truth of the Bible as God's Word. This happens because there are allegations that the Bible has been corrupted, the Bible is no longer authentic, there must be another book that complements it, and so on. Responding to these accusations, every Christian is called to answer properly and correctly. This paper aims to provide strong and convincing evidence for the inerrancy of the Bible. The method used is biblical analysis through inductive investigation from primary sources, namely the Bible itself, and also by utilizing literature study through literature relevant to the topic of discussion. The findings show by presenting internal evidence from the Bible itself that the Bible is true, without error. The Bible is revealed by the Spirit of God through His chosen people so that the original text has an error-free quality. Not only in matters relating to morality and spirituality, but also in matters relating to history, geography, and science. Thus, the Bible that exists today even though it is not the original text is God's revelation for mankind. The whole is the infallible Word of God which reveals the truth from God.AbstrakTidak sedikit orang Kristen yang diam-diam mempertanyakan kebenaran Alkitab sebagai Firman Tuhan. Hal ini terjadi karena adanya tuduhan bahwa Injil telah dipalsukan, Alkitab sudah tidak asli lagi, harus ada buku lain yang melengkapi, dan sebagainya. Menanggapi tuduhan tersebut, setiap orang Kristen dipanggil untuk menjawab dengan baik dan benar. Tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan bukti-bukti yang kuat dan meyakinkan tentang ketaksalahan Alkitab. Metode yang digunakan adalah analisis biblikal melalui penyelidikan induktif dari sumber primer, yaitu Alkitab sendiri dan juga dengan memanfaat studi pustaka melalui literatur-literatur yang relevan dengan topik pembahasan. Hasil temuan memperlihatkan dengan meng-hadirkan bukti internal dari Alkitab sendiri itu sendiri adalah Alkitab itu benar, tanpa kesalahan. Alkitab diwahyukan oleh Roh Allah melalui manusia yang dipilih-Nya sehingga teks aslinya memiliki kualitas yang bebas dari kesalahan. Tidak hanya dalam hal yang berkaitan dengan moralitas dan spiritualitas, tetapi juga dalam hal-hal yang berkaitan dengan sejarah, geografi dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, Alkitab yang ada sekarang ini meskipun bukan teks asli adalah wahyu Tuhan bagi umat manusia. Keseluruhan adalah Firman Tuhan yang sempurna yang menyatakan kebenaran dari Tuhan.
Karya Roh Kudus yang Karismatik dalam Kehidupan Kristus Menurut Injil Lukas dan Implikasinya bagi Orang Percaya Kalis Stevanus
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 1, No 2 (2022): Maret 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.14 KB) | DOI: 10.54592/jct.v1i2.23

Abstract

This research method is a descriptive qualitative method with the aim of describing the role of the Holy Spirit in the life of Christ specifically from Luke's writings in the Gospel of Luke. This paper is expected to complement and add to the understanding of what has been written and understood by many theologians and Christians, so that readers can benefit from their Christian faith life. The search results in Luke's Gospel show that Luke emphasizes the charismatic work of the Holy Spirit. In Luke's charismatic theology, the Holy Spirit plays a key role in the history of salvation. This is shown especially in the life of Jesus as a charismatic prophet. Jesus was not only anointed by the Holy Spirit, but was filled and led by the Spirit. For Luke, it was impossible to separate Jesus' salvific mission from the charismatic work of the Holy Spirit.ABSTRAKMetode penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan maksud untuk memaparkan peran Roh Kudus dalam kehidupan Kristus secara khusus dari tulisan Lukas di dalam Injil Lukas. Tulisan ini diharapkan dapat melengkapi dan menambah pemahaman apa yang selama ini sudah ditulis dan dipahami oleh banyak teolog maupun umat Kristen, sehingga pembaca mendapat manfaat bagi kehidupan iman kristianinya. Hasil penelusuran di dalam Injil Lukas menunjukkan Lukas memberi penekanan pada karya karismatik Roh Kudus. Di dalam teologi karismatiknya Lukas, Roh Kudus memegang peran kunci dalam sejarah keselamatan. Hal itu ditunjukkan khususnya di dalam hidup Yesus sebagai nabi karismatik. Yesus bukan saja diurapi oleh Roh Kudus, tetapi dipenuhi dan dipimpin oleh Roh. Bagi Lukas, tidaklah mungkin untuk memisahkan misi keselamatan Yesus dari karya Roh Kudus yang karismatik dan misioner. Kata kunci: Injil Lukas, Karismatik, Kristus, Roh Kudus
Menyoal Konsep Kesembuhan Tubuh: Suatu Kajian Teologis: Questioning the Concept of Body Healing: A Theological Study Kalis Stevanus
PASCA : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 17 No 2 (2021): PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46494/psc.v17i2.154

Abstract

The Bible records many texts dealing with the subject of healing the body. This study uses a literature approach by digging sources from journal articles and books and then analyzing them using the Bible to produce in-depth and comprehensive theological conclusions. The conclusion of this study shows that healing of the body can occur through natural healing, medical healing, and divine healing miracles or miracles. The implication is theological; Christians may believe that miracle healing still exists and can pray to God so that healing that comes from Him can be experienced now. And the practical implication is that Christians must still be responsible for taking care of their bodies' health proportionally because their bodies are the temple of God.
Strategi Pendidikan Kristen dalam Pembentukan Warga Gereja yang Unggul dan Berkarakter Berdasarkan Perspektif Kristiani Kalis Stevanus; Nathanail Sitepu
SANCTUM DOMINE: JURNAL TEOLOGI Vol 10 No 1 (2020): SANCTUM DOMINE December 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Nazarene Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46495/sdjt.v10i1.84

Abstract

Character education is an urgent need for quality Indonesian human development. Character education, apart from taking place in the context of the family and school, also takes place in the church environment. The purpose of this paper is to explain the significance of the church's strategic role as an educational agent and facilitator in shaping church members with Christ's character. The research method used is qualitative research with theological studies using the Bible and literature according to the subject, then analyzed and presented descriptively. From this research, it can be concluded that there are two strategies of the church in forming young generations with Christian characteristics, namely (1) the church must complete its wages, especially families so that the family functions as a place where Christian character and values ​​live, grow and develop in children. ; (2) the church must equip its members who are teachers so that they are committed to Christ's call for the development of teacher professionalism.