Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Endometriosis Umbilikal Primer: Laporan Kasus Kalesaran, Laurens; Torar, Ridel
Medical Scope Journal Vol. 7 No. 1 (2025): Medical Scope Journal
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/msj.v7i1.58560

Abstract

Abstract: Primary umbilical endometriosis (PUE) is characterized by the presence of endometrial tissue in the umbilicus without a prior history of surgery, often accompanied by cyclical bleeding corresponding to the menstrual cycle. We reported a 41-year-old woman presented with cyclical bleeding from the umbilicus, coinciding with her menstrual periods for several months. Physical examination revealed a small, firm nodule with blood secretion at the umbilicus. The patient had no history of abdominal trauma or previous surgery. Abdominal ultrasonography suggested a diagnosis of umbilical endometriosis. The patient underwent total excision of the umbilical nodule, and histopathological examination confirmed the presence of endometrial tissue. This PUE should be considered as a differential diagnosis in reproductive-age women presenting with umbilical bleeding associated with the menstrual cycle. In this case, the absence of surgical history made the diagnosis of PUE more evident. Surgical treatment with total excision is the main therapeutic option to prevent recurrence. Post-excision histopathological examination is crucial to confirm the diagnosis. This study highlights the importance of clinical awareness of this rare condition to ensure early diagnosis. In conclusion, PUE is a rare condition that should be suspected in patients with the characteristic symptom of cyclical umbilical bleeding. Surgical excision with histopathological confirmation is the standard treatment, with a good prognosis and minimal risk of recurrence. Keywords: primary umbilical endometriosis; umbilical bleeding; surgical excision   Abstrak: Endometriosis umbilikalis primer (EUP) ditandai dengan adanya jaringan endometrium di umbilikus tanpa riwayat operasi sebelumnya, yang sering disertai perdarahan siklik sesuai dengan siklus menstruasi. Kami melaporkan kasus seorang wanita berusia 41 tahun dengan keluhan perdarahan siklik dari umbilikus yang selalu bertepatan dengan periode menstruasinya selama beberapa bulan terakhir. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya nodul kecil dan keras dengan sekresi darah di umbilikus. Pasien tidak memiliki riwayat trauma abdomen atau operasi sebelumnya. Pemeriksaan ultrasonografi abdomen mengarahkan kepada diagnosis endometriosis umbilikalis. Pasien menjalani eksisi total nodul umbilikalis, dan hasil histopatologik mengonfirmasi adanya jaringan endometrium. EUP harus dipertimbangkan sebagai diagnosis banding pada wanita usia reproduktif dengan keluhan perdarahan umbilikalis yang berhubungan dengan siklus menstruasi. Pada kasus ini, tidak adanya riwayat operasi menjadikan diagnosis EUP lebih jelas. Pembedahan berupa eksisi total merupakan pilihan terapi utama untuk menghindari kekambuhan. Pemeriksaan histopatologik pasca-eksisi sangat penting untuk memastikan diagnosis. Studi ini menekankan pentingnya kesadaran klinis terhadap kondisi langka ini agar diagnosis dapat ditegakkan lebih dini. Simpulan studi ini ialah endometriosis umbilikalis primer merupakan kondisi langka yang penting untuk diwaspadai pada pasien dengan gejala khas berupa perdarahan umbilikalis yang siklik. Eksisi bedah dengan konfirmasi histopatologi menjadi standar penanganan utama, dengan hasil prognosis yang baik dan risiko kekambuhan minimal. Kata kunci: endometriosis umbilikalis primer; perdarahan umbilikus; eksisi bedah
Analisis Faktor yang Memengaruhi Keterlambatan Diagnosis dan Tatalaksana Pasien Kanker Payudara Stadium Lanjut di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Merung, Marselus A.; Saleh, Denny; Torar, Ridel
Medical Scope Journal Vol. 8 No. 2 (2026): MEDICAL SCOPE JOURNAL
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/msj.v8i2.67061

Abstract

Abstract: Most breast cancer cases in Indonesia are diagnosed in advanced stages, and even metastasis, underscoring the urgency of timely intervention. This study aimed to examine the effects of knowledge, attitudes and behaviors, fear, social support, and the Covid-19 pandemic on diagnostic delay and treatment delay, as well as to evaluate the impact of diagnostic delay on subsequent treatment delay at Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital. This was a quantitative analyticalal study with a cross-sectional design, using purposive non-probability sampling. A total of 112 patients with advanced-stage breast cancer were recruited between October and November 2024 and assessed using a structured questionnaire. Data were analyzed using SPSS with multiple linear regression.The results showed that knowledge, attitudes and behaviors, fear, social support, and the Covid-19 pandemic significantly influenced diagnostic delay (R²=0.605), with knowledge (β=0.537) and the Covid-19 pandemic (β=0.320) being the strongest predictors. These factors also significantly contributed to treatment delay (R²=0.948), with attitudes and behaviors (β=0.935) and social support (β=0.876) demonstrating the greatest effects. Furthermore, diagnostic delay exerted a positive and significant influence on treatment delay (R²=0.304, β=0.200). In conclusion, a multidimensional approach encompassing improved public health education, psychosocial support, and streamlined healthcare pathways is essential to mitigate delays in diagnosis and treatment, ultimately enhancing clinical outcomes for breast cancer patients. Keywords: breast cancer; diagnostic delay; treatment delay   Abstrak: Sebagian besar kasus kanker payudara di Indonesia ditemukan pada stadium lanjut, bahkan telah bermetastasis, yang menyoroti pentingnya intervensi tepat waktu. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pengetahuan, sikap dan perilaku, ketakutan, dukungan sosial, dan pandemi Covid-19 terhadap keterlambatan diagnosis dan keterlambatan pengobatan, serta dampak keterlambatan diagnosis terhadap keterlambatan pengobatan di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou. Jenis penelitian ialah analitik kuantitatif dengan desain potong lintang, menggunakan non-probability sampling dengan metode purposive sampling. Penelitian dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang diberikan kepada 112 pasien kanker payudara stadium lanjut selama bulan Oktober hingga November 2024 dan data dianalisis menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan, sikap dan perilaku, ketakutan, dukungan sosial, dan pandemi Covid-19 secara bermakna mempengaruhi keterlambatan diagnosis (R²=0,605). Pengetahuan (β=0,537) dan pandemi Covid 19 (β=0,320) merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap keterlambatan diagnosis. Faktor-faktor ini juga secara bermakna memengaruhi keterlambatan pengobatan (R²=0,948), dengan sikap dan perilaku (β=0,935) dan dukungan sosial (β=0,876) menunjukkan pengaruh terbesar. Keterlambatan diagnostik secara positif dan bermakna memengaruhi keterlambatan pengobatan (R²=0,304, β=0,200). Simpulan penelitian ini ialah pendekatan multidimensi, termasuk peningkatan edukasi publik, dukungan psikososial, dan peningkatan alur layanan, sangat penting untuk mengurangi keterlambatan ini dan pada akhirnya meningkatkan hasil pengobatan pasien. Kata kunci: kanker payudara; keterlambatan diagnosis; keterlambatan tatalaksana