Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KONTAMINASI STAPHYLOCOCCUS SP. PADA GAGANG PINTU TOILET FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS CENDERAWASIH Sidabutar, Astrina Rosaria Indah; Sembay, Jimmy Victor John; Manurung , Joel Herbet Marudut Hasiholan; Rusman, Nuraliah
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 4 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i4.33701

Abstract

Kulit tangan manusia berperan dalam penyebaran mikroorganisme dari satu individu ke individu lainnya atau dari individu ke lingkungan sekitar. Gagang pintu toilet umum termasuk permukaan benda yang intensitasnya tinggi dipegang oleh manusia secara bergantian sehingga berpotensi menjadi reservoir bagi bakteri patogen, termasuk Staphylococcus sp. yang dapat menyebabkan berbagai infeksi pada manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kontaminasi bakteri Staphylococcus sp. pada gagang pintu toilet di Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel diambil dari gagang pintu toilet di berbagai lokasi di Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih menggunakan teknik swab steril. Identifikasi bakteri dilakukan melalui kultur pada media Mannitol Salt Agar (MSA) dan serangkaian uji biokimia. Total 9 sampel dikumpulkan dari toilet mahasiswa, dosen, dan staf yang dilaksanakan pada bulan April sampai Juli 2023. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa dari  9 gagang pintu keluar toilet yang ada di gedung Fakultas Kedokteran Uncen terkontaminasi bakteri jenis Staphylococcus aureus ditemukan pada 5 gagang pintu (45%) dan bakteri Staphylococcus epidermidis ditemukan pada 2 gagang pintu (18%). Tingkat kontaminasi bakteri Staphylococcus sp. pada gagang pintu toilet di Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih tergolong tinggi. Temuan ini mengindikasikan perlunya peningkatan protokol kebersihan dan desinfeksi secara berkala, serta edukasi mengenai kebersihan tangan bagi seluruh civitas akademika.
Karakteristik Korban Kekerasan Seksual Yang Diperiksa di Rumah Sakit Tingkat II Bhayangkara Jayapura Periode 2020-2024 Sembay, Jimmy Victor John; M, Novianto
Jurnal Penelitian Inovatif Vol 6 No 1 (2026): JUPIN Februari 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jupin.1948

Abstract

Kekerasan seksual masih menjadi masalah serius di Papua dan memerlukan dukungan data medis forensik untuk kepentingan penegakan hukum dan perlindungan korban. Informasi mengenai karakteristik korban kekerasan seksual yang diperiksa di fasilitas kesehatan forensik di Papua masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik korban kekerasan seksual yang diperiksa di Rumah Sakit Tingkat II Bhayangkara Jayapura pada periode 2020–2024. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif retrospektif dengan data sekunder yang diperoleh dari rekam medis korban kekerasan seksual. Seluruh kasus yang tercatat selama periode penelitian diambil sebagai sampel (total sampling). Variabel yang diteliti meliputi usia, jenis kelamin, suku, tingkat pendidikan, jenis kekerasan seksual, hubungan pelaku dengan korban, wilayah hukum penyidikan, serta riwayat kehamilan pada kasus perkosaan. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar korban berada pada usia remaja (10–18 tahun) dan berjenis kelamin perempuan. Tingkat pendidikan korban terbanyak adalah sekolah menengah pertama. Jenis kekerasan seksual yang paling sering ditemukan adalah perkosaan, dengan pelaku umumnya merupakan orang yang dikenal oleh korban. Sebagian kecil kasus perkosaan disertai dengan kehamilan. Kasus kekerasan seksual paling banyak berasal dari wilayah hukum Polresta Jayapura Kota. Penelitian ini menunjukkan bahwa kekerasan seksual di Jayapura banyak terjadi pada kelompok usia rentan dan melibatkan pelaku dari lingkungan terdekat korban. Oleh karena itu, diperlukan peran aktif tenaga medis forensik dalam pemeriksaan dan pencatatan kasus, serta kerja sama yang lebih baik dengan aparat penegak hukum untuk mendukung proses hukum dan perlindungan korban.