Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

GAMBARAN STATUS GIZI PADA BALITA di PUSKESMAS HAMADI JAYAPURA Rahayu, Agnes S; Jembise, Trajanus L; Elieser, Elieser; M, Novianto; Iswanto, Dais
Jurnal Medika Malahayati Vol 8, No 2 (2024): Volume 8 Nomor 2
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jmm.v8i2.13158

Abstract

Penderita gizi kurang di dunia mencapai 104 juta anak dan keadaan gizi kurang masih menjadi penyebab sepertiga dari seluruh penyebab kematian anak di seluruh dunia. Asia Selatan merupakan wilayah dengan prevalensi gizi kurang terbesar di dunia, yaitu sebesar 46% kemudian wilayah    sub-Sahara Afrika 28%, Amerika Latin 7% dan yang paling rendah terdapat di Eropa Tengah, Timur, dan Commonwealth of Independent States (CEE/CIS) sebesar 5%. Saat ini Indonesia masih mengalami permasalahan kekurangan gizi yaitu gizi kurang buruk, pendek (stunting), dan kurus (wasting) yang masih tergolong tinggi bila dibandingkan dengan angka ambang batas menurut World Health Organization (WHO). Selama penelitian yang dilakukan pada periode bulan Juni 2023 di empat posyandu wilayah kerja Puskesmas Hamadi diperoleh data total 176 balita, sebanyak 90 orang laki-laki dan perempuan sebanyak 86 orang. Status gizi balita yang diukur  menggunakan  3 indikator, yaitu berat badan menurut usia (BB/U), tinggi badan menurut usia (TB/U), dan berat badan menurut tinggi badan (BB/ TB). Pada hasil penelitian ini, diketahui sebagian besar status gizi anak usia 0-59 bulan menurut 3 indikator tersebut mayoritas anak memiliki status gizi yang baik. Namun, masih ditemukan masalah gizi kurang sampai buruk, perawakan pendek-sangat pendek (stunting), perawakan kurus-sangat kurus (wasting) dan perawakan gemuk (overweight-obes). Hasil penelitian dapat digunakan untuk landasan evaluasi monitoring program relevan di daerah tersebut. 
Karakteristik Korban Kekerasan Seksual Yang Diperiksa di Rumah Sakit Tingkat II Bhayangkara Jayapura Periode 2020-2024 Sembay, Jimmy Victor John; M, Novianto
Jurnal Penelitian Inovatif Vol 6 No 1 (2026): JUPIN Februari 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jupin.1948

Abstract

Kekerasan seksual masih menjadi masalah serius di Papua dan memerlukan dukungan data medis forensik untuk kepentingan penegakan hukum dan perlindungan korban. Informasi mengenai karakteristik korban kekerasan seksual yang diperiksa di fasilitas kesehatan forensik di Papua masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik korban kekerasan seksual yang diperiksa di Rumah Sakit Tingkat II Bhayangkara Jayapura pada periode 2020–2024. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif retrospektif dengan data sekunder yang diperoleh dari rekam medis korban kekerasan seksual. Seluruh kasus yang tercatat selama periode penelitian diambil sebagai sampel (total sampling). Variabel yang diteliti meliputi usia, jenis kelamin, suku, tingkat pendidikan, jenis kekerasan seksual, hubungan pelaku dengan korban, wilayah hukum penyidikan, serta riwayat kehamilan pada kasus perkosaan. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar korban berada pada usia remaja (10–18 tahun) dan berjenis kelamin perempuan. Tingkat pendidikan korban terbanyak adalah sekolah menengah pertama. Jenis kekerasan seksual yang paling sering ditemukan adalah perkosaan, dengan pelaku umumnya merupakan orang yang dikenal oleh korban. Sebagian kecil kasus perkosaan disertai dengan kehamilan. Kasus kekerasan seksual paling banyak berasal dari wilayah hukum Polresta Jayapura Kota. Penelitian ini menunjukkan bahwa kekerasan seksual di Jayapura banyak terjadi pada kelompok usia rentan dan melibatkan pelaku dari lingkungan terdekat korban. Oleh karena itu, diperlukan peran aktif tenaga medis forensik dalam pemeriksaan dan pencatatan kasus, serta kerja sama yang lebih baik dengan aparat penegak hukum untuk mendukung proses hukum dan perlindungan korban.