Ketimpangan distribusi guru dan ketersediaan Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri di Indonesia menjadi tantangan serius dalam mewujudkan pemerataan pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengevaluasi distribusi jumlah guru, siswa, dan sekolah SMA Negeri dengan menerapkan algoritma K-Means Clustering. Data bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023–2024 yang mencakup seluruh provinsi di Indonesia. Melalui pendekatan data mining menggunakan Orange, dilakukan proses pra-pemrosesan data, normalisasi, pemodelan klaster, serta visualisasi hasil. Hasil penelitian menunjukkan terbentuknya tiga klaster wilayah: Klaster 1 yang mencakup 20 provinsi dengan distribusi guru dan sekolah yang relatif ideal, Klaster 2 yang terdiri dari 6 provinsi di kawasan timur seperti Papua dan Maluku dengan tantangan tinggi akibat keterbatasan infrastruktur pendidikan, serta Klaster 3 yang berisi 8 provinsi dengan kondisi distribusi sedang. Penelitian ini mengungkap bahwa kebijakan nasional seperti rasio ideal 20:1 dalam pemberian tunjangan profesi guru belum adaptif terhadap kondisi geografis dan demografis lokal. Hasil klasterisasi ini memberikan dasar visual dan analitik yang kuat bagi pemerintah pusat dan daerah dalam merumuskan kebijakan pemerataan pendidikan yang lebih adil dan kontekstual, khususnya di jenjang menengah atas.