Tren pemasaran modern menunjukkan adanya pergeseran fokus khalayak yang tidak lagi menilai sebuah produk atau merek hanya dari kualitasnya, tetapi juga dari nilai-nilai sosial yang diusung. Media sosial seperti TikTok, menjadi media strategis bagibrand untuk menyampaikan pesan-pesan tersebut kepada generasi Z yang dikenal kritis terhadap isu-isu sosial sekaligus penggunaaktif platform TikTok. Salah satu brand yang mengusung pesan sosial mengenai kesetaraan dalam pemasarannya adalah Rucas, sebuahbrand fashion lokal yang tampil berbeda dengan menampilkan individu dari kelas ekonomi bawah, seperti pemulung dan juru parkirlansia, sebagai model fashion untuk produknya dalam konten "Semua Orang Bisa Keren" di akun TikTok @Rucas. Representasi sosialdalam pemasaran yang dibuat oleh Rucas dengan mengangkat tema kesetaraan dan menampilkan keberagaman latar belakangekonomi sosial masih jarang ditemui dalam industri fashion Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis resepsi GenerasiZ terhadap konten tersebut menggunakan teori resepsi Stuart Hall, yang membagi posisi pemaknaan menjadi Hegemonic-Dominant,Negotiated, dan Oppositional. Melalui metode kualitatif yang melibatkan wawancara dan observasi, penelitian ini menggalipandangan Gen Z di Pulau Jawa yang tertarik pada isu sosial dan aktif di media sosial TikTok. Hasil penelitian menunjukkan adanyavariasi pemaknaan terhadap konten tersebut: beberapa informan sepenuhnya menerima pesan kesetaraan sosial, sebagian menerimadengan penyesuaian, dan sebagian lainnya menolak pesan tersebut sepenuhnya. Penelitian ini memberikan wawasan tentangpemasaran melalui TikTok yang menggabungkan elemen sosial dan komersial