Julia Kristiarini, Juda
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Efektivitas pijat perineum dan posisi meneran dalam mencegah ruptur perineum pada ibu bersalin Sinuhaji, Fatmawati; Suryantara, Bima; Julia Kristiarini, Juda
Avicenna : Journal of Health Research Vol 7, No 2 (2024): OKTOBER
Publisher : STIKES Mamba'ul 'Ulum Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36419/avicenna.v7i2.1204

Abstract

EFEKTIVITAS PIJAT OKSITOSIN ANTENATAL DAN POSTNATAL TERHADAP PRODUKSI ASI Ida Farida; Julia Kristiarini, Juda; Risnawati
INVOLUSI: Jurnal Ilmu Kebidanan Vol 16 No 1 (2026): Vol. 16, No. 1 Januari 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61902/involusi.v16i1.1747

Abstract

Masalah yang berkembang di masyarakat adalah pemberian susu formula menjadi semakin penting dan ASI menjadi pilihan yang paling tidak disukai. Fenomena pada ibu nifas yang tidak memberikan ASI dan memilih memberikan susu formula bayi bayi salah satunya disebabkan karena kurangnya produksi ASI. Kondisi ini dapat menghambat proses menyusui dan menurunkan rasa percaya diri ibu. Penurunan produksi ASI pada hari-hari pertama setelah melahirkan dapat disebabkan oleh kurangnya rangsangan hormon prolaktin dan oksitosin. Usaha untuk merangsang pengeluaran hormon oksitosin dapat dilakukan dengan melakukan pijat oksitosin. Tujuan penelitian untuk menganalisis perbedaan efektifitas pijat oksitosin yang diberikan mulai usia kehamilan 38 minggu dibandingkan dengan pasca persalinan terhadap produksi ASI. Desain Penelitian yang digunakan adalah mixed methods. Penekanan metode lebih pada metode pertama, yakni kuantitatif dan selanjutnya dilengkapi dengan metode kualitatif. Pencampuran data kedua metode bersifat connecting (menyambung) antara hasil pertama dan tahap berikutnya. Sampel adalah ibu hamil mulai kehamilan 38 minggu sebagai kelompok intervensi dan ibu pasca persalinan sebagai kelompok kontrol masing-masing sebanyak 32 orang. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan efektifitas pijat oksitosin yang diberikan mulai usia kehamilan 38 minggu dibandingkan dengan pasca persalinan terhadap produksi ASI di Wilayah Kerja Puskesmas Cilacap Utara I (p-value = 0,021). Pijat oksitosin yang diberikan mulai usia kehamilan 38 minggu akan lebih efektif meningkatkan produksi ASI dibandingkan dengan pijat oksitosin yang diberikan pada pasca persalinan dengan perbandingan produksi ASI pada kelompok intervensi rata-rata sebesar 17,31 cc sedangkan pada kelompok kontrol sebesar 12,31 cc.
DETERMINASI FAKTOR BABY BLUES SYNDROME PADA IBU NIFAS DI KABUPATEN BANTUL 2025 Islami Adi Wulan Nuari; Yuliani, Istri; Julia Kristiarini, Juda
INVOLUSI: Jurnal Ilmu Kebidanan Vol 16 No 1 (2026): Vol. 16, No. 1 Januari 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61902/involusi.v16i1.1880

Abstract

Perubahan psikologis pada ibu nifas perlu perhatian khusus tenaga kesehatan. Minimnya perhatian pasca persalinan sering memicu baby blues syndrome, terutama pada ibu yang belum mampu beradaptasi dengan peran baru. Rendahnya data prevalensi membuat kasus ini kurang dianggap penting, padahal di lapangan kejadiannya nyata namun jarang terdeteksi karena skrining awal yang terbatas. Dukungan keluarga, khususnya suami, berperan besar dalam menurunkan risiko, termasuk dukungan finansial. Tujuan penelitian untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan kejadian baby blues syndrome di Kabupaten Bantul. Metode penelitian observasional dengan desain deskriptif korelatif dan pendekatan cross sectional diambil untuk penelitian ini. Populasi adalah ibu nifas dengan baby blues syndrome. Sampel 35 responden diambil menggunakan cluster sampling. Analisis data menggunakan uji regresi logistik. Hasil prevalensi baby blues syndrome sebesar 22,8%. Terdapat hubungan signifikan antara dukungan suami menurut istri (p=0,014), dukungan suami menurut suami (p=0,042), pengetahuan (p=0,000), dan tingkat ekonomi (p=0,000) dengan kejadian baby blues syndrome. Faktor paling dominan adalah tingkat ekonomi (p=0,004). Simpulan adalah dukungan suami, pengetahuan, dan kondisi ekonomi berhubungan dengan kejadian baby blues syndrome. Variabel paling kuat adalah tingkat ekonomi.