Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pembinaan Narapidana Lansia: Menjaga Kesehatan di Balik Jeruji Subroto, Mitro; Maharaja, Andi Aldin
GUIDING WORLD (BIMBINGAN DAN KONSELING) Vol 7 No 1 (2024): Guiding World : Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33627/gw.v7i2.2709

Abstract

Populasi narapidana lansia terus meningkat seiring dengan bertambahnya angka harapan hidup dan penurunan kesehatan di usia lanjut. Kondisi kesehatan narapidana lansia menjadi tantangan yang serius dalam lingkungan penjara yang umumnya dirancang untuk populasi lebih muda. Artikel ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengeval___uasi kebijakan serta strategi pembinaan kesehatan narapidana lansia di dalam penjara dengan metode studi literatur. Kajian ini mengeksplorasi permasalahan kesehatan fisik, mental, dan sosial yang dialami narapidana lansia, serta menyoroti program-program pembinaan kesehatan yang telah diterapkan. Hasil penelitian menunjukkan pentingnya pendekatan yang holistik dan kolaboratif dalam menjaga kesehatan narapidana lansia, termasuk pembinaan fisik, mental, serta penyediaan akses pelayanan kesehatan yang memadai.
Efektivitas Terapi Kelompok dalam Menurunkan Tingkat Stres Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Maharaja, Andi Aldin; Santoso, Iman
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 1 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i1.17984

Abstract

Kehidupan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) sering kali menyebabkan stres yang signifikan pada narapidana akibat hilangnya kebebasan, isolasi sosial, dan ketidakamanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi efektivitas terapi kelompok dalam mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan psikologis narapidana. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif, yang melibatkan narapidana sebagai peserta terapi kelompok. Terapi kelompok memberikan kesempatan bagi narapidana untuk berbagi pengalaman dan perasaan, membangun dukungan sosial, serta mengembangkan keterampilan koping dalam menghadapi tantangan hidup di dalam penjara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi kelompok berkontribusi dalam pengurangan tingkat stres dengan memberikan ruang untuk saling mendengarkan dan memperoleh dukungan emosional. Selain itu, terapi ini juga membantu narapidana untuk mengurangi perasaan terisolasi dan meningkatkan kemampuan mereka dalam mengatasi permasalahan emosional. Meskipun demikian, tantangan dalam penerapan terapi kelompok, seperti perbedaan kesiapan dan kemampuan adaptasi antar narapidana, juga diidentifikasi. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa terapi kelompok dapat menjadi salah satu intervensi yang efektif untuk mendukung kesejahteraan psikologis narapidana di Lapas.
SELF-EMPOWERMENT OF INMATES THROUGH INDEPENDENCE DEVELOPMENT AS PREPARATION FOR REINTEGRATION INTO SOCIETY AT CLASS IIA CORRECTIONAL FACILITY PEKANBARU Maharaja, Andi Aldin; Santoso, Iman
Journal of Management Small and Medium Enterprises (SMEs) Vol 19 No 1 - May (2026): JOURNAL OF MANAGEMENT (Special Issue) - Correctional System Management
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study analyzes the implementation of inmate self-empowerment through an independence coaching program, specifically a barista training program at the Class IIA Correctional Institution in Pekanbaru. The research focuses on how empowerment is formed and the obstacles encountered in the process, within the broader shift of Indonesia’s correctional system toward a reintegrative approach. Using a qualitative case study method, data were collected through in-depth interviews with institutional leaders, instructors, and inmate participants, supported by observation and documentation. The findings show that self-empowerment is developed through two interconnected processes. First, through social learning based on Albert Bandura’s theory, where inmates acquire barista skills through stages of attention, retention, reproduction, and motivation. Second, through the looking-glass self concept by Charles Horton Cooley, where feedback from the social environment helps reshape inmates’ self-perception from negative to more positive and confident identities. However, the empowerment process faces several challenges. Internal obstacles include low self-esteem and apathy influenced by stigma. Structural obstacles involve limited facilities, budget constraints, and the quality of instructors. External obstacles include persistent social stigma in the job market and the absence of structured post-release support or aftercare programs. In conclusion, independence coaching programs such as barista training have strong potential to foster inmate self-empowerment. However, their effectiveness depends on addressing internal psychological barriers, strengthening institutional capacity, and developing sustainable reintegration support systems after release. Keywords: Self-Empowerment; Inmates; Independence Coaching; Social Reintegration; Correctional Institution