Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Polemik Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Dan Kesenjangan Akses Pada Sekolah Nonformal: Studi Kasus PKBM Dalam Program Paket A Ilmar Andi Achmad; Emirati Emirati; Jumase Basra
Jurnal Ilmiah Multidisiplin Mahasiswa dan Akademisi Vol. 1 No. 4 (2025): Edisi September 2025
Publisher : Prodi PGSD Unsultra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64690/intelektual.v1i4.318

Abstract

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diluncurkan pada Januari 2025 bertujuan meningkatkan status gizi dan semangat belajar peserta didik di seluruh Indonesia. Namun pelaksanaannya menuai pro dan kontra, termasuk adanya laporan kasus keracunan serta dugaan makanan tidak layak konsumsi. Studi kualitatif ini menganalisis polemik MBG khususnya di Bulukumba, Sulawesi Selatan, melalui tinjauan literatur, berita lokal maupun nasional, serta dokumen resmi. Metode analisis isi diterapkan pada sumber berita lokal seperti Fajar, Radar Selatan, dan Jawapos, serta pernyataan pemerintah daerah dan Badan Gizi Nasional. Temuan menunjukkan bahwa di Bulukumba sempat muncul insiden paket MBG dianggap basi di SMPN 2 Bulukumba, yang memicu penolakan siswa dan penangguhan sementara. Pemerintah kabupaten kemudian memperketat pengawasan kualitas makanan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi setempat. Persepsi publik beragam: sebagian khawatir atas mutu makanan, sementara sebagian lain mengapresiasi perhatian negara terhadap gizi. Dari sisi operasional, kendala logistik, kontrol mutu pemasok lokal, dan minimnya regulasi melalui peraturan presiden menambah kompleksitas pelaksanaan program. Artikel ini mengaitkan persoalan tersebut dengan konsep keadilan sosial menurut teori Rawls, nilai-nilai Pancasila, serta kerangka inklusif Amartya Sen yang menekankan pemerataan akses gizi dan pendidikan. Kesimpulannya, Bulukumba perlu menguatkan pengawasan program, melibatkan komunitas lokal seperti inisiatif “Bapak Asuh Stunting”, serta mereplikasi praktik baik nasional melalui kolaborasi lintas sektor. Rekomendasi kebijakan mencakup audit program MBG, penguatan kapasitas dinas terkait, dan pengesahan payung hukum formal agar manfaat gizi dan sosial MBG dapat dirasakan secara optimal dan merata di Bulukumba maupun tingkat nasional.
Etnopedagogi Maritim: Rekonstruksi Pola Pewarisan Keahlian Tradisional Panrita Lopi sebagai Praksis Pendidikan Informal Ilmar Andi Achmad; Yuli Artati; Muhammad Athar Asmas; Jumase Basra; A. Hasdiansyah
Jurnal Ilmiah Multidisiplin Mahasiswa dan Akademisi Vol. 1 No. 6 (2026): Edisi Januari 2026
Publisher : Prodi PGSD Unsultra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64690/intelektual.v1i6.609

Abstract

Keahlian pembuatan perahu Pinisi oleh Panrita Lopi di Bulukumba telah diakui UNESCO sebagai warisan dunia, namun keberlanjutannya kini terancam oleh krisis regenerasi dan diskontinuitas pewarisan budaya. Generasi muda pesisir cenderung meninggalkan tradisi ini demi sektor ekonomi modern, menyebabkan terputusnya transmisi pengetahuan antargenerasi. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi pola pewarisan pengetahuan dalam komunitas pembuat perahu sebagai sebuah praksis pendidikan informal yang sistematis. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain etnografi pendidikan di Tanah Beru, penelitian ini menemukan bahwa proses pembelajaran berlangsung melalui mekanisme ethnopedagogy maritim yang unik. Pewarisan tidak terjadi melalui instruksi verbal formal, melainkan melalui tacit knowledge transfer (transfer pengetahuan diam) dengan metode magang kognitif (cognitive apprenticeship). Proses ini mencakup tahapan observasi pasif, imitasi terbimbing, hingga pencapaian kemandirian intuitif. Kurikulum tidak tertulis yang diterapkan secara ketat memadukan penguasaan teknik presisi (tekné) dan internalisasi nilai spiritual (psyche). Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan informal berbasis kearifan lokal memegang peran vital dalam menjaga keberlanjutan budaya maritim, di mana bantilang (bengkel kerja) berfungsi efektif sebagai ruang belajar situasional (situated learning space). Temuan ini merekomendasikan perlunya rekognisi formal terhadap model pendidikan adat untuk menjembatani kesenjangan dengan pendidikan modern.