Butarbutar, Adolf Bastian
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Kurios

Membaca dialog Yesus dan Nikodemus melalui lensa persahabatan Butarbutar, Adolf Bastian
KURIOS Vol. 10 No. 2: Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i2.950

Abstract

This study examines the dialogue between Jesus and Nicodemus in John 3:1-21 through the theological lens of friendship, offering a fresh perspective on this pivotal Gospel narrative. Using narrative hermeneutics in conjunction with biblical theological analysis, this research demonstrates that friendship functions not merely as an anthropological category but as a fundamental theological concept for understanding mission, soteriology, and ecclesiology. The analysis reveals that Jesus' approach to Nicodemus embodies characteristics of authentic friendship: recognition, intellectual engagement, mutual respect, and transformative commitment. Drawing on contemporary friendship theology, particularly Jürgen Moltmann's "open friendship" concept, this study shows how the dialogue presents a relational model for spiritual transformation that challenges traditional individualistic soteriological frameworks. The findings suggest that friendship-based approaches to mission and pastoral care are more effective in pluralistic contexts, offering practical implications for contemporary evangelism, discipleship, and interfaith engagement. This research contributes to Johannine scholarship by highlighting previously under-explored relational dimensions of the Fourth Gospel's theology.   Abstrak Penelitian ini mengkaji dialog antara Yesus dan Nikodemus dalam Yohanes 3:1-21 melalui lensa teologis persahabatan, menawarkan perspektif baru terhadap narasi Injil yang sangat penting ini. Menggunakan hermeneutika naratif yang dikombinasikan dengan analisis teologi biblikal, penelitian ini mendemonstrasikan bahwa persahabatan berfungsi bukan hanya sebagai kategori antropologis tetapi sebagai konsep teologis fundamental untuk memahami misi, soteriologi, dan eklesiologi. Analisis mengungkapkan bahwa pendekatan Yesus kepada Nikodemus mewujudkan karakteristik persahabatan yang autentik: pengakuan, keterlibatan intelektual, rasa hormat mutual, dan komitmen transformatif. Berdasarkan teologi persahabatan kontemporer, khususnya konsep "persahabatan terbuka" Jürgen Moltmann, studi ini menunjukkan bagaimana dialog tersebut menyajikan model relasional untuk transformasi spiritual yang menantang kerangka soteriologis individualistik tradisional. Temuan menunjukkan bahwa pendekatan berbasis persahabatan dalam misi dan pelayanan pastoral lebih efektif dalam konteks pluralistik, memberikan implikasi praktis untuk evangelisme, pemuridan, dan keterlibatan antaragama kontemporer.
Pengajaran sebagai misi: Sebuah pembacaan naratif misi Paulus di Kisah Para Rasul Butarbutar, Adolf Bastian; Sirait, Jannes Eduard
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1028

Abstract

The era of digital disruption has created substantial challenges for the integrity of Christian teaching, with the proliferation of divergent doctrines spread through social media platforms. This research analyzes teaching patterns in Paul's mission as represented in the Acts narrative to identify missiological models applicable to contemporary challenges. Using narrative analysis methodology, this study identifies three essential dimensions in Paul's teaching strategy: a progressive pattern of spatial movement from synagogues to public spaces to private settings; adaptive yet uncompromising contextualization of teaching for Jewish, Greek, and Roman audiences; and, the role of teaching as a catalyst for transformative community formation. The results show that Paul's missional success lay in integrating teaching with communal formation and cultural contextualization. This model offers a paradigm for contemporary churches facing digital disruption challenges, demonstrating the importance of comprehensive, contextual, and communal teaching for maintaining doctrinal integrity in the post-truth era..   Abstrak Era disrupsi digital telah menciptakan tantangan substansif bagi integritas pengajaran Kristen, dengan proliferasi doktrin menyimpang yang disebarkan melalui platform media sosial. Penelitian ini menganalisis pola pengajaran dalam misi Paulus sebagaimana direpresentasikan dalam narasi Kisah Para Rasul untuk mengidentifikasi model misiologis yang dapat diaplikasikan dalam menghadapi tantangan kontemporer. Dengan menggunakan metode analisis naratif, penelitian ini mengidentifikasi tiga dimensi penting dalam strategi pengajaran Paulus: pola progresif pergerakan spasial dari sinagoga ke ruang publik ke lingkungan privat; kontekstualisasi pengajaran yang adaptatif namun tidak kompromi untuk audiens Yahudi, Yunani, dan Romawi; dan, peran pengajaran sebagai katalis pembentukan komunitas transformatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa keberhasilan misi Paulus terletak pada integrasi pengajaran dengan formasi komunal dan kontekstualisasi kultural. Model ini menawarkan paradigma untuk gereja kontemporer yang menghadapi tantangan disrupsi digital, menunjukkan pentingnya pengajaran yang komprehensif, kontekstual, dan komunal untuk mempertahankan integritas doktrinal di era post-truth.