Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Prevalensi Kelainan Tajam Penglihatan pada Siswa SD Kelas VI di Kelurahan Uritetu, Kota Ambon Ohman, Selvania; Siegers, Daniel; Noya, Farah Ch
Oftalmologi : Jurnal Kesehatan Mata Indonesia Vol 6 No 3 (2024): Oftalmologi: Jurnal Kesehatan Mata Indonesia
Publisher : Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/ojkmi.v6i3.75

Abstract

Pendahuluan: Penglihatan adalah bagian fundamental dari proses belajar, karena 80% dari apa yang dipelajari anak-anak diperoleh melalui pemrosesan informasi visual. Ada tiga dampak dari gangguan penglihatan pada anak, terutama pada siswa sekolah dasar: efek kesehatan jangka panjang, kinerja sekolah, dan perkembangan emosional serta sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan skrining sedini mungkin terhadap gangguan penglihatan pada siswa kelas 6 Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Uritetu, Kota Ambon, sehingga apabila ditemukan adanya kelainan dapat segera dilakukan penatalaksanaan. Metode: Desain penelitian adalah cross-sectional dengan metode total sampling yang melibatkan 337 siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan memeriksa ketajaman visual menggunakan papan Snellen, dan jika ketajaman visual <6/6, maka dilakukan tes pinhole dan lensa percobaan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis statistik deskriptif. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 337 siswa, 4,2% mengalami gangguan penglihatan. Prevalensi miopia (2,1%) lebih tinggi dibandingkan astigmatisma (0,6%) dan gangguan media refraktif (1,5%). Di antara siswa dengan miopia, hanya 0,5% yang telah dikoreksi, sementara sisanya (1,6%) belum. Semua siswa dengan astigmatisma (0,6%) belum dikoreksi. Kesimpulan: Prevalensi gangguan penglihatan pada siswa kelas enam SD di Desa Uritetu, Kota Ambon, masih tergolong rendah yaitu sebanyak 4,2%.
Penatalaksanaan Selulitis Praseptal di Praktik Kedokteran Pedesaan: Tantangan dan Keberhasilan Terapi – Laporan Kasus: Laporan Kasus Ohman, Selvania; Said, George Raden Mas
Cermin Dunia Kedokteran Vol 53 No 08 (2026): Agustus 2026
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v53i08.2088

Abstract

Introduction: Preseptal cellulitis is an infection localized to the anterior portion of the orbital septum. The most common causes are Staphylococcus aureus and Streptococcus species. Beta-lactam antibiotics are considered the first-line treatment. However, rural settings pose challenges due to limited diagnostic resources and widespread antibiotic use without medical supervision. Case: A 29-year-old woman presenting to a rural health center with eyelid swelling and localized pain. The patient had a history of irrational amoxicillin use. Limited access to culture testing and guidelines led to empiric ciprofloxacin therapy. The patient demonstrated significant clinical improvement after five days of treatment. There was no disease progression or complications. Discussion: Amoxicillin-clavulanate and cephalosporin remain the preferred treatments for preseptal cellulitis because they provide appropriate coverage against common gram-positive pathogens. Ciprofloxacin is not routinely recommended as monotherapy because of its variable activity against streptococci, potential adverse effects, and risk of promoting antimicrobial resistance. Nevertheless, previous reports have included ciprofloxacin in alternative regimens for patients with severe beta-lactam allergy or limited therapeutic options. In this case, its use represented a context-specific clinical decision based on prior incomplete antibiotic exposure, medication availability, and the absence of microbiological testing. Careful clinical assessment and close monitoring were essential to ensure treatment safety. Conclusion: This case illustrates the potential use of ciprofloxacin as a pragmatic alternative in resource-limited environments where first-line agents are unavailable.