Roja Lukmanul Khovid
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough atas Wacana Kepemimpinan dalam Tafsir al-Manār Karya Muḥammad ‘Abduh dan Rasyīd Ridhā Roja Lukmanul Khovid
Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an, Tafsir dan Pemikiran Islam Vol. 5 No. 3 (2024): Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur’an, Tafsir dan Pemikiran Islam
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) IAIFA Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58401/takwiluna.v5i3.1824

Abstract

In Islam leaders are defined by various terms such as Khalifah an imam, and must have a character that is respected, fair, wisw, and honest. Leader must also pay attention to the norms, values, of society, and the development of increasingly advanced times, prioritizing profesionalism and extensive knowledge. The challenges faced by leades today include proverty, unemployment and crime, which ruquire leaders to have a fair attitude and high morals. This study aims to discuss leadership according to Rasyid Ridha and Muhammad Abduh in tafsir al-Manār . This research method is descriptive qualitative research, with the method of utilizing document that use library research techniques, namely by using data sourced from books and previous studies related to the discussion. The formulation of the problem in this study, first, How is the critical discourse analysis of leadership in the Egyptian local and global contexts. Second, the interpretation of leadership in tafsir al-Manār. Answering the formulation of the problem, the researcher got the following conclusions: (1) the discourse of leadership in tafsir al-Manār is the irregularity of the state of the local government of egypt at that time. Muhammad Abduh and Rasyid Ridha argued that leaders must create a harmonious, participatory, and transparet environment, as well as strengthen the sense of rensponbility and unity among the people. (2) The discourse of democratic leadership in the solution to the problem of interpretation. In explaining leadership, Rasyid Ridha begins by discussing the khalifah. In the following discussion, there arematters related to leadership and leaders. Such as, how to be a leader, the principles that must be held to be a leader, and what are the obligations and rights of a leader.
Infiltrasi Hadis Dha’if dalam Penafsiran Aurat Perempuan: Studi Komparatif Penafsiran Ibnu Katsir dan Al-Qurtubi Solehodin, Muhammad; Lia Nur ‘Aini; Roja Lukmanul Khovid
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 2 (2023): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v13i2.637

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk melakukan studi kritis terhadap kontruksi penafsiran Ibnu Katsir dan al-Qurthubi dalam menafsiri ayat-ayat seputar aurat perempuan, khususnya terkait status hadis-hadis yang dijadikan sebagai dasar dan argumentasi penafsiran. Urgensitas artikel ini ditunjukkan oleh implikasi dan relevansi dari hasil penafsiran keduanya dalam menentukan batas-batas aurat perempuan dalam konteks hari ini, baik di ruang virtual ataupun ruang faktual. Artikel ini disusun menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan memanfaatkan studi komparatif berbasis data pustaka. Data primer dihimpun dari literatur tafsir Ibnu Katsir dan tafsir al-Qurtubi. Data sekunder bersumber dari literatur lainnya, seperti buku, jurnal dan hasil penelitian yang berkaitan dengan tema penelitian ini. Dalam penelitian ini penulis juga menampilkan analisis kritis sanad terhadap hadis-hadis seputar aurat perempuan. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa beberapa hadis yang dijadikan dasar penafsiran oleh Ibnu Katsir dan al-Qurthubi dalam tafsirnya dinilai lemah karena terdapat sanad yang terputus, sehingga dalam penafsiran tersebut terdapat infiltrasi (al-Dakhil). Hanya saja keduanya berbeda dalam menampilkan dan memaparkan hadis yang digunakan. Ibnu Katsir cenderung memberikan komentar terhadap status sanad hadis yang digunakan, sementara al-Qurthubi memilih tidak memberikan catatan terhadap hadis yang digunakan sebagai bahan menafsiri ayat-ayat seputar aurat perempuan.