Artikel ini bertujuan untuk melakukan studi kritis terhadap kontruksi penafsiran Ibnu Katsir dan al-Qurthubi dalam menafsiri ayat-ayat seputar aurat perempuan, khususnya terkait status hadis-hadis yang dijadikan sebagai dasar dan argumentasi penafsiran. Urgensitas artikel ini ditunjukkan oleh implikasi dan relevansi dari hasil penafsiran keduanya dalam menentukan batas-batas aurat perempuan dalam konteks hari ini, baik di ruang virtual ataupun ruang faktual. Artikel ini disusun menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan memanfaatkan studi komparatif berbasis data pustaka. Data primer dihimpun dari literatur tafsir Ibnu Katsir dan tafsir al-Qurtubi. Data sekunder bersumber dari literatur lainnya, seperti buku, jurnal dan hasil penelitian yang berkaitan dengan tema penelitian ini. Dalam penelitian ini penulis juga menampilkan analisis kritis sanad terhadap hadis-hadis seputar aurat perempuan. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa beberapa hadis yang dijadikan dasar penafsiran oleh Ibnu Katsir dan al-Qurthubi dalam tafsirnya dinilai lemah karena terdapat sanad yang terputus, sehingga dalam penafsiran tersebut terdapat infiltrasi (al-Dakhil). Hanya saja keduanya berbeda dalam menampilkan dan memaparkan hadis yang digunakan. Ibnu Katsir cenderung memberikan komentar terhadap status sanad hadis yang digunakan, sementara al-Qurthubi memilih tidak memberikan catatan terhadap hadis yang digunakan sebagai bahan menafsiri ayat-ayat seputar aurat perempuan.
Copyrights © 2023