Aziz Fahruji
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Implementasi Terapi Okupasi (Mewarnai) Terhadap  Peningkatan Kepercayaan Diri Pada Pasien Dengan Masalah Keperawatan Isolasi Sosial Di Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 2 Cipayung Jakarta Timur Salsabila Noviyani Kharisma; Aziz Fahruji; Nur Afni Wulandari
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 1 No. 3 (2024): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/64t34b78

Abstract

Masalah gangguan jiwa di dunia menjadi masalah yang semakin meluas, WHO memperkirakan ada sekitar 450 juta data statistik pasien gangguan jiwa, berdasarkan data statistik pasien gangguan jiwa meningkat sangat tinggi. Dari hasil wawancara peneliti dengan petugas kesehatan di Panti Bina Laras Harapan Sentosa, terdapat 411 pasien berjenis kelamin perempuan dan dibagi menjadi III klaster dengan gangguan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengimplementasikan Terapi Okupasi (mewarnai) untuk meningkatkan kepercayaan diri pada pasien dengan masalah keperawatan Isolasi Sosial. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan teknik total sampling. lembar observasi untuk mendokumentasikan respon pasien, lembar Informed Consent atau lembar persetujuan, Alat Media Terapi Okupasi Mengecat Patung Semen, lembar Standar Operasional Prosedur (SOP) Setelah dilakukan implementasi selama 3 hari tanda dan gejala Isolasi Sosial pada Ny. S mulai berkurang. Dari skor 7 menjadi skor 1, Setelah dilakukan implementasi selama 3 hari tanda dan gejala Isolasi Sosial pada Ny.O mulai berkurang. Dari Skor 6 menjadi 3. Sebelum dilakukan implementasi terapi okupasi mewarnai patung semen selama 3 hari pada kedua responden, tanda dan gejala Isolasi Sosial tersebut skor 1 dan 3. Setelah dilakukan Implementasi Terapi Okupasi mewarnai patung semen dalam selama 3 hari pada kedua Responden didapatkan tanda dan gejala menurun.   The problem of mental disorders in the world is becoming an increasingly widespread problem. WHO estimates that there are around 450 million statistical data on mental disorders patients, based on statistical data, mental disorders patients are increasing very high. From the results of researchers' interviews with health workers at Panti Bina Laras Harapan Sentosa, there were 411 female patients and they were divided into three clusters with disorders. The aim of this research is to implement Occupational Therapy (coloring) to increase self-confidence in patients with social isolation nursing problems. This research uses descriptive research with total sampling techniques. This study uses a patient data format to obtain patient data, observation sheets to document patient responses, Informed Consent sheets, Occupational Therapy Media Tools for Painting Cement Statues, Standard Operating Procedure (SOP) sheets. After implementation for 3 days, signs and symptoms of Isolation Social at Mrs. S starts to decrease. From a score of 7 to a score of 1, after implementation for 3 days, the signs and symptoms of social isolation in Mrs. O began to decrease. From a score of 6 to 3. Before the implementation of occupational therapy, coloring the cement statue for 3 days for both respondents, the signs and symptoms of Social Isolation were scored 1 and 3. After the implementation of Occupational Therapy, coloring the cement statue for 3 days for the two respondents, signs and symptoms were obtained. symptoms decrease.  
Implementasi Terapi Spiritual Berdzikir Pada Pasien Skizofrenia dengan Masalah Resiko Perilaku Kekerasan di Panti Bina Laras Sentosa II Cipayung Nia, Siti Marwah Artania; Aziz Fahruji; Nur Afni Wulandari Arifin
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 1 No. 3 (2024): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/7phzs612

Abstract

Pasien Resiko Perilaku kekerasan merupakan suatu kondisi dimana individu mengalami perilaku marah yang ekstrim (kemarahan) atau ketakutan (panik) sebagai respon terhadap perasaan terancam, baik berupa ancaman serangan fisik atau konsep diri. Perilaku kekerasan menjadi salah satu respon marah yang diekspresikan dengan melakukan ancaman, mencederai orang lain, dan atau merusak lingkungan. Perasaan terancam ini dapat berasal dari stresor eksternal (penyerangan fisik, kehilangan orang berarti dan kritikan dari orang lain) dan internal (perasaan gagal di tempat kerja, perasaan tidak mendapatkan kasih sayang dan ketakutan penyakit fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Analisis Intervensi Melatih Cara spiritual: zikir pada pasien Resiko Perilaku Kekerasan. Penelitian yang digunakan ini ialah deskriptif dengan rancangan studi kasus penelitian ini  untuk melakukan intervensi melatih cara spiritual zikir untuk mengontrol perilaku kekerasan. Penelitian ini menggunakan pasien resiko perilaku kekerasan di panti sosial bina laras harapan II Cipayung dengan subjek 2 responden yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Setelah dilakukan intervensi selama 3 hari pasien menunjukkan adanya perubahan emosi terkontrol. Hasil intervensi dengan dilakukannya melatih berzikir pada pasien resiko perilaku kekerasan cukup efektif, pengendalian marah pasien dapat terkontrol Terapi spiritual berzikir dari penelitian ini yaitu, pasien mampu mengulangi terapi dengan mandiri secara kontinyu.   Patients at Risk for Violent Behavior is a condition where individuals experience extreme anger (anger) or fear (panic) as a response to feelings of threat, whether in the form of threats of physical attack or self-concept. Violent behavior is a response to anger that is expressed by making threats, injuring other people, and/or destroying the environment. This feeling of threat can come from external stressors (physical attacks, loss of significant others and criticism from others) and internal (feelings of failure at work, feelings of not getting love and fear of physical illness.  This research aims to determine the Analysis of Training Interventions Spiritual way: Dhikr for patients at risk of violent behavior. Objective: This research aims to determine the intervention analysis of training spiritual Dhikr in patients at risk of violent behavior. Method: The research used is descriptive with a case study design for this research to carry out an intervention to train the spiritual method of dhikr to control violent behavior. This study used patients at risk of violent behavior at the Bina Laras Harapan II Cipayung social institution as subjects with 2 respondents who met the inclusion and exclusion criteria. After intervention for 3 days the patient showed controlled emotional changes. The results of the intervention by practicing dhikr in patients at risk of violent behavior are quite effective, controlling the patient's anger can be controlled. The spiritual therapy of dhikr from this study is that the patient is able to repeat the therapy independently on an ongoing basis.
Implementasi Terapi Emotional Freedom Technique dalam Mengatasi Masalah Keperawatan Kecemasan pada Lansia di Panti Bina Laras Harapan Sentosa 2 Cipayung Jakarta Timur Dwi Surya Darma; Aziz Fahruji; Nur Afni Wulandari Arifin
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 1 No. 3 (2024): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/ynrs6e20

Abstract

Kecemasan pada lansia sering terjadi akibat adanya riwayat penyakit, menghadapi kematian dan juga kecemasan teman di masa tua. Lansia di Panti Bina Laras Harapan Sentosa 2 didapatkan bahwa lansia mengalami kecemasan akibat penyakit yang dialami, kekhawatiran terjadi kematian dan tidak ada keluarga yang menemani. Tujuan dalam penelitian ini yaitu melakukan implementasi terapi emotional freedom technique dalam mengatasi masalah keperawatan kecemasan pada lansia di panti Bina Laras Harapan Sentosa 2 Cipayung Jakarta Timur. Metode penelitian berupa deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian dilakukan di Panti Bina Laras Harapan Sentosa 2 Cipayung Jakarta Timur terhadap 2 orang lansia. Penilaian kecemasan menggunakan kuesioner Geriatric Anxiety Scale. Penyajian data dalam bentuk tabel dan dijelaskan dalam bentuk narasi. Hasil penelitian didapatkan subjek pertama dengan karakteristik jenis kelamin laki-laki, usia 75 tahun, agama Islam, pendidikan SMP, duda pasangan meninggal, pekerjaan terakhir dagang dan lama di panti 8 tahun. Sedangkan subjek kedua dengan karakteristik jenis kelamin perempuan, usia 70 tahun, agama Islam, pendidikan SD, janda pasangan meninggal, pekerjaan terakhir karyawan dan lama di panti 5 tahun. Pemaparan fokus studi sebelum dilaksanakan terapi Emotional Freedom Technique subjek pertama dengan kecemasan sedang (skor 41) dan subjek kedua dengan kecemasan sedang (skor 42).    Anxiety in the elderly often occurs due to a history of illness, facing death and also anxiety about friends in old age. It was found that elderly people at Panti Bina Laras Harapan Sentosa 2 experienced anxiety due to their illness, fear of death and no family to accompany them. The aim of this research is to implement emotional freedom technique therapy in overcoming anxiety nursing problems in the elderly at the Bina Laras Harapan Sentosa 2 Cipayung, East Jakarta. The research method is descriptive with a case study approach. The research was conducted at Panti Bina Laras Harapan Sentosa 2 Cipayung, East Jakarta on 2 elderly people. Anxiety assessment uses the Geriatric Anxiety Scale questionnaire. Presentation of data in tabular form and explained in narrative form. The results of the research showed that the first subject was male, 75 years old, Muslim, junior high school education, deceased spouse, last job in trade and 8 years in the orphanage. Meanwhile, the second subject had the characteristics of female gender, age 70 years, Muslim religion, elementary school education, widow of deceased partner, last job employee and length of time in the orphanage 5 years. Exposure to the focus of the study before carrying out Emotional Freedom Technique therapy was the first subject with moderate anxiety (score 41) and the second subject with moderate anxiety (score 42).
Penurunan Tingkat Depresi Pada Lanjut Usia Melalui Terapi Tertawa Amri, Khaerul; Aziz Fahruji; Widya Nara Nazwa
Jurnal Bakti Dirgantara Vol. 2 No. 1 (2025): Jurnal Bakti Dirgantara
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/kg31fn70

Abstract

Lansia mengharapkan kehidupan yang tenang dan damai, tetapi tidak semua mendapatkannya. Perubahan fisik dan mental serta kurangnya adaptasi terhadap stres dapat menyebabkan depresi. Terapi tertawa merupakan intervensi non-farmakologis yang dapat membantu menurunkan tingkat depresi dengan meningkatkan ekspresi kebahagiaan dan mengurangi stres. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan keterampilan lansia dalam menerapkan terapi tertawa. Dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Makasar, kegiatan ini melibatkan 20 lansia dengan pendekatan quasi-eksperimental menggunakan desain pre-test dan post-test tanpa kelompok kontrol. Intervensi dilakukan dalam bentuk edukasi dan praktik terapi tertawa selama tiga minggu dengan frekuensi satu kali per minggu. Pengukuran tingkat depresi menggunakan Geriatric Depression Scale (GDS) sebelum dan sesudah intervensi. Hasil analisis menunjukkan penurunan skor GDS 80% yang mengindikasikan berkurangnya tingkat depresi. Secara kualitatif, peserta melaporkan peningkatan suasana hati, rasa kebersamaan, dan motivasi untuk bersosialisasi. Kesimpulan dari kegiatan ini adalah terapi tertawa efektif dalam menurunkan depresi pada lansia dan perlu dikembangkan sebagai bagian dari program kesehatan mental komunitas.   Elderly individuals aspire to live a peaceful and serene life, but not all of them achieve this. Physical and mental changes, along with a lack of adaptation to stress, can lead to depression. Laughter therapy is a non-pharmacological intervention that can help reduce depression levels by enhancing expressions of happiness and reducing stress. This community service activity aims to improve the understanding and skills of the elderly in applying laughter therapy. Conducted in the working area of the Makasar District Public Health Center, this activity involved 20 elderly participants using a quasi-experimental approach with a pre-test and post-test design without a control group. The intervention was carried out in the form of education and laughter therapy practice over three weeks, with a frequency of once per week. Depression levels were measured using the Geriatric Depression Scale (GDS) before and after the intervention. The analysis results showed an 80% reduction in GDS scores, indicating a decrease in depression levels. Qualitatively, participants reported an improvement in mood, a sense of togetherness, and increased motivation to socialize. In conclusion, laughter therapy is effective in reducing depression among the elderly and should be developed as part of community mental health programs.
Implementasi Relaksasi Nafas Dalam Terhadap Tingkat Emosi Pasien Dengan Resiko Perilaku Kekerasan Bonita Nurherawati; Nur Afni Wulandari; Aziz Fahruji
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 1 (2025): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/wh0zet15

Abstract

Perilaku kekerasan adalah sebuah kondisi emosi dalam mengungkapkan suatu kemarahan yang dimanifestasikan dalam bentuk fisik. Penyebab resiko perilaku kekerasan dapat terjadi karena faktor predisposisi dan presipitasi. Salah satu teknik yang dapat dilakukan untuk mengontrol perilaku kekerasan adalah dengan cara melakukan relaksasi nafas dalam. Teknik relaksasi nafas dalam tidak hanya memberikan ketenangan secara fisik melainkan dapat menciptakan ketenangan jiwa.  Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perubahan tingkat emosi pasien dengan resiko perilaku kekerasan sebelum dan setelah dilakukan implementasi relaksasi nafas dalam. Metode penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan studi kasus melalui teknik wawancara dan observasi. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini ada sebanyak 2 responden. Hasil penelitian menunjukan adanya perbedaan tingkat emosi pasien sebelum dan setelah dilakukan terapi relaksasi nafas dalam yang diukur menggunakan lembar observasi tanda dan gejala resiko perilaku kekerasan. Pada responden I sebelum dilakukan terapi relaksasi nafas dalam menunjukan 15 tanda dan gejala lalu berkurang menjadi 13 tanda dan gejala sementara responden II sebelum dilakukan terapi relaksasi nafas dalam menunjukan 11 tanda dan gejala lalu berkurang menjadi 9 tanda dan gejala resiko perilaku kekerasan. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa implementasi relaksasi nafas dapat membantu pasien dengan resiko perilaku kekerasan dalam mengontrol emosi.   Violent behavior is an emotional condition in expressing anger that is manifested in physical form. The cause of the risk of violent behavior can occur due to predisposition and precipitation factors. One technique that can be done to control violent behavior is by doing deep breathing relaxation. Deep breathing relaxation techniques not only provide physical calm but can create mental calm. The purpose of this study was to determine changes in the level of emotion of patients with a risk of violent behavior before and after the application of deep breathing relaxation. This research method is descriptive with a case study approach through interview and observation techniques. The subjects used in this study were 2 respondents. The results of the study showed differences in the level of emotion of patients before and after deep breathing relaxation therapy was measured using an observation sheet of signs and symptoms of the risk of violent behavior. In respondent I before deep breathing relaxation therapy showed 15 signs and symptoms then reduced to 13 signs and symptoms While respondent II before deep breathing relaxation therapy showed 11 signs and symptoms then reduced to 9 signs and symptoms of the risk of violent behavior. Thus it can be concluded that the application of breathing relaxation can help patients with a risk of violent behavior in controlling their emotions.
Efektivitas Terapi Tertawa terhadap Tanda dan Gejala Risiko Perilaku Kekerasan pada Pasien Gangguan Jiwa Fahrezi, Reyhan; Nur Afni Wulandari; Aziz Fahruji
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 2 (2025): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/n42k4678

Abstract

Risiko perilaku kekerasan merupakan kondisi yang umum ditemukan pada pasien gangguan jiwa, yang ditandai dengan gejala verbal maupun fisik yang dapat membahayakan diri sendiri, orang lain, atau lingkungan sekitar. Salah satu intervensi non-farmakologis yang dapat digunakan untuk mengontrol emosi, khususnya kemarahan, adalah terapi tertawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi tertawa terhadap perubahan tanda dan gejala pada pasien dengan risiko perilaku kekerasan. Desain penelitian menggunakan studi kasus deskriptif terhadap dua pasien yang memenuhi kriteria inklusi di Panti Bina Laras Harapan Sentosa II Jakarta Timur. Data dikumpulkan menggunakan lembar observasi tanda dan gejala risiko perilaku kekerasan berdasarkan sembilan indikator. Terapi tertawa diberikan sebanyak tiga sesi dalam tiga hari berturut-turut. Hasil menunjukkan bahwa sebelum intervensi, Responden I menunjukkan tiga tanda dan gejala, sedangkan Responden II menunjukkan empat gejala. Setelah intervensi, kedua responden mengalami penurunan menjadi dua gejala. Penurunan paling konsisten terjadi pada gejala verbal seperti nada suara tinggi dan bicara keras. Terapi tertawa terbukti memberikan pengaruh positif dalam menurunkan intensitas tanda dan gejala perilaku kekerasan. Efektivitas terapi ini diduga berkaitan dengan peningkatan hormon endorfin yang berperan dalam menurunkan ketegangan emosional dan meningkatkan kenyamanan psikologis pasien.   The risk of violent behavior is a common condition found in patients with mental disorders, characterized by verbal and physical symptoms that can harm themselves, others, or the surrounding environment. One of the non-pharmacological interventions that can be used to control emotions, especially anger, is laughter therapy. This study aims to determine the effect of laughter therapy on changes in signs and symptoms in patients at risk of violent behavior. The research design used a descriptive case study of two patients who met the inclusion criteria at Panti Bina Laras Harapan Sentosa II, East Jakarta. Data were collected using an observation sheet of signs and symptoms of risk of violent behavior based on nine indicators. Laughter therapy was given for three sessions in three consecutive days. The results showed that before the intervention, Respondent I showed three signs and symptoms, while Respondent II showed four symptoms. After the intervention, both respondents experienced a decrease to two symptoms. The most consistent decrease occurred in verbal symptoms such as high voice tone and loud speech. Laughter therapy was shown to have a positive influence in reducing the intensity of signs and symptoms of violent behavior. The effectiveness of this therapy is thought to be related to the increase in endorphins which play a role in reducing emotional tension and increasing the psychological comfort of patients.