Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perilaku Bullying di UPT SPF SMP Negeri 47 Makassar: Peran Guru dalam Penanganan dan Pencegahan Bullying di Sekolah Syam, Rahmawati; Najiyyah, Nurul; Nisa, Rifkatul; Datu P, Stefanny; Nurhikmah, Syarifah; Wahyuni; Fitriany Fakhri, Nur
YUDHISTIRA : Jurnal Yurisprudensi, Hukum dan Peradilan Vol. 2 No. 1 (2024): Maret
Publisher : Cv. Kalimasada Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59966/yudhistira.v2i1.910

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perilaku bullying pada siswa- Siswi sekolah menengah pertama di UPT SPF SMP Negeri 47 Makassar guna mendapatkan data sebagai bahan dalam pelayanan Bimbingan dan Konseling. Dalam penelitian ini, subyeknya yakni siswa/ Siswi SMPN 47 Makassar kelas 7 dan kelas 8 yang terdiri dari dua macam informan yaitu, informan utama yakni siswa-siswa yang menjadi pelaku maupun korban bullying di sekolah dan informan pendukung yakni guru BK, Guru Wali Kelas dan teman siswa yang mengenal baik siswa terkait perilaku bullying di sekolah. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Wawancara, Observasi, Pelaksanaan Pre-test dan Post Test serta dokumentasi. Bentuk perilaku bullying yang didapatkan dari hasil penelitian yakni bullying verbal, bullying fisik, bullying elektronik dan bullying relasional. Bullying verbal mencakup mengejek, mengolok-olok kekurangan fisik siswa lain dan menggunakan kata-kata yang tidak menyenangkan, bullying fisik seperti memukul, menendang, mendorong dan mengambil paksa milik orang lain. Dampak yang terjadi pada siswa ialah menurunnya kesejahteraan psikologis dan penyesuaian sosial yang buruk yaitu merasakan banyak emosi negatif seperti marah, dendam, kesal, tertekan, malu, sedih, tidak nyaman, dan terancam namun tidak berdaya untuk menghadapinya, memungkinkan siswa merasakan tidak nyaman dan prestasi akademis akan terganggu karena kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial. Lalu usaha-usaha yang sudah dilakukan oleh guru bimbingan konseling dalam menangani perilaku bullying yakni preventif seperti memberikan layanan informasi baik kepada siswa maupun orang tua, kuratif berupa menyelesaikan perilaku bullying mulai dari pelaku hingga korban melalui layanan mediasi serta memberikannya sanksi sesuai tata tertib sekolah yang berlaku, preservatif seperti layanan individu baik pada korban maupun pelaku.
Interaksi Agama dan Budaya Lokal: Analisis Sejarah Sosial Atas Kehadiran GKII di Tana Toraja Datu P, Stefanny
Attoriolong Vol 24, No 1 (2026): Attoriolong Jurnal Pemikiran Kesejarahan dan Pendidikan Sejarah
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji sejarah kehadiran dan perkembangan Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) di Tana Toraja sejak tahun 1955 hingga 2024 serta menganalisis dampak sosial-keagamaan yang ditimbulkannya dalam kehidupan masyarakat setempat. Kajian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memahami dinamika pertumbuhan gereja dalam konteks sosial dan budaya masyarakat Toraja yang memiliki tradisi adat yang kuat. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang meliputi tahapan heuristik melalui pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi; kritik sumber untuk menilai keabsahan data; interpretasi terhadap fakta sejarah; serta historiografi dalam bentuk penulisan narasi ilmiah yang sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehadiran GKII di Tana Toraja diawali oleh pelayanan Pdt. M.B. Mongan di Lembang Madandan pada tahun 1955. Selanjutnya GKII mengalami perkembangan yang signifikan, ditandai dengan bertambahnya jumlah jemaat dan perluasan wilayah pelayanan hingga mencapai 33 gereja dan pos pelayanan di wilayah Tana Toraja dan Toraja Utara. Perkembangan tersebut memberikan dampak sosial-keagamaan berupa penguatan solidaritas jemaat, peningkatan pelayanan diakonia, serta kontribusi di bidang pendidikan melalui pendirian Sekolah Menengah Teologi Kristen (SMTK) Ge’tengan. Selain itu, kehadiran GKII juga mendorong tumbuhnya semangat gotong royong serta memperkuat nilai kebersamaan dalam kehidupan masyarakat. Namun demikian, dalam proses perkembangannya GKII juga dihadapkan pada berbagai tantangan, antara lain keterbatasan tenaga pelayan serta dinamika hubungan dengan budaya lokal. Dalam konteks ini, GKII perlu menghadapi dinamika hubungan dengan budaya lokal, khususnya dalam menentukan sikap yang kontekstual dan bijaksana terhadap ritual-ritual adat Toraja seperti Ma’badong, Ma’nene’, dan Ma’pakande Tomate. Oleh karena itu, gereja perlu mengembangkan pola pelayanan yang adaptif dan kontekstual agar tetap relevan dengan dinamika sosial serta budaya masyarakat Toraja. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa GKII memiliki peran penting dalam membentuk dinamika sosial-keagamaan masyarakat Toraja melalui pendekatan pelayanan yang mampu merespons realitas budaya lokal secara bijaksana.