Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pluralisme Agama Perspektif Penafsiran Nurcholis Madjid Arif, Muhammad Syaikhul
Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 3 Nomor 3 Agustus (2024)
Publisher : Pusdikra Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/khazanah.v3i3.2122

Abstract

Pluralisme agama telah menjadi salah satu isu penting dalam masyarakat multikultural. Nurcholish Madjid, sebagai salah satu pemikir Islam terkemuka di Indonesia, menawarkan perspektif yang mendalam mengenai pluralisme agama. Penafsirannya berfokus pada penerimaan keberagaman dan penghargaan terhadap perbedaan keyakinan sebagai bagian dari rahmatan lil 'alamin (rahmat bagi seluruh alam). Perspektif ini mengundang perdebatan di kalangan akademisi, terutama dalam konteks Islam Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemikiran Nurcholish Madjid tentang pluralisme agama, terutama dari perspektif penafsiran teks-teks agama. Penelitian ini juga mengeksplorasi implikasi penafsirannya terhadap hubungan antaragama di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Data diperoleh melalui kajian literatur yang mencakup karya-karya Nurcholish Madjid, serta berbagai literatur sekunder yang membahas gagasannya tentang pluralisme agama. Analisis dilakukan secara deskriptif-analitis untuk menguraikan penafsiran Madjid dalam konteks teologi dan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nurcholish Madjid melihat pluralisme sebagai sebuah keniscayaan dalam kehidupan beragama. Menurutnya, pluralisme tidak hanya berarti keberadaan berbagai agama, tetapi juga penghargaan terhadap nilai-nilai universal yang ada dalam setiap agama. Madjid menekankan bahwa Islam menghargai keragaman dan mendukung terciptanya perdamaian melalui dialog antaragama. Pandangannya ini berkontribusi besar dalam membangun wacana Islam inklusif di Indonesia.
Integration of Gender Equality in Islamic Education Curriculum: A Content Study on Elementary School Textbooks Fitria, Nur Annisa; Arif, Muhammad Syaikhul; Muhid, Abdul
Scaffolding: Jurnal Pendidikan Islam dan Multikulturalisme Vol. 7 No. 1 (2025): Pendidikan Islam dan Multikulturalisme
Publisher : Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/scaffolding.v7i1.7294

Abstract

This study aims to explore the extent to which the principle of gender equality has been integrated in Islamic Religious Education textbooks at the elementary school level. The focus of the analysis is on the representation of the roles of men and women in the teaching materials used in the independent curriculum. The main data in this study are six Islamic Religious Education and Budi Pekerti textbooks for Grades 1 to 6, published by the Center for Curriculum and Bookkeeping, Research and Development, and Bookkeeping Agency, Ministry of Education and Culture of the Republic of Indonesia. These books include Islamic Religious Education and Ethics for Primary School Grade 1 by Muhammad Nurzakun and Joko Santoso in 2021, Islamic Religious Education and Ethics for Primary School Grade 2 by A. Zainal Abidin and Siti Kusrini in 2021, and Islamic Religious Education and Ethics for Primary School Grade 3 by Moh. Ghozali and Erwin Wasti in 2022, the book Islamic Religious Education and Ethics for Primary 4 by Ahmad Faozan and Jamaluddin in 2021, the book Islamic Religious Education and Ethics for Primary 5 by Soleh Baedowi and Hairil Muhammad Anwar in 2021, and the book Islamic Religious Education and Ethics for Primary 6 by Nazirwan and Kholili Abdullah in 2022. This research uses a qualitative method with content analysis of the text and illustrations of Islamic Religious Education textbooks. The results of this study show a consistent pattern of gender bias, where male characters are dominant in religious and social roles, while female characters tend to be passive and limited to domestic roles. So then it is necessary to reformulate the content of the textbook to be more responsive to gender, in order to realize a fair Islamic education in accordance with the value of rahmatan lil 'alamin.
Pluralisme Agama Perspektif Penafsiran Nurcholis Madjid Arif, Muhammad Syaikhul
Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 3 Nomor 3 Agustus (2024)
Publisher : Pusdikra Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/khazanah.v3i3.2122

Abstract

Pluralisme agama telah menjadi salah satu isu penting dalam masyarakat multikultural. Nurcholish Madjid, sebagai salah satu pemikir Islam terkemuka di Indonesia, menawarkan perspektif yang mendalam mengenai pluralisme agama. Penafsirannya berfokus pada penerimaan keberagaman dan penghargaan terhadap perbedaan keyakinan sebagai bagian dari rahmatan lil 'alamin (rahmat bagi seluruh alam). Perspektif ini mengundang perdebatan di kalangan akademisi, terutama dalam konteks Islam Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemikiran Nurcholish Madjid tentang pluralisme agama, terutama dari perspektif penafsiran teks-teks agama. Penelitian ini juga mengeksplorasi implikasi penafsirannya terhadap hubungan antaragama di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Data diperoleh melalui kajian literatur yang mencakup karya-karya Nurcholish Madjid, serta berbagai literatur sekunder yang membahas gagasannya tentang pluralisme agama. Analisis dilakukan secara deskriptif-analitis untuk menguraikan penafsiran Madjid dalam konteks teologi dan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nurcholish Madjid melihat pluralisme sebagai sebuah keniscayaan dalam kehidupan beragama. Menurutnya, pluralisme tidak hanya berarti keberadaan berbagai agama, tetapi juga penghargaan terhadap nilai-nilai universal yang ada dalam setiap agama. Madjid menekankan bahwa Islam menghargai keragaman dan mendukung terciptanya perdamaian melalui dialog antaragama. Pandangannya ini berkontribusi besar dalam membangun wacana Islam inklusif di Indonesia.
THE MEANING OF THE WORD “QAWWAMUN”: SEMIOTIC ANLYSIS OF JULIA KRISTEVA’S INTERTEXTUALITY IN TAFSIR AL-MIZAN AND TAFSIR AL-MISHBAH Arif, Muhammad Syaikhul; Uswatun Chasanah, Alifatul Lusiana; Kamal, Jawahir
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 02 (2025): Jurnal Kontemplasi
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2025.13.02.244-263

Abstract

Abstract Nowadays, women leadership has become a much-discussed topic. However, in practice, it still leaves many gaps that need to be continuously improved and applied on a large scale. Society's restrictive perspective on leadership, which insists that it must be carried out by men, is a product of centuries of indoctrination by patriarchal culture, continually reproduced by various groups, including religious authorities. Islamic legal products are the result of interpretations of Quranic verses, so if bias exists in the interpretation process, biases will also manifest in legal products and the general understanding of society. To gain a new perspective in understanding leadership, this research aims to explore the shift in the meaning of 'qawwamun' by examining the viewpoints of two Quranic commentators whose works are interconnected but produce two different perspectives, allowing us to conclude that there has been a change in their ideological stance Keywords: Women Leadership, Semiotic, Intertextuality. Abstrak Dewasa ini kepemimpinan perempuan telah menjadi sebuah topik yang banyak dibicarakan, namun pada taraf praksisnya, ia masih menyisakan amat banyak celah-celah untuk terus diperbaiki dan diterapkan secara masif. Keterkungkungan cara pandang masyarakat atas kepemimpinan dengan mengharuskan penerapannya dilaksanakan oleh lelaki, merupakan buah dari doktrinasi berabad abad oleh budaya patriarki, yang terus direproduksi oleh berbagai macam kalangan, dan tak luput dari kalangan otoritatif keagamaan. Produk hukum dalam agama Islam merupakan buah dari penafsiran atas ayat-ayat Alquran, maka apabila sudah terdapat bias sejak dalam upaya menafsirkan ayat, maka akan lahir pula bias-bias pada produk hukum dan pola pemahaman masyarakat umum. Guna mendapat sudut pandang baru dalam memaknai pemimpin, maka dalam penelitian ini akan diupayakan untuk mencari pergeseran makna qawwamun dengan melihat sudut pandang dua orang mufassir yang karya tafsirnya saling berkaitan, namun memunculkan dua sudut pandang yang berbeda, serta dapat ditarik kesimpulan telah terdapat ideologem yang berubah dari keduanya. Kata Kunci: Kepemimpinan Perempuan, Semiotik, Intertekstualitas.