Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

BAYI-BAYI PUTIH DALAM AKUN TIKTOK PARA MUDA: DARI HASRAT HINGGA MASOKISME DI MEDIA Arif Zuhdi Winarto
Media Bina Ilmiah Vol. 18 No. 11: Juni 2024
Publisher : LPSDI Bina Patria

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Meski Indonesia memiliki ras dan suku dengan warna kulit yang beragam, preferensi masyarakat Indonesia terhadap figur bayi cenderung menyukai tampilan tubuh bayi yang putih. Representasi tersebut kini banyak ditemui dalam konten TikTok Indonesia. Aplikasi TikTok merupakan jejaring sosial asal Tiongkok yang memungkinkan pengguna untuk memproduksi dan membagikan video pendek dengan berlatar musik. Tren bayi-bayi putih yang banyak muncul di media Indonesia khususnya TikTok merupakan gejala menarik dan belum banyak dibahas dalam ranah kajian media. Penelitian ini berfokus pada konten bayi di enam akun TikTok Indonesia pada tahun 2022 dengan menggunakan teori Psikoanalisis Jaques Lacan yang khas tentang subjek unconscious dan mirror stage. Akun yang diteliti antara lain @khoirurosida, @fifialediayahya, @elysasigita, @mamaairan, @ibumuda0506, dan @azzuralluratwins, dipilih berdasarkan kesamaan jenis postingan. Pada penelitian ini, para pemilik akun TikTok adalah subjek-subjek yang berkekurangan (lack) dalam melewati mirror stage. Lack itulah yang kemudian memunculkan hasrat subjek. Praktik pendisiplinan tubuh bayi dalam postingan subjek merupakan materialisasi hasrat dalam tatanan symbolic untuk menutupi lack dan memuaskan hasrat rekognisi subjek, namun praktik ini kemudian berubah menjadi malapetaka sadisme/masokisme dalam ketundukan subjek terhadap the law of the father dan the Big Other. Sehingga fenomena bayi putih di media Tiktok dapat dimaknai pula sebagai praktik kekejaman pada bayi yang sedang menyamar menjadi tontonan yang ‘aman’
DARI RUANG KLINIK KE LAYAR GAWAI: PENGAWASAN TUBUH DAN PERSONALISASI PERAWATAN KULIT DALAM APLIKASI EB Arif Zuhdi Winarto
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 8 (2026): Januari 2026
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji aplikasi EB sebagai platform klinik dermatologi berbasis digital dari merek klinik perawatan kecantikan di Indonesia. Melalui fitur dan layanan digital, aplikasi EB membentuk rezim baru dari pengawasan tubuh. Mulai dari integrasi fitur telekonsultasi, rekam medis digital, ensiklopedia medis digital, hingga program daur ulang kemasan. Berangkat dari kerangka tatapan medis Foucault dan konsep mesin kebiasaan Airoldi, studi ini menelaah bagaimana hubungan antara pasien, dokter dan institusi klinik telah mengalami pergeseran ketika tubuh, gejala, dan konsumsi perawatan dimediasi oleh antarmuka aplikasi digital, algoritma rekomendasi, serta infrastruktur data yang secara simultan terus menyedot data, mengklasifikasikan, dan mempersonalisasi informasi data pengguna. Menggunakan metode autoetnografi digital, penelitian ini merekam pengalaman peneliti sebagai pengguna aplikasi sekaligus mengamati secara kualitatif bagaimana fitur-fitur aplikasi EB tidak hanya memfasilitasi layanan kesehatan, tetapi juga menormalisasi bahasa medis, mengarahkan pilihan produk, dan mencetak kebiasaan digital tertentu terkait tubuh, kesehatan, dan kecantikan. Temuan menunjukkan bahwa penerapan EB beroperasi sebagai klinik digital yang memperluas logika klinis hingga ke ranah konsumsi sehari-hari dan praktik ekologis. Lebih jauh, ketika limbah kemasan produk juga berusaha dimasukkan ke dalam sistem klasifikasi, pencatatan, dan pemberian reward, artinya pengguna secara halus sedang berusaha dibentuk menjadi subjek yang sekaligus memperluas, dididik, dan transmisi melalui mekanisme insentif algoritmik.