Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kelayakan Material Domato Tendeadongi Kabupaten Poso Pada Lapis Pondasi Agregat Kelas S Tanari, Bleiser
Borneo Engineering : Jurnal Teknik Sipil Volume 8 Nomor 3 Tahun 2024
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Borneo Tarakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35334/be.v8i3.5881

Abstract

Pada campuran lapis pondasi perkerasan jalan, ada beberapa permasalahan yang sering muncul pada saat pencampuran di laksanakan, salah satu permasalahan yang ada adalah ketersediaan agregat sebagai salah satu bahan campuran pada lapis pondasi jalan, ada beberapa daerah tertentu yang mempunyai kondisi sulit serta harus megeluarkan biaya banyak dalam mendatangkan agregat dari daerah lain, dan untuk mengatasi hal tersebut akan coba digunakan material lokal domato sebagai alternatif. Domato adalah sejenis batuan gunung berkapur yang belum terbentuk secara normal. Domato pada kondisi kering terlihat seperti batu karang yang keras tetapi jika basah terlihat seperti tanah. Di Propinsi Sulawesi Tengah, jenis batuan tersedia sangat melimpah di wilayah dataran Pamona Poso, Morowali, Luwuk dan Ampana. Kabupaten Poso memiliki ketersediaan Domato yang ditaksir terbesar di Desa Lena dan Desa Sangira sebesar 1.785.000.000 Ton, dan menurut penelitian yang sudah dilakukan bahwa Domato bisa meningkatkan nilai CBR tanah dasar.  Melihat potensi yang ada, maka akan diteliti apakah Domato memenuhi syarat untuk digunakan pada lapis pondasi agregat kelas S. Hasil pengujian memperlihatkan bahwa Penggunaan Domato Tendeadongi Kabupaten Poso tidak memenuhi syarat kekuatan agregat (abrasi) akan tetapi memenuhi syarat CBR untuk dijadikan campuran lapis pondasi agregat kelas S. Kata kunci: Domato, Lapis Pondas Jalan, CBR, Agregat Kelas S.
Desiminasi Mitigasi Dampak Bencana Gempa Bumi di Kecamatan Poso Pesisir Pakpahan, Irnovia; Wu’on, Orva; Tanari, Bleiser; Tangkeallo, Marthen; Pandoyu, Ebelhart; Kelo, Riwan
Mosintuwu : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 2 (2025): Mosintuwu : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Sintuwu Maroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71127/2808-9073.787

Abstract

Sulawesi Tengah merupakan salah satu kawasan yang rentan terhadap terjadinya gempa bumi di Indonesia.Gempa bumi ini disebabkan oleh pergerakan Sesar Palu Koro (Supartoyo dan Surono, 2008). Kabupaten Poso yang masuk dalam wilayah Sulawesi Tengah termasuk wilayah sesar aktif (Sesar Tokoraru dan Sesar Sausu) sehingga rentan terhadap gempa dangkal menengah-kuat.Gempa bumi adalah peristiwa bergetarnya bumi akibat pelepasan energi di dalam bumi secara tiba-tiba yang ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada kerak bumi.Akumulasi energi penyebab terjadinya gempa bumi dihasilkan dari pergerakkan lempeng-lempeng tektonik. Energi yang dihasilkan dipancarkan ke segala arah berupa gelombang gempa bumi sehingga efeknya dapat dirasakan sampai ke permukaan bumi. Gempa bumi memberikan dampak psikologis yang signifikan terhadap masyarakat terutama masyarakat pesisir pantai, menimbulkan ketakutan dan kecemasan terhadap potensi gempa bumi atau gempa susulan di masa depan. Oleh karena itu, perlu adanya mitigasi dampak bencana. Upaya-upaya yang dilakukan dilakukan pada saat terjadi gempa dan dan setelah terjadi gempa bumi untuk mengurangi dampak bencana dan meminimalkan korban jiwa dan kerusakan harta benda.Langkah pertama yang dilakukan adalah melakukan penilaian resiko pada daerah yang terkena dampak.Salah satu untuk mengurangi resiko bencana genpa bumi yaitu pembangunan infrastruktur fisik tahan gempa dan peningkatan kesadaran serta peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman gempa bumi.Dari permasalahan diatas Rencana Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat yang akan dilakukan adalah memberikan Diseminasi Mitigasi Dampak Bencana Gempa Bumi berupa teori dan pemahaman tentang bencana gempa bumi dan mitigasi bencana yaitu upaya-upaya yang dilakukan pada saat terjadi gempa dan dan setelah terjadi gempa bumi untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat.