Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Desiminasi Mitigasi Dampak Bencana Gempa Bumi di Kecamatan Poso Pesisir Pakpahan, Irnovia; Wu’on, Orva; Tanari, Bleiser; Tangkeallo, Marthen; Pandoyu, Ebelhart; Kelo, Riwan
Mosintuwu : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 2 (2025): Mosintuwu : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Sintuwu Maroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71127/2808-9073.787

Abstract

Sulawesi Tengah merupakan salah satu kawasan yang rentan terhadap terjadinya gempa bumi di Indonesia.Gempa bumi ini disebabkan oleh pergerakan Sesar Palu Koro (Supartoyo dan Surono, 2008). Kabupaten Poso yang masuk dalam wilayah Sulawesi Tengah termasuk wilayah sesar aktif (Sesar Tokoraru dan Sesar Sausu) sehingga rentan terhadap gempa dangkal menengah-kuat.Gempa bumi adalah peristiwa bergetarnya bumi akibat pelepasan energi di dalam bumi secara tiba-tiba yang ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada kerak bumi.Akumulasi energi penyebab terjadinya gempa bumi dihasilkan dari pergerakkan lempeng-lempeng tektonik. Energi yang dihasilkan dipancarkan ke segala arah berupa gelombang gempa bumi sehingga efeknya dapat dirasakan sampai ke permukaan bumi. Gempa bumi memberikan dampak psikologis yang signifikan terhadap masyarakat terutama masyarakat pesisir pantai, menimbulkan ketakutan dan kecemasan terhadap potensi gempa bumi atau gempa susulan di masa depan. Oleh karena itu, perlu adanya mitigasi dampak bencana. Upaya-upaya yang dilakukan dilakukan pada saat terjadi gempa dan dan setelah terjadi gempa bumi untuk mengurangi dampak bencana dan meminimalkan korban jiwa dan kerusakan harta benda.Langkah pertama yang dilakukan adalah melakukan penilaian resiko pada daerah yang terkena dampak.Salah satu untuk mengurangi resiko bencana genpa bumi yaitu pembangunan infrastruktur fisik tahan gempa dan peningkatan kesadaran serta peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman gempa bumi.Dari permasalahan diatas Rencana Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat yang akan dilakukan adalah memberikan Diseminasi Mitigasi Dampak Bencana Gempa Bumi berupa teori dan pemahaman tentang bencana gempa bumi dan mitigasi bencana yaitu upaya-upaya yang dilakukan pada saat terjadi gempa dan dan setelah terjadi gempa bumi untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat.  
Analisis Integratif Metode Hindcasting dan Pengukuran Lapangan untuk Pemodelan Tinggi dan Periode Gelombang di Pantai Glagah Bangguna, David; Pakpahan, Irnovia; Tangkeallo, Marthen; Abulebu, Henny; Bansambua, Elce; Lawodi, Yulisnawati; Antameng, Elizabeth; Zebua, Sandi
MEDIA KOMUNIKASI TEKNIK SIPIL Volume 31, Nomor 2, DESEMBER 2025 (IN PROGRESS)
Publisher : Department of Civil Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkts.v31i2.74413

Abstract

The hindcasting method uses past wind data to estimate wave height (Hs) and wave period (Tp). The study aims to compare the wave height and period of the Sverdrup-Munk-Bretschneide (SMB), Finite Water Depth (FWD), and Joint North Sea Wave Project (JONSWAP) hindcasting methods with field measurement results. Wind data is sourced from NASA Prediction of Worldwide Energy Resources (POWER) Data Access Viewer (DAV) v2.4.9 for 2015-2024. The analysis results show that the wave height of the JONSWAP method is greater than the SMB and FWD methods. The wave height and period of the SMB and FWD methods have almost the same values. The difference between the three hindcasting methods is because the parameters used to calculate the wave height and period are different, the SMB method only uses the effective fetch length parameter (Feff), the FWD method uses the effective fetch parameter (Feff) and water depth (d), while the JONSWAP method uses the effective fetch parameter (Feff) and wind speed (UA). The wind speed (UA) parameter in the JONSWAP method has a very significant effect on wave height and period. For coastal structure planning, the JONSWAP method is more recommended, because the resulting wave height can function as a safety factor.