Pipih, Pipih Napisah
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Status Gizi Dengan Menarche Pada Siswi Sekolah Dasar Dan Madrasah Ibtidaiyah Pipih, Pipih Napisah; Agustin, Mesya Dwi; Herawati, Yanti
Jurnal Keperawatan 'Aisyiyah Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Keperawatan 'Aisyiyah
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33867/wb7txp77

Abstract

Menarche merupakan kondisi seorang remaja putri yang mengalami menstruasi pertama.Saat ini di Indonesia yang mengalami percepatan menarche sebesar 0,22% per tahundengan rentang usia ≤11 tahun. Tujuan penelitian, yaitu mengetahui hubungan statusgizi dengan menarche pada siswi SDN dan MI. Jenis penelitian, yaitu korelasional.Populasi, yaitu semua siswi kelas IV dan V SD Negri dan MI. Jumlah sampel sebanyak142 siswi. Teknik sampling menggunakan total sampling. Instrument menggunakanlembar observasi, timbangan berat badan, dan meteran tinggi badan. Analisis bivariatmenggunakan uji rank spearman. Hasil penelitian menunjukan bahwa karakteristikresponden, yaitu kelas 5 (52,1%), umur ≤11 tahun (83,8%), belum menarche (74,6%),dan status gizi baik (65,5%). Hasil uji rank spearman menunjukan bahwa bahwa terdapathubungan antara status gizi dan menarche secara signifikan (p-value 0,000). Terbuktidengan dari sebanyak 142 siswi, sebagian besar responden mengalami status gizi baikdan belum menarche (59,1%). Sementara itu, hasil uji status gizi dan usia menarchemenunjukan bahwa terdapat hubungan secara signifikan (p-value 0,002). Terbukti dengandari sebanyak 36 siswi yang sudah menarche, terdapat status gizi berlebih dan mengalamimenarche ≤11 tahun (33,3%) dan obesitas (41,7%). Kesimpulannya, terdapat hubunganyang signifikan antara status gizi dengan menarche pada siswi SD Negeri dan MI. Olehkarena itu, pihak sekolah diharapkan dapat memberikan informasi dan pemahaman terkaitpentingnya gizi seimbang, serta melibatkan orang tua dalam pengaturan pola makan siswi,khususnya saat pembagian rapor.
Faktor Penyebab Preeklampsia Pada Ibu Hamil Pipih, Pipih Napisah; Aulia, Hasna; Herawati, Yanti; Puspitasari, Putri
Jurnal Keperawatan 'Aisyiyah Vol. 12 No. 2 (2025): Jurnal Keperawatan 'Aisyiyah
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33867/JKA.655

Abstract

Preeklampsia masih menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas ibu serta janin. Di Indonesia, angka kejadiannya mencapai 5,3% per tahun (128.273 kasus), dengan prevalensi 32,16% di Jawa Barat dan 13,60% di Kota Bandung. Dampak preeklampsia meliputi kelahiran prematur, oliguria, kematian, hambatan pertumbuhan janin, dan oligohidramnion. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor penyebab preeklampsia pada ibu hamil di Puskesmas Kecamatan Kiaracondong. Penelitian menggunakan desain korelasional dengan pendekatan cross-sectional dan dilaksanakan pada 1–7 Juni 2025. Populasi adalah seluruh ibu hamil dengan hipertensi yang melakukan pemeriksaan ANC di Puskesmas Babakan Surabaya dan Babakan Sari. Sampel sebanyak 68 responden diambil dengan teknik total sampling. Instrumen penelitian berupa lembar observasi, kuesioner, rekam medis, tensimeter, dan stetoskop. Analisis bivariat menggunakan uji Rank Spearman karena data tidak berdistribusi normal (p=0,000). Hasil univariat menunjukkan karakteristik ibu dengan preeklampsia didominasi usia 20–35 tahun (14,7%), multigravida (19%), pendidikan SMA (16,2%), dan tidak bekerja (25%). Analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan antara karakteristik responden, riwayat diabetes melitus, infeksi saluran kemih, kehamilan ganda, dan ukuran LILA dengan kejadian preeklampsia (p>0,05). Namun, terdapat hubungan signifikan antara riwayat hipertensi (p=0,000), riwayat preeklampsia (p=0,000), serta frekuensi pemeriksaan ANC (p=0,042). Disimpulkan bahwa faktor risiko preeklampsia meliputi riwayat hipertensi, riwayat preeklampsia, dan pemeriksaan ANC. Oleh karena itu, skrining risiko dan edukasi kehamilan perlu ditingkatkan untuk pencegahan dini.