Peran dosen dalam mengajarkan moderasi beragama kepada mahasiswa di ruang publik sangat penting di tengah keberagaman agama, budaya, dan etnis yang semakin mencolok. Dengan pendekatan berbasis nilai-nilai Kristiani, dosen diharapkan dapat mengembangkan sikap toleransi, penghormatan terhadap perbedaan, serta kemampuan untuk hidup berdampingan meskipun ada perbedaan pandangan hidup dan keyakinan. Moderasi beragama yang diajarkan dalam konteks pendidikan tinggi bertujuan untuk menciptakan iklim sosial yang inklusif dan damai, di mana perbedaan bukanlah hambatan, tetapi sebuah kekayaan yang membangun. Artikel ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis literatur untuk menggali pemahaman tentang bagaimana dosen dapat menanamkan prinsip moderasi beragama dalam interaksi sosial mahasiswa, baik di kelas maupun di luar kelas. Dosen memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membimbing mahasiswa dalam memahami dan mengaplikasikan ajaran Kristus mengenai kasih, penghormatan terhadap sesama, dan perdamaian. Tantangan dalam mengajarkan moderasi beragama, seperti kecenderungan isolasi sosial dan polarisasi antaragama, memerlukan pendekatan inklusif dan berbasis pada dialog antaragama yang konstruktif. Melalui berbagai metode, seperti integrasi nilai-nilai moderasi dalam kurikulum, diskusi kelas, serta kegiatan ekstrakurikuler, dosen dapat memfasilitasi mahasiswa untuk melihat perbedaan sebagai peluang untuk belajar dan berkembang, menciptakan masyarakat yang lebih toleran dan harmonis. Penelitian ini diharapkan memberikan wawasan tentang penerapan moderasi beragama di ruang publik dan kontribusinya terhadap pengembangan pendidikan yang lebih berbasis nilai-nilai Kristiani.