Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kesetaraan Gender dalam Perspektif Pasca Kolonial: Pemahaman dan Implementasi di Kalangan Mahasiswa Sianturi, Joyanda
Jurnal Teologi Cultivation Vol 8, No 1 (2024): JULI
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v8i1.2507

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi dan pemahaman mahasiswa Institut Agama Kristen Renatus Pematang Siantar (IAK Renatus) terhadap kesetaraan gender dalam konteks pendidikan Kristen. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan perspektif pasca kolonial, penelitian ini menggali pemahaman mahasiswa mengenai kesetaraan gender serta tantangan yang dihadapi dalam implementasi prinsip tersebut dalam pendidikan tinggi Kristen. Metode studi kasus diterapkan untuk memperoleh gambaran mendalam mengenai dinamika kesetaraan gender di IAK Renatus, melibatkan 25 mahasiswa, 10 dosen, dan 3 pimpinan institusi sebagai partisipan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi kelas, dan analisis dokumen institusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa mengakui pentingnya kesetaraan gender, namun persepsi mereka dipengaruhi oleh norma-norma budaya dan agama yang lebih konservatif. Beberapa mahasiswa masih menganggap kesetaraan gender bertentangan dengan peran gender tradisional. Implementasi kesetaraan gender dalam pengajaran juga menunjukkan kesenjangan, di mana beberapa dosen telah mengintegrasikan prinsip tersebut dalam materi kuliah, namun banyak juga yang belum melibatkan perspektif gender dalam pengajaran. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan kurikulum berbasis gender dan pelatihan dosen untuk mendukung implementasi kesetaraan gender di IAK Renatus. Dengan demikian, diharapkan IAK Renatus dapat menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif dan adil, serta mengintegrasikan nilai-nilai kesetaraan gender dalam pendidikan Kristen berbasis Alkitabiah.
MENGAJARKAN MODERASI BERAGAMA DI RUANG PUBLIK: MEMBANGUN HARMONI DALAM KERAGAMAN SOSIAL Sianturi, Joyanda
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 7 No. 4 (2024): Special Issue Vol. 7 No. 4 Tahun 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v7i4.37934

Abstract

Peran dosen dalam mengajarkan moderasi beragama kepada mahasiswa di ruang publik sangat penting di tengah keberagaman agama, budaya, dan etnis yang semakin mencolok. Dengan pendekatan berbasis nilai-nilai Kristiani, dosen diharapkan dapat mengembangkan sikap toleransi, penghormatan terhadap perbedaan, serta kemampuan untuk hidup berdampingan meskipun ada perbedaan pandangan hidup dan keyakinan. Moderasi beragama yang diajarkan dalam konteks pendidikan tinggi bertujuan untuk menciptakan iklim sosial yang inklusif dan damai, di mana perbedaan bukanlah hambatan, tetapi sebuah kekayaan yang membangun. Artikel ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis literatur untuk menggali pemahaman tentang bagaimana dosen dapat menanamkan prinsip moderasi beragama dalam interaksi sosial mahasiswa, baik di kelas maupun di luar kelas. Dosen memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membimbing mahasiswa dalam memahami dan mengaplikasikan ajaran Kristus mengenai kasih, penghormatan terhadap sesama, dan perdamaian. Tantangan dalam mengajarkan moderasi beragama, seperti kecenderungan isolasi sosial dan polarisasi antaragama, memerlukan pendekatan inklusif dan berbasis pada dialog antaragama yang konstruktif. Melalui berbagai metode, seperti integrasi nilai-nilai moderasi dalam kurikulum, diskusi kelas, serta kegiatan ekstrakurikuler, dosen dapat memfasilitasi mahasiswa untuk melihat perbedaan sebagai peluang untuk belajar dan berkembang, menciptakan masyarakat yang lebih toleran dan harmonis. Penelitian ini diharapkan memberikan wawasan tentang penerapan moderasi beragama di ruang publik dan kontribusinya terhadap pengembangan pendidikan yang lebih berbasis nilai-nilai Kristiani.