Diah Ayu Agustin
Akademi Keperawatan Bina Insan Jakarta Jalan Kramat Jaya Raya,Tugu Utara, Koja, Kota Jakarta 14260

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PENERAPAN MODEL KONSERVASI LEVINE PADA PEMENUHAN KEBUTUHAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT ANAK YANG DIRAWAT Agustin, Diah Ayu
Indonesian Journal of Nursing Health Science Vol 3, No 01 (2018): Indonesian Journal of Nursing Health Science
Publisher : Indonesian Journal of Nursing Health Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fluids and electrolytes are part of the energy conservation children need to adapt to maintain the full function of the body. The purpose of this study was to provide an overview of the application of the Levine conservation model in treated children with fluid and electrolyte problems. The method of this study is a case study by applying Levine conservation model to five children treated with fluid and electrolyte problems. The results of the evaluation of treatment of the five cases of fluid and electrolyte problems showed that the problem was solved, only one case had not been resolved because the client experienced a deterioration when about to go home. Conclusion: The Levine conservation model is well suited to the fulfillment of fluid and electrolyte needs of treated children.  Keywords: levine conservation model, fluids and electrolytes, treated child
PENERAPAN DETEKSI DINI PLEBITIS ANAK YANG DIRAWAT MENGGUNAKAN SKALA INFUSION NURSE SOCIETY Agustin, Diah Ayu
Indonesian Journal of Nursing Health Science Vol 2, No 2 (2017): Indonesian Journal of Nursing Health Science
Publisher : Indonesian Journal of Nursing Health Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractMost of the hospitalized children get infusion treatment. Plebitis is one of the complications of infusion. The purpose of the study provides an overview of the application of infusion scale Nursing Society (INS) as a means of early detection of plebitis. The research method using descriptive design, with the number of samples of 35 children who installed the infusion. The data collection tool uses an observation sheet based on the scale of the INS. The data analysis used is univariate analysis. The results of the study were the majority of children treated with male sex (63%), aged less than five years (74%), there was a perception equation between the main researcher and the room nurse when determining plebitis score (100%), plebitis score score 0 there are 24 children (68%), score 1 there are 10 children (29%), score 2 there is 1 child (3%), score 3 none (0%), and score 4 none (0%). The scale conclusions of INS scale are effective, easy and feasible to use for early detection of plebitis. Keywords: infusion, plebitis, early detection AbstrakSebagian besar anak yang dirawat di rumah sakit mendapat tindakan pemasangan infus. Plebitis merupakan salah satu komplikasi pemasangan infus. Tujuan penelitian memberikan gambaran penerapan skala Infus Nursing Society (INS) sebagai alat deteksi dini plebitis. Metode penelitian menggunakan desain deskriptif, dengan jumlah sample 35 anak yang terpasang infus. Alat pengumpulan data menggunakan lembar observasi berdasarkan skala INS. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat. Hasil penelitian antara lain mayoritas anak yang dirawat berjenis kelamin laki-laki (63%), berusia kurang dari lima tahun (74%), terdapat persamaan persepsi antara peneliti utama dengan perawat ruangan saat menentukan skor plebitis (100%), distribusi skor plebitis skor 0 ada 24 anak (68%), skor 1 ada 10 anak (29%), skor 2 ada 1 anak (3%), skor 3 tidak ada (0%), dan skor 4 tidak ada (0%).Simpulan skala INS skala yang efektif, mudah dan layak digunakan untuk mendeteksi dini plebitis. Kata kunci: infus, plebitis, deteksi dini
LITERATURE REVIEW: METODE KANGAROO MOTHER CARE DAPAT MENSTABILKAN SUHU TUBUH BAYI DENGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH Lina Andriani; Diah Ayu Agustin
Jurnal Kesehatan Karya Husada Vol 9 No 2 (2021): Jurnal Kesehatan Karya Husada (JKKH)
Publisher : LPPM Politeknik Kesehatan Karya Husada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36577/jkkh.v9i2.550

Abstract

Latar belakang Bayi Badan Lahir Rendah (BBLR) masih menjadi masalah dunia, terutama pada negara-negara berkembang. BBLR berdampak serius pada tumbuh kembang bayi baru lahir. BBLR sering mengalami suhu yang tidak stabil berakibat pada peningkatkan mortalitas dan morbiditas. Perlu dilakukan upaya kuratif, salah satunya perawatan metode kangguru. Tujuan literature review: mengetahui pengaruh perawatan metode kangguru terhadap suhu tubuh BBLR. Hasil didapatkan 5 jurnal sejenis dan 1 jurnal pembanding dengan intervensi yang berbeda. Kesimpulan Perawatan Metode Kangguru (PMK) dan Terapi Musik Gamelan efektif untuk meningkatkan serta menstabilkan suhu tubuh Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR). Kata Kunci: BBLR, Perawatan Metode Kangguru, Terapi Musik Gamelan
LITERATURE REVIEW: DISTRAKSI AUDIOVISUAL DAPAT MENURUNKAN INTENSITAS NYERI PEMASANGAN INFUS PADA ANAK USIA PRASEKOLAH SP. Intan Zahra; Diah Ayu Agustin
Sentani Nursing Journal Vol. 3 No. 2 (2020): Agustus
Publisher : Jayapura Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52646/snj.v3i2.110

Abstract

Anak yang dirawat di rumah sakit membutuhkan perawatan yang kompeten untuk meminimalisasi efek negatif dari hospitalisasi dan mengembangkan efek positif. Kejadian diare di indonesia masih terbilang tinggi. Masalah keperawatan yang sering muncul pada anak diare adalah kehilangan cairan dan elektrolit yang dapat mengancam jiwa, sehingga dibutuhkan upaya pencegahan dengan cara pemasangan infus. Pemasangan infus dapat menimbulkan nyeri, yang bila tidak diatasi dapat membuat anak menjadi tidak kooperatif dan menolak prosedur sehingga dapat menghambat proses penyembuhan. Oleh karena, dibutuhkan teknik untuk mengurangi nyeri, salah satunya teknik distraksi audiovisual. Hasil didapatkan 5 jurnal sejenis dan 1 jurnal pembanding. Kesimpulan teknik distraksi audiovisual dapat menurunkan skala nyeri yang dirasa oleh anak-anak prasekolah pada saat pemasangan infus.
Pengaruh Madu terhadap Frekuensi Batuk dan Napas Serta Ronkhi pada Balita Pneumonia Diah Ayu Agustin; Nani Nurhaeni; Nur Agustini
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.792 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v2i1.82

Abstract

ABSTRAKBalita pneumonia mengalami batuk, napas cepat, dan ronkhi. Madu memiliki efek antimikroba dan antibodi yang dapat menghambat pertumbuhan agen mikroba penyebab pneumonia. Tujuan penelitian: mengetahui pengaruh pemberian madu terhadap frekuensi batuk, frekuensi napas, dan ronkhi balita pneumonia. Metode: Desain penelitian quasi-experimental: pre-test-post-test, non-equivalent control group. Jumlah sampel 34 balita berdasarkan rumus besar sampel kategorik berpasangan. Kelompok intervensi sejumlah 17 orang, diberikan madu murni 2,5 cc 30 menit sebelum anak tidur malam (± pukul 18.00) selama 3 hari. Kelompok kontrol sejumlah 17 orang diberikan air putih 2,5 cc 30 menit sebelum anak tidur malam (± pukul 18.00) selama 3 hari. Pengukuran hasil penelitian dilakukan pada hari pertama sebelum perlakuan dan hari keempat setelah perlakuan. Instrumen yang digunakan ialah timer, stetoskop, lembar observasi, dan kuesioner. Analisis data bivariat berpasangan menggunakan marginal homogenity, pair t test, dan Mc Nemar. Analisis data bivariat tidak berpasangan menggunakan Kolmogorov Smirnov, Fisher exact, dan independent t test. Hasil: Hasil penelitian menemukan adanya pengaruh yang bermakna pada pemberian madu terhadap frekuensi batuk (p=0,001), frekuensi napas (p=0,0001), dan ronkhi (p=0,012) antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi. Kesimpulan: Rekomendasi penelitian ialah perlu menerapkan pemberian madu pada balita pneumonia untuk menurunkan batuk, frekuensi napas, dan ronkhi.Kata Kunci: balita pneumonia, frekuensi batuk, frekuensi napas, madu, ronkhi.EFFECT OF HONEY ON FREQUENCY OF COUGH, RESPIRATION AND RHONCHI IN UNDER-FIVE CHILDREN WITH PNEUMONIAABSTRACTUnder-five children with pneumonia experience cough, rapid breathing, and rhonchi. Honey has antimicrobial and antibody effects which can inhibit the growth of pneumonia-causing microbial agents. Objective: To identify the effect of honey on frequency of cough, respiration, and rhonchi in under-five children with pneumonia. Methods: This study employed quasi- experimental research with pretest-posttest, non-equivalent control group. The number of samples of 34 under-five children based on the formula of categorical paired samples. The intervention group numbering 17 people was given 2.5 cc ofpure honey 30 minutes before the child slept at night (± 06:00pm) for 3 days. The control group numbering 17people was given 2.5 cc ofwater 30 minutes before the child slept at night (± 06:00pm) for 3 days. The study results were measured on the first day before treatment and the fourth day after treatment. The instruments used were timer, stethoscope, observation sheet, and questionnaire. Paired bivariate data were analyzed using marginal homogeneity, pair t test, and Mc Nemar. Unpaired bivariate data were analyzed of using Kolmogorov-Smirnov, Fisher’s exact, and independent t-test. Results: The study results found a significant effect of giving honey on frequency of cough (p=0.001), frequency of respiration (p=0.0001), and rhonchi (p=0.012) between the control group and the intervention group. Conclusion: This study recommends to give honey to under-five children with pneumonia to decrease cough, frequency of respiration, and rhonchi.Keywords: under-five children with pneumonia, frequency of cough, frequency of respiration, honey, rhonchi.
ANALISIS STATUS NUTRISI DAN POLA KONSUMSI MAKANAN SISWA SEKOLAH DASAR Agustin, Diah Ayu
Jurnal Kesehatan Karya Husada Vol 12 No 2 (2024): Jurnal Kesehatan Karya Husada
Publisher : POLITEKNIK KESEHATAN KARYA HUSDA YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36577/jkkh.v12i2.717

Abstract

Dunia saat ini mengalami tiga beban malnutrisi yaitu, kekurangan nutrisi, kelebihan nutrisi dan kekurangan mikronutrisi, termasuk Indonesia. Malnutrisi pada anak sekolah dasar antara lain disebabkan oleh pola konsumsi makan yang tidak seimbang akibat kurangnya pengetahuan siswa tentang nutrisi seimbang. Tujuan penelitian mengetahui proporsi status gizi dan pola konsumsi makanan anak serta evaluasi program dokter kecil meningkatkan status nutrisi siswa Sekolah Dasar Negeri 07, Jakarta, Indonesia. Metode penelitian adalah deskripsi. Sampling yang digunakan adalah probality sampling dengan jumlah responden 30 orang dokter kecil. Hasil penelitian: rentang usia siswa 9-12 tahun, tinggi badan 115-162 cm, berat badan 25-57 kg. Status nutrisi berdasarkan IMT/U menunjukkan bahwa tidak ada siswa yang buruk/sangat kurang, sebagian besar baik atau normal 13 (43,3%), lebih 12 (40,0 %), obesitas 2 (10,0 %), kurang 2 (6,7 %). Siswa perempuan lebih banyak memiliki status nutrisi lebih dan obesitas daripada laki-laki. Status nutrisi siswa perempuan mayoritas baik/normal 12 (48,0%), lebih 9 (36,0%), obesitas 2 (8,0%), kurang 2 (8,0%). mayoritas siswa laki-laki memiliki status nutrisi lebih 3 (60,0%), obesitas 1 (20%), baik/normal 1 (20%). Status nutrisi siswa menurut TB/U yaitu mayoritas siswa normal 27 (90%), tinggi 2 (8%) dan sangat pendek 1 (4%). Pola konsumsi makan siswa antara lain frekuensi makan siswa setiap hari mayoritas adalah 3x/hari (70,0%). Sebagian besar siswa selalu sarapan pagi 18 (60,0%). Setiap hari siswa selalu makan nasi sebagai makanan pokok sumber karbohidrat 27 (90,0%). Siswa yang selalu makan lauk sumber protein seperti telur, ikan, tempe, ayam, daging 18 (60,0%). Setengah dari siswa 15 (50,0%) sering makan sayur dan buah sumber vitamin, mineral. Siswa minum susu setiap hari dengan frekuensi minum susu terbanyak adalah 1x/hari 15 (50,0%), 2 kali/hari (40,0%), 3x/hari (6,7%), lebih dari 3x/hari(3,3%). Semua siswa juga makan snack/ jajan dengan frekuensi sebagian besar 2x/hari 10 (33,3%), lebih dari 3x.hari 9 (30,0%), 1x/hari 8 (26,7%) dan 3x/hari (10,0%). Kesimpulan: status nutrisi dan pola konsumsisiswa cukup baik, namun masih ada siswa yang status nutrisi kurang, lebih, obesitas dan stunting, kurang konsumsi buah dan sayur tidak minum tablet tambah darah. Program dokter kecil perlu ditingkatkan melalui peran perawat sebagai edukator dan motivator nutrisi siswa sebagai upaya peningkatan status gizi anak usia sekolah dasar
Implementation of Coloring and Puzzle Play Therapy to Reduce Hospitalization Anxiety in Preschoolers: A Case Study Diah Ayu Agustin; Shofiyyul Izhan; Ika Melasari; Bambang Sucipto
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 11, No 2 (2026)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v11i2.930

Abstract

Deterioration in physical condition, environmental changes, medical treatment, loss of control over activities can cause anxiety in preschool children hospitalized with bronchopneumonia. The aim of the study: to determine the results of the application of puzzle and coloring therapy in 2 children who experienced anxiety during hospitalization. Method: Descriptive case study. Coloring therapy in patient 1 (N) and puzzle therapy in patient 2 (A) was carried out once a day for 30 minutes, for three days of treatment. Anxiety was measured before and after therapy using a questionnaire based on the Facial Image Scale (FIS). Results: Coloring therapy is effective in reducing anxiety levels from very severe to moderate. Puzzle therapy is also proven to be effective in reducing anxiety levels from severe to mild. Conclusion: Nurses play a crucial role as care providers, educators, and collaborators in applying puzzle and coloring therapy to reduce anxiety in hospitalized preschool children through appropriate play spaces and materials, accompanying the child, monitoring responses after play, and collaborating with parents and healthcare team members.