Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Konsumsi, Arena Perjuangan Kelas, dan Dominasi Budaya: Tinjauan atas Pemikiran Pierre Bourdieu Bakti, Indra Setia; Situmorang, Nurjanius
Journal of Political Sphere Vol 5, No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jps.v5i2.43316

Abstract

The consumption-oriented lifestyle of contemporary society reflects how individuals express identity through the goods and activities they consume. Pierre Bourdieu, in his seminal work Distinction, explores how consumption operates as a mechanism to maintain social differentiation, leveraging cultural, social, and economic capital. This study employs a literature review to investigate Bourdieu's contributions to the sociology of consumption. The findings reveal that consumption serves as a battleground for class struggles, where individuals and groups use consumption patterns to assert and sustain their status within social hierarchies. From Bourdieu's perspective, consumption is not merely an expression of individuality but a tool for reinforcing social distinctions and reproducing class structures. His critique of taste judgments highlights how dominant classes validate their social power by imposing upper-class tastes as universal standards, perpetuating social hierarchies while obscuring underlying economic inequalities. The analysis emphasizes that upper-class preferences are not only reflective of status but also instrumental in sustaining cultural domination.AbstrakGaya hidup konsumtif dalam masyarakat kontemporer mencerminkan bagaimana individu mengekspresikan identitas melalui barang dan aktivitas yang mereka konsumsi. Dalam karya utamanya, Distinction, Pierre Bourdieu mengkaji konsumsi sebagai mekanisme untuk mempertahankan pembedaan sosial dengan memanfaatkan modal budaya, modal sosial, dan modal ekonomi. Studi ini menggunakan metode kajian pustaka untuk mengeksplorasi kontribusi Bourdieu terhadap sosiologi konsumsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi berperan sebagai arena perjuangan kelas, di mana individu dan kelompok memanfaatkan pola konsumsi untuk menunjukkan dan mempertahankan status mereka dalam hierarki sosial. Dalam perspektif Bourdieu, konsumsi tidak hanya menjadi ekspresi individu, tetapi juga alat untuk memperkuat pembedaan sosial dan mereproduksi struktur kelas. Kritik Bourdieu terhadap penilaian selera menyoroti bagaimana kelas dominan memvalidasi kekuasaan sosial mereka dengan memaksakan selera kelas atas sebagai standar universal. Hal ini memperkuat hierarki sosial sekaligus menyamarkan ketimpangan ekonomi di balik perbedaan budaya yang diakui. Kajian ini menegaskan bahwa preferensi kelas atas tidak hanya mencerminkan status, tetapi juga menjadi sarana dominasi budaya.
Kuasa Pengetahuan Perempuan dalam Pemenuhan Pangan Keluarga di Aceh Maliati, Nulwita; Situmorang, Nurjanius; Kamil, Ade Ikhsan
Aceh Anthropological Journal Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v10i1.26730

Abstract

Indonesia continues to face challenges in food and nutrition fulfillment that lead to stunting, particularly in Pidie District, Aceh. This study aims to analyze the power of women's knowledge in family food fulfillment using Michel Foucault’s Power-Knowledge and Body Discipline theories. Using a qualitative approach, in-depth interviews were conducted with 40 families of stunted children and infants under two years old (baduta). The results reveal a dualism in knowledge construction: government knowledge, which promotes balanced nutrition through the "Fill My Plate" slogan, and community knowledge, dominated by ancestral traditions (such as postpartum dietary taboos and early introduction of bananas to infants). The power of women's knowledge is manifested in food selection practices that prioritize carbohydrates and animal proteins (62%) over vegetables and fruits (12%). This reflects that the process of body discipline is more intensively shaped by the intimate family environment through local knowledge rather than formal health authorities. The study recommends optimizing Posyandu and early childhood education (PAUD) through collective dining practices as a more concrete means of nutritional discipline for the community. Abstrak:  Indonesia masih menghadapi permasalahan pemenuhan pangan dan gizi yang berdampak pada stunting, salah satunya di Kabupaten Pidie, Aceh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relasi kuasa pengetahuan perempuan dalam pemenuhan pangan keluarga dengan menggunakan teori Relasi Kuasa-Pengetahuan dan Disiplin Tubuh dari Michel Foucault. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara mendalam terhadap 40 keluarga yang memiliki anak stunting dan baduta. Hasil penelitian menunjukkan adanya dualisme konstruksi pengetahuan: pengetahuan pemerintah yang menekankan gizi seimbang melalui slogan "Isi Piringku", dan pengetahuan komunitas yang didominasi oleh tradisi turun-temurun (seperti pantangan makan pascamelahirkan dan pemberian pisang pada bayi). Kuasa pengetahuan perempuan terlihat pada praktik pemilihan pangan yang lebih memprioritaskan karbohidrat dan protein hewani (62%) dibandingkan sayur dan buah (12%). Hal ini merefleksikan bahwa proses pendisiplinan tubuh lebih intensif dilakukan oleh lingkungan keluarga yang intim melalui pengetahuan lokal dibandingkan oleh otoritas kesehatan formal. Penelitian merekomendasikan optimalisasi Posyandu dan PAUD melalui praktik makan bersama sebagai sarana pendisiplinan gizi yang lebih konkret bagi masyarakat.