Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

IMPLEMENTASI ADAT JALATN LOME JAIH DAYAK KRIO TERHADAP BUDAYA DAN MISI GEREJA: KAJIAN ANTROPOLOGIS CASSIRER Hilarion Gerri Parto; Yulita Nadila; Raymundus I Made Sudhiarsa
JAPB: Jurnal Agama, Pendidikan dan Budaya Vol. 5 No. 2 (2024)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/japb.v5i2.369

Abstract

Adat Jalatn Lome Jaih merupakan warisan budaya masyarakat Dayak Krio di Kalimantan Barat yang berfungsi sebagai pedoman dalam mengatur hubungan manusia dengan sesama, alam, dan Tuhan. Tradisi ini tidak hanya mencerminkan identitas budaya lokal tetapi juga memiliki potensi untuk diintegrasikan ke dalam misi Gereja Katolik. Perspektif Ernst Cassirer tentang manusia sebagai Animal Symbolicum memberikan kerangka filosofis untuk memahami peran simbol dalam membangun hubungan antara adat, budaya, dan agama. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi adat Jalatn Lome Jaih dalam misi Gereja Katolik serta mengungkap kontribusinya terhadap harmoni antara nilai-nilai lokal dan ajaran Gereja. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan dengan menganalisis data dari literatur terkait adat Jalatn Lome Jaih, teori simbolisme Cassirer, dan inkulturasi dalam Gereja Katolik. Lokasi kajian ini adalah wilayah suku Dayak Krio di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Subyek penelitian mencakup masyarakat adat Dayak Krio yang masih mempraktikkan tradisi Jalatn Lome Jaih dan umat Katolik di wilayah tersebut. Teknik pengumpulan data melibatkan studi literatur, analisis teks, dan interpretasi simbol-simbol budaya serta religius. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adat Jalatn Lome Jaih memiliki simbolisme yang kaya dan relevan dengan ajaran Gereja Katolik, terutama dalam menciptakan ruang dialog budaya dan spiritualitas. Simbol-simbol adat seperti ritual agraris dan kepercayaan terhadap Dowata dapat diadaptasi ke dalam liturgi dan pastoral Gereja, memberikan makna baru bagi umat Katolik tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya lokal. Dengan demikian, integrasi adat Jalatn Lome Jaih ke dalam misi Gereja tidak hanya memperkuat identitas budaya masyarakat Dayak Krio tetapi juga memperkaya spiritualitas umat dalam konteks yang inklusif dan universal.
Memahami Fungsi Setiap Unsur Dalam Budaya Tinju Adat (Sudu) Masyarakat Zepe, Ngada, Menurut Perspektif Antropologi Budaya Ralph Linton Sekundus Septo Pigang Ton; Yoseph Edelbertus Dua; Hilarion Gerri Parto; Fransiskus Antonius Dimas Satyawardhana; Raymundus I Made Sudhiarsa
AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 6 : Juli (2024): AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : CV. Multi Kreasi Media

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The focus of this paper is to understand the function of each element in the customary boxing culture (Sudu) of the Zepe community, Ngada, from the perspective of Ralph Linton's cultural anthropology. Sudu (customary boxing) in Ngada society is a tradition of boxing matches that has a function as a relationship in strengthening social ties between individuals. The purpose of this paper is to understand the function of each element in Ngada people's sudu culture that has social meaning and value. The findings are that sudu is a culture that has been passed down from generation to generation and has the function of mutual respect and brotherhood. In addition to these functions, sudu also has a deep meaning for survival and social relations. The sudu ceremony reflects harmonious relations and friendship through sportsmanship between boxers, as well as solidarity between lives in the Ngada community. Sudu is not only a physical fight, but also a medium to express courage, honor and traditional values. Furthermore, the nelo (dance) that accompanies sudu serves as a cultural expression that strengthens identity and social bonds. The methods used in writing this paper are literature studies and interviews with a descriptive-analytical approach.  
IMPLEMENTASI ADAT JALATN LOME JAIH DAYAK KRIO TERHADAP BUDAYA DAN MISI GEREJA: KAJIAN ANTROPOLOGIS CASSIRER Hilarion Gerri Parto; Yulita Nadila; Raymundus I Made Sudhiarsa
JAPB: Jurnal Agama, Pendidikan dan Budaya Vol. 5 No. 2 (2024)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/japb.v5i2.369

Abstract

Adat Jalatn Lome Jaih merupakan warisan budaya masyarakat Dayak Krio di Kalimantan Barat yang berfungsi sebagai pedoman dalam mengatur hubungan manusia dengan sesama, alam, dan Tuhan. Tradisi ini tidak hanya mencerminkan identitas budaya lokal tetapi juga memiliki potensi untuk diintegrasikan ke dalam misi Gereja Katolik. Perspektif Ernst Cassirer tentang manusia sebagai Animal Symbolicum memberikan kerangka filosofis untuk memahami peran simbol dalam membangun hubungan antara adat, budaya, dan agama. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi adat Jalatn Lome Jaih dalam misi Gereja Katolik serta mengungkap kontribusinya terhadap harmoni antara nilai-nilai lokal dan ajaran Gereja. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan dengan menganalisis data dari literatur terkait adat Jalatn Lome Jaih, teori simbolisme Cassirer, dan inkulturasi dalam Gereja Katolik. Lokasi kajian ini adalah wilayah suku Dayak Krio di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Subyek penelitian mencakup masyarakat adat Dayak Krio yang masih mempraktikkan tradisi Jalatn Lome Jaih dan umat Katolik di wilayah tersebut. Teknik pengumpulan data melibatkan studi literatur, analisis teks, dan interpretasi simbol-simbol budaya serta religius. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adat Jalatn Lome Jaih memiliki simbolisme yang kaya dan relevan dengan ajaran Gereja Katolik, terutama dalam menciptakan ruang dialog budaya dan spiritualitas. Simbol-simbol adat seperti ritual agraris dan kepercayaan terhadap Dowata dapat diadaptasi ke dalam liturgi dan pastoral Gereja, memberikan makna baru bagi umat Katolik tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya lokal. Dengan demikian, integrasi adat Jalatn Lome Jaih ke dalam misi Gereja tidak hanya memperkuat identitas budaya masyarakat Dayak Krio tetapi juga memperkaya spiritualitas umat dalam konteks yang inklusif dan universal.