Tradisi "ter-ater" ini dapat digunakan sebagai sumber belajar melalui pembelajaran tematik, khususnya tema "Keindahan Kebersamaan" di kelas empat SD Pakisan 01. SD ini terletak di lingkungan budaya yang mempraktikkan "ter-ater," sehingga memungkinkan sumber belajar diambil dari budaya lokal masyarakat itu sendiri. Implementasi ini sangat penting karena mengatasi masalah sumber belajar di SD Pakisan 01, yaitu terbatasnya sumber belajar yang tersedia bagi siswa, yang masih terbatas pada buku teks tematik. Desain penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian naratif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi partisipan. Informan adalah masyarakat adat Desa Pakisan. Teknik analisis data dibagi menjadi empat tahap: analisis domain, analisis taksonomi, analisis komponen, dan analisis tema budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa munculnya budaya "ter-ater" disebabkan oleh migrasi masyarakat Madura ke wilayah Pakistan. Budaya "ter-ater" dilakukan setelah perayaan, pesta, dan hari raya keagamaan (Ashura dan Safaran) berakhir. Hadiah budaya "ter-ater" terdiri dari kombinasi makanan dan kue, yang dibedakan berdasarkan makanan wajib yang ada pada perayaan tersebut. Wadah hadiah budaya "ter-ater" adalah "tenong" (wadah makanan) yang biasanya digunakan untuk "ter-ater" pada Idul Adha dan Idul Fitri. Selain itu, "talam" atau "lengser" juga digunakan untuk "ter-ater" pada perayaan Idul Adha dan Idul Fitri. "Ter-ater" dilakukan oleh individu atau keluarga yang mampu, tetapi bahkan mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi pun tetap berusaha melakukannya karena merasa tidak lengkap tanpa tradisi ini. Setelah acara tersebut, "ter-ater" diterima oleh kerabat, tetangga dekat, orang-orang yang dihormati (guru, pemimpin agama, tetua), dan anak-anak. Nilai-nilai budaya tradisi Terater meliputi harmoni, kebersamaan, berbagi, rasa syukur, dan sedekah.