Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PARENTAL ATTACHMENT STYLE DAN CELEBRITY WORSHIP PADA PENGGEMAR ATLIT BULUTANGKIS INDONESIA Mistety Oktaviana; Karisma Riskinanti
PSYCHOPEDIA : Jurnal Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang Vol 9 No 2 (2024): PSYCHOPEDIA : Jurnal Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/psychopedia.v9i2.8308

Abstract

The sport of badminton in Indonesia is growing, and more and more athletes are making Indonesia proud on the international stage. Fans of badminton athletes are also in the spotlight considering the many negative comments given to other athletes who are opponents of their idols. The form of awe towards an idol is known as celebrity worship. Celebrity worship has three levels of admiration, namely social entertainment, intense personal, and borderline pathological. Individuals with a pathological borderline are usually willing to break the rules for their idol. Much literature states that celebrity worship is related to attachment style. Therefore, this research is interested in examining the relationship between parental attachment style and celebrity worship on badminton athlete fans in Indonesia. This research will be carried out with a quantitative approach with a correlational design. Cabang olahraga bulutangkis di Indonesia semakin berkembang, dan semakin banyak atlet yang mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Penggemar dari para atlet bulutangkis pun menjadi sorotan mengingat banyaknya komentar negative yang diberikan kepada atlet lain yang menjadi lawan dari idolanya tersebut. Bentuk perasaan kagum terhadap sosok idola disebut sebagai celebrity worship. Celebrity worship memiliki tiga tingkatan level kekaguman, yaitu entertainment social, intense personal, dan borderline pathological. Pada individu dengan borderline pathological biasanya rela untuk melanggar peraturan demi sang idola. Banyaknya literature menyatakan bahwa celebrity worship berhubungan dengan attachment style. Oleh karena itu penelitia tertarik untuk menguji hubungan antara parental attachment style dengan celebrity worship pada penggemar atlet bulutangkis di Indonesia. Penelitian ini akan dilaksanakan dengan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional.
PARENTAL ATTACHMENT STYLE DAN CELEBRITY WORSHIP PADA PENGGEMAR ATLIT BULUTANGKIS INDONESIA Mistety Oktaviana; Karisma Riskinanti
PSYCHOPEDIA : Jurnal Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang Vol. 9 No. 2 (2024): PSYCHOPEDIA : Jurnal Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/psychopedia.v9i2.8308

Abstract

The sport of badminton in Indonesia is growing, and more and more athletes are making Indonesia proud on the international stage. Fans of badminton athletes are also in the spotlight considering the many negative comments given to other athletes who are opponents of their idols. The form of awe towards an idol is known as celebrity worship. Celebrity worship has three levels of admiration, namely social entertainment, intense personal, and borderline pathological. Individuals with a pathological borderline are usually willing to break the rules for their idol. Much literature states that celebrity worship is related to attachment style. Therefore, this research is interested in examining the relationship between parental attachment style and celebrity worship on badminton athlete fans in Indonesia. This research will be carried out with a quantitative approach with a correlational design. Cabang olahraga bulutangkis di Indonesia semakin berkembang, dan semakin banyak atlet yang mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Penggemar dari para atlet bulutangkis pun menjadi sorotan mengingat banyaknya komentar negative yang diberikan kepada atlet lain yang menjadi lawan dari idolanya tersebut. Bentuk perasaan kagum terhadap sosok idola disebut sebagai celebrity worship. Celebrity worship memiliki tiga tingkatan level kekaguman, yaitu entertainment social, intense personal, dan borderline pathological. Pada individu dengan borderline pathological biasanya rela untuk melanggar peraturan demi sang idola. Banyaknya literature menyatakan bahwa celebrity worship berhubungan dengan attachment style. Oleh karena itu penelitia tertarik untuk menguji hubungan antara parental attachment style dengan celebrity worship pada penggemar atlet bulutangkis di Indonesia. Penelitian ini akan dilaksanakan dengan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional.
Pelatihan Komunikasi Terapeutik dalam Memberikan Layanan Konseling Dasar pada Caregivers di UILS Meruya Mistety Oktaviana; Karisma Riskinanti
Dedikasi : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2024): Dedikasi : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah III DKI Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53276/dedikasi.v3i1.128

Abstract

Indonesia berada pada rangking bawah terkait tingkat kesehatan mental masyarakatnya pada 2017 yang disebabkan kurangnya ketersediaan jumlah profesional kesehatan mental. Padahal masalah kesehatan mental tidak cukup hanya menyelesaikan secara individu, tetapi dibutuhkan intervensi secara makro. Hal inilah yang tengah diupayakan Dinas Sosial Jakarta sebagai upaya perpanjangan tangan dengan mendirikan Unit Informasi Layanan Sosial (UILS) untuk membantu Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) meningkatkan fungsionalitas. Upaya pendampingan pada ODGJ membutuhkan kemampuan self disclosure, hubungan interpersonal, dan kemampuan berempati. Dalam hal ini para caregivers di UILS Meruya diharapkan dapat membantu ODGJ untuk meningkatkan fungsionalitasnya. Dilaksanakannya pelatihan ini bertujuan meningkatkan keterampilan komunikasi terapeutik caregivers dalam melaksanakan konseling pada klien ODGJ. Metode yang dilaksanakan adalah pemaparan materi dengan diakhiri praktik singkat. Pelaksanaan melalui media Google Meet karena kondisi pandemi Covid19 yang tengah terjadi kala itu. Hasil dari pelatihan ini menunjukkan adanya peningkatan keterampilan komunikasi terapeutik pada peserta yang merupakan para caregivers, baik yang baru mendapatkan pengetahuan ini maupun yang sudah pernah mendapatkannya sebelumnya.