Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

TOWARDS AGILE GOVERNMENT: WHAT THINGS DOES THE GOVERNMENT NEED TO BE READY? Malik, Kurniawan Jabar; Sumaryadi, Adityo; Kusudiandaru, Sandhi
DIA: Jurnal Administrasi Publik Vol 22 No 02 (2024): PUBLIC ADMINISTRATION
Publisher : Program Studi Doktor Ilmu Administrasi, FISIP, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/dia.v22i02.9673

Abstract

In recent years, there has been a relatively rapid, dynamic world situation, and it has influenced various sectors. These changes include the massive changes in information technology, patterns of people's lives after the COVID-19 pandemic, demographic shifts, and the evolution of generations of society. The private sector and start-ups often apply the issue of agility and use a strong foundation for implementing digital technology. However, the good things about agile principles are also seen as driving change in the government sector. This research uses literature study and comparative study methods to see how the agile government concept can be built based on structure, culture, operations, and capabilities. The results of this research show that preparing an agile government will be related to how to manage the agility so that the government focuses on user needs, builds the prime team in a dynamic environment, and has the specific role of product owner-product manager as well as the existence of a clear time frame for completing a strategic/priority project.
Determinant Factors in the Implementation of Merit System: An Overview of Indonesian Case Malik, Kurniawan Jabar; Prasojo, Eko
Asian Journal of Social and Humanities Vol. 2 No. 03 (2023): Asian Journal of Social and Humanities
Publisher : Pelopor Publikasi Akademika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59888/ajosh.v2i03.187

Abstract

It is believed that implementing and realizing a merit system in managing government resources not only increases professionalism but also anticipates the occurrence of corruption. A comprehensive merit system can also encourage further positive impacts, especially on the investment climate and boosting the national economy. The enactment of the Civil Service Law is the government's step in realizing a merit system in Indonesia. However, approaching a decade of implementation, admitting the merit system still leaves some outwork and shortcomings. The strong culture of primordialism, patronage, and nepotism affects human resource management at various levels of the Indonesian government. Meanwhile, Indonesia has a noble ambition to implement a comprehensive merit system in the upcoming golden Indonesia period of 2045. This begins by determining the achievements of the merit system to produce professional ASN as a foundation by 2029. This study will further discuss what merit system principles as factors can be determined and implemented for Indonesian government institutions. Considering merit system principles such as strengthening capacity and capability, openness and impartiality, empowerment, and effective leadership is believed to encourage widespread and comprehensive implementation of the merit system. The elements of an optimal and effective merit system in the workplace will form professional employees, foster better societal conditions, and ultimately have a broader positive impact at the regional and national levels.
Membangun Ketahanan Pelayanan Publik Melalui Penerapan Manajemen Keberlangsungan Bisnis: Studi Kesiapan dan Kesadaran BCM di Kementerian Keuangan Malik, Kurniawan Jabar; Barkah, Afrizal Rizky
Jurnal Administrasi Publik Vol 21 No 2 (2025): Jurnal Administrasi Publik
Publisher : Pusat Pengembangan dan Pelatihan dan Kajian Manajemen Pemerintahan Lembaga Administrasi Negara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52316/jap.v21i2.755

Abstract

Kerangka keberlangsungan bisnis adalah bentuk keseriusan organisasi baik privat maupun publik untuk memastikan proses inti organisasi tetap berjalan walaupun terjadi gangguan (bencana alam, gangguan teknologi, krisis reputasi, serangan siber, dll.). Seperti diketahui, sektor publik memiliki peran penting dalam layanan esensial (kesehatan, keuangan negara, keamanan, transportasi). Gangguan yang terjadi secara tiba-tiba dapat mempengaruhi stabilitas sosial dan ekonomi hingga potensi runtuhnya kepercayaan publik karena kegagalan pemerintah untuk memastikan layanan publik tetap berjalan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran menyeluruh atas kondisi dan implementasi Bussiness Continuity Management (BCM)/Manajemen Keberlangsungan Bisnis (MKB) di sektor publik, khususnya di lingkungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Latar belakang studi ini didasari oleh kebutuhan pemerintah untuk memastikan keberlangsungan layanan publik di tengah meningkatnya potensi gangguan, baik bencana alam, non-alam, maupun ancaman teknologi. Penelitian menggunakan kerangka ISO 22301:2019 dan Pedoman MKB Kementerian Keuangan (KMK 520/2021) dengan metode mix method yang menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif dikumpulkan melalui survei kepada 17.904 pegawai (4.535 selaku anggota tim MKB dan 13.369 bukan anggota tim) untuk mengukur tingkat kesadaran dan kesiapan dalam empat tingkatan penilaian. Data kualitatif diperoleh melalui studi dokumen dan wawancara mendalam pada lokasi risiko tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesadaran pegawai berada pada kategori moderate high (rata-rata 3,13) dan relatif merata, namun kesiapan operasional lebih rendah (rata-rata 2,95), dengan kesenjangan yang lebih jelas antara anggota dan non-anggota tim. Temuan kualitatif menyoroti bahwa implementasi MKB telah meliputi pengelolaan risiko yang semakin terintegrasi, pemenuhan dokumen MKB dalam kondisi pra bencana sebagai mitigasi risiko, dan pelaksanaan simulasi serta sosialisasi telah dilakukan. Implikasi penelitian ini menunjukkan perlunya strategi penguatan, termasuk: 1) meningkatkan kepemimpinan dan budaya sadar risiko di seluruh lini organisasi, 2) memperluas dan memperdalam pelatihan berbasis simulasi dan pembelajaran pengalaman, dan 3) harmonisasi regulasi dan prosedur agar lebih adaptif dan responsif terhadap potensi gangguan. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam pengembangan literatur manajemen publik dan memberikan dasar kebijakan untuk meningkatkan ketahanan organisasi pemerintah dalam menghadapi disrupsi di masa mendatang.