Barkah, Afrizal Rizky
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERAN KEBIJAKAN FISKAL TERHADAP PERCEPATAN KONVERGENSI DI JAWA TIMUR Barkah, Afrizal Rizky
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FEB Vol. 9 No. 1
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi pemerataan pembangunan regional di Jawa Timur dan mengetahui dampak dari adanya kebijakan fiskal baik dari sisi pendapatan (kebijakan fiskal kontraktif) maupun sisi belanja (kebijakan fiskal ekspansif) terhadap percepatan konvergensi yang terjadi di Jawa Timur. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif relasional melalui model persamaan konvergensi absolut dan kondisional Barro Sala (1995). Data yang digunakan adalah data panel 38 kabupaten/kota di Jawa Timur periode 2015-2019. Data tersebut bersumber dari BPS Nasional, BPS Jawa Timur, dan Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) terjadi konvergensi di Jawa Timur dengan kecepatan konvergensi sebesar 5,7% per tahun; 2) kebijakan fiskal kontraktif tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap percepatan konvergensi sehingga kondisi konvergensi tidak memiliki perbedaan antara kondisi eksisting dengan adanya perubahan kebijakan kontraktif; 3) kebijakan fiskal ekspansif memiliki pengaruh positif terhadap percepatan konvergensi di Jawa Timur sehingga estimasi lama waktu yang dibutuhkan untuk terjadinya keseimbangan pemerataan pendapatan di Jawa Timur menjadi lebih cepat. Kata Kunci: Konvergensi, Kebijakan Fiskal, Pendapatan dan Belanja Pemerintah
Membangun Ketahanan Pelayanan Publik Melalui Penerapan Manajemen Keberlangsungan Bisnis: Studi Kesiapan dan Kesadaran BCM di Kementerian Keuangan Malik, Kurniawan Jabar; Barkah, Afrizal Rizky
Jurnal Administrasi Publik Vol 21 No 2 (2025): Jurnal Administrasi Publik
Publisher : Pusat Pengembangan dan Pelatihan dan Kajian Manajemen Pemerintahan Lembaga Administrasi Negara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52316/jap.v21i2.755

Abstract

Kerangka keberlangsungan bisnis adalah bentuk keseriusan organisasi baik privat maupun publik untuk memastikan proses inti organisasi tetap berjalan walaupun terjadi gangguan (bencana alam, gangguan teknologi, krisis reputasi, serangan siber, dll.). Seperti diketahui, sektor publik memiliki peran penting dalam layanan esensial (kesehatan, keuangan negara, keamanan, transportasi). Gangguan yang terjadi secara tiba-tiba dapat mempengaruhi stabilitas sosial dan ekonomi hingga potensi runtuhnya kepercayaan publik karena kegagalan pemerintah untuk memastikan layanan publik tetap berjalan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran menyeluruh atas kondisi dan implementasi Bussiness Continuity Management (BCM)/Manajemen Keberlangsungan Bisnis (MKB) di sektor publik, khususnya di lingkungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Latar belakang studi ini didasari oleh kebutuhan pemerintah untuk memastikan keberlangsungan layanan publik di tengah meningkatnya potensi gangguan, baik bencana alam, non-alam, maupun ancaman teknologi. Penelitian menggunakan kerangka ISO 22301:2019 dan Pedoman MKB Kementerian Keuangan (KMK 520/2021) dengan metode mix method yang menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif dikumpulkan melalui survei kepada 17.904 pegawai (4.535 selaku anggota tim MKB dan 13.369 bukan anggota tim) untuk mengukur tingkat kesadaran dan kesiapan dalam empat tingkatan penilaian. Data kualitatif diperoleh melalui studi dokumen dan wawancara mendalam pada lokasi risiko tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesadaran pegawai berada pada kategori moderate high (rata-rata 3,13) dan relatif merata, namun kesiapan operasional lebih rendah (rata-rata 2,95), dengan kesenjangan yang lebih jelas antara anggota dan non-anggota tim. Temuan kualitatif menyoroti bahwa implementasi MKB telah meliputi pengelolaan risiko yang semakin terintegrasi, pemenuhan dokumen MKB dalam kondisi pra bencana sebagai mitigasi risiko, dan pelaksanaan simulasi serta sosialisasi telah dilakukan. Implikasi penelitian ini menunjukkan perlunya strategi penguatan, termasuk: 1) meningkatkan kepemimpinan dan budaya sadar risiko di seluruh lini organisasi, 2) memperluas dan memperdalam pelatihan berbasis simulasi dan pembelajaran pengalaman, dan 3) harmonisasi regulasi dan prosedur agar lebih adaptif dan responsif terhadap potensi gangguan. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam pengembangan literatur manajemen publik dan memberikan dasar kebijakan untuk meningkatkan ketahanan organisasi pemerintah dalam menghadapi disrupsi di masa mendatang.